Selasa, 09 Juni 2026 | 04:05
NEWS

BMKG Pastikan Dentuman Bukan dari Aktivitas Anak Krakatau

BMKG Pastikan Dentuman Bukan dari Aktivitas Anak Krakatau
Erupsi Anak Krakatau yang terjadi tahun 2018 lalu. (Twitter)

ASKARA - Suara dentuman besar menghebohkan masyarakat yang terjadi pada Sabtu dini hari (11/4). 

Warganet di jagat maya menganggap dentuman tersebut berasal dari Gunung Anak Krakatau yang sedang mengalami erupsi. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa dentuman tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik erupsi Anak Krakatau. 

"Monitoring Tide Gauge, hasil monitoring muka laut menggunakan tide gauge di Pantai Kota Agung, Pelabuhan Panjang, Binuangen, dan Marina Jambu menunjukkan tidak ada anomali perubahan muka laut sejak 10 April 2020 pukul 21.00 tadi malam hingga pagi ini 11 April 2020 pukul 6.00 WIB," jelas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono. 

Adapun, dari Monitoring Radar Osean Wera bahwa muka laut menggunakan Radar Wera yang berlokasi di Kahai, Lampung dan Tanjung Lesung, Banten juga tidak menunjukkan adanya anomali muka laut sejak 10 April 2020 pukul 21.00 hingga 11 April 2020 pukul 6.00 WIB.

"Sehingga berdasarkan monitoring muka laut yang dilakukan BMKG menggunakan Tide Gauge dan Radar Wera menunjukkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau tadi malam tidak memicu terjadinya tsunami," kata Rahmat. 

Kemudian dari Monitoring Seismik, berdasarkan monitoring kegempaan yang dilakukan BMKG tepat pada saat terjadinya erupsi yaitu pukul 21.58 WIB dan pukul 22.35 WIB menunjukkan bahwa sensor BMKG tidak mencatat adanya aktivitas seismik. Sehingga erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini berdasarkan catatan sensor BMKG lebih lemah dibandingkan erupsi yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu.

Ada satu hal menarik terkait hasil monitoring seismik oleh BMKG, di mana pada pukul 22.59 hingga 23.00 WIB beberapa sensor seismik BMKG baik eksisting dan sensor baru yang dipasang tahun 2019 mencatat adanya event gempa di Selat Sunda dengan sangat baik. 

Sensor seismik BMKG tersebut adalah (1) CGJI (Cigeulis, Banten), (2) WLJI (Wonosalam, Banten), (3) PSSM (Pematang Sawah, Lampung), (4) LLSM (Limau, Lampung), (5) KASI (Kota Agung, Lampung), (6) CSJI (Ciracap, Jawa Barat), dan (7) KLSI (Kotabumi. Lampung)

Hasil analisis BMKG terkait gempa tersebut menunjukkan telah terjadi gempa tektonik di Selat Sunda pada pukul 22.59 WIB dengan Magnitudo 2,4 episenter terletak pada koordinat 6,66 Lintang Selatan dan 105,14 Bujur Timur tepatnya di laut pada jarak 70 kilometer arah Selatan Barat Daya Gunung Anak Krakatau pada kedalaman 13 kilometer.

Suara dentuman yang beberapa kali terdengar dan membuat resah masyarakat Jabodetabek maka sejak tadi malam hingga pagi hari ini pukul 06.00 WIB hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak terjadi aktivitas gempa tektonik yang kekuatannya signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. 

"Meskipun ada aktivitas gempa kecil di Selat Sunda pada pukul 22.59 WIB dengan Magnitudo 2,4 tetapi gempa ini kekuatannya tidak signifikan dan tidak dirasakan oleh masyarakat. Berdasarkan data tersebut maka BMKG memastikan bahwa suara dentuman tersebut tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik," tandas Rahmat. 

Komentar