Rabu, 17 Juni 2026 | 22:43
NEWS

Cerita Relawan Perempuan Satu-satunya yang Jadi Sopir Ambulans

Cerita Relawan Perempuan Satu-satunya yang Jadi Sopir Ambulans
Relawan Ika Dewi Maharani menceritakan pengalaman pertama kali menjadi supir ambulans. (Dok. BNPB)

ASKARA - Angka penyebaran virus corona (Covid-19) di Jakarta terus meningkat tidak seimbang dengan jumlah petugas medis.

Hal itu yang mengetuk hati Ika Dewi Maharani bergabung sebagai relawan medis. 

Ika Dewi berlatar belakang perawat menjadi satu-satunya relawan medis perempuan di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang ditugaskan menjadi sopir ambulans.

"Dengan keahlian yang saya miliki saya bisa menyetir, saya basic perawat. Jadi pas saya sesuai dengan panggilan hati dengan kemampuan yang saya punya saya harus melayani," jelasnya di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (16/4).

Ika Dewi berasal dari Maluku Utara dan tergabung dalam Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI). Dia menempuh pendidikan di Surabaya dan saat ini bertugas di rumah sakit Universitas Indonesia.

Menangani pasien di rumah sakit menjadi hal biasa bagi Ika Dewi namun mengantarkan pasien ke rumah sakit menjadi persoalan lain. Dia mengaku menjadi sopir ambulans merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.

"Untuk ambulans baru pertama kali di dalam hidup saya. Tapi ya gitu, ternyata di ambulans tidak semudah yang kita bayangin," tutur Ika Dewi.

Pengalaman membawa ambulans seperti sudah membunyikan sirine tapi orang-orang di sekitar tidak peka untuk memberikan jalan. Namun untungnya ada juga orang yang dengan kesadaran untuk memberikan jalan.

"Jadi kita tetap dengan cepat membawa pasien ke tempat yang dirujuk," cerita Ika Dewi yang menginap di mess yang disediakan BNPB. 

Mengemban tugas untuk mengantarkan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pasien positif Covid-19 membuat Ika Dewi berisiko besar terinfeksi.

Dalam menjalankan tugas, dia mengatakan safety adalah kunci utama. Menggunakan alat perlindungan diri (APD) menjadi wajib bagi Ika Dewi sebelum berangkat bertugas. Tidak hanya agar dirinya aman, melainkan agar para pasien juga tetap aman.

Meski telah mengenakan APD, sebagai manusia biasa, Ika Dewi punya perasaan takut. Namun semangat kemanusiaan yang dia rasakan jauh lebih tinggi.

"Rasa takut ada pasti cuma ini harus kita lihat lagi ini adalah tugas bagi kita sebagai relawan medis. Kita harus menangani pasien dari awal sampai akhir pasien, itu kita harus tangani," jelasnya.

Komentar