Minggu, 07 Juni 2026 | 11:33
NEWS

WFH Bikin Sampah Ibu Kota Berkurang 620 Ton Per Hari

WFH Bikin Sampah Ibu Kota Berkurang 620 Ton Per Hari
Ilustrasi sampah di Jakarta. (Tempo)

ASKARA - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat penurunan jumlah sampah selama penerapan work from home (WFH) akibat wabah virus corona. 

Sejak Gubernur Anies Baswedan menerapkan kebijakan WFH pada 16 Maret, tonase sampah ke TPST Bantar Gebang berkurang secara signifikan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Andono Warih mengatakan, penurunan tonase atau berat sampah mencapai 620 ton per hari. 

Berat tersebut dihitung dari perbandingan rata-rata harian pada periode 1-15 Maret sebelum penerapan WFH dengan rata-rata pada 16-31 Maret.

"Kebijakan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah membuat sampah berkurang terutama dari sumber komersial seperti dari hotel, mall, restoran, perkantoran, dan tempat wisata," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (9/4).

Andono Warih mengimbau warga ibu kota agar lebih giat lagi melakukan pengurangan sampah. Terlebih dengan kondisi seperti sekarang ini di mana sebagian besar warga beraktifitas di rumah. 

"Kita dapat menerapkan tiga strategi pengurangan sampah yang sejak tahun lalu dikampanyekan di Jakarta yaitu program sampah tanggung jawab bersama atau samtama. Program tersebut menekankan aktifitas kurangi, pilah, dan olah sampah atau kupilah yang dilakukan oleh masyarakat sebagai penghasil sampah," jelasnya.

Strategi pengurangan sampah pertama yaitu strategi pintu depan pada tahap sebelum mengonsumsi. 

"Kita harus tahu dan sadar apa yang mau kita konsumsi sejak dalam pikiran. Jika itu menghasilkan sampah, tak akan kita pilih," kata Andono Warih.

Dia mencontohkan, setiap akan keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga harus membawa Kantong Belanja Ramah Lingkungan (KBRL) dan memakai masker kain yang dapat dipakai ulang dengan mencucinya. Sebelum berbelanja, wajib merencanakan dan mengetahui apa yang mau dibeli sesuai kebutuhan.

Kedua, strategi pintu tengah. Artinya semua sisa barang tidak buru-buru dibuang ke tempat sampah, misalnya dengan mengambil makanan tidak berlebihan sehingga berpotensi menjadi sampah. Jika ada pakaian tidak terpakai atau makanan berlebih dapat didonasikan kepada yang membutuhkan.

Ketiga, strategi pintu belakang yaitu bagaimana disiplin memilah sampah, misal sampah organik masuk ke komposter atau lubang biopori. Sampah anorganik yang dapat didaur ulang dikumpulkan sementara di rumah. Ketika wabah Covid-19 mereda dan situasi sudah relatif aman maka dapat ditabung di bank sampah terdekat. 

"Sampah anorganik seperti kaleng, botol, kardus bekas dapat disimpan sementara dan relatif aman karena tidak membusuk," ujar Andono Warih.

Dia pun berpesan, sumber daya harus digunakan dengan optimal, jangan ada yang mubazir. 

"Syukur-syukur kita dapat membantu tetangga atau masyarakat yang kesulitan secara ekonomi," harapnya.

Komentar