Mossad Salah Beli Alat Pendeteksi Corona
ASKARA - Badan Intelijen Israel Mossad telah membeli 100 ribu alat deteksi virus corona tetapi rupanya salah.
Menurut Kementerian Kesehatan Israel, alat yang dibeli bukan tipe yang tepat sehingga tidak bisa berfungsi.
"Sayangnya, apa yang kami terima tidak persis seperti yang kami butuhkan," kata Wakil Direktur Jenderal Kementerian Israel.
Mossad menanggapi hal itu dengan mengatakan "Kami akan memastikan kebutuhan melalui pelayanan kesehatan."
"Alat deteksi itu tidak memiliki cairan penting yang test swab diletakkan sebelum mereka diperiksa untuk Covid-19," kata juru bicara Magon David Adom.
Tanpa cairan yang dibutuhkan itu, pendeteksian tidak dapat dilakukan. Adom mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat ini menggunakan koneksinya di seluruh dunia untuk mencoba mendapatkan cairan yang dibutuhkan pada akhir pekan.
Misi Mossad untuk mendapatkan lebih banyak alat deteksi virus corona dilaporkan awal pekan ini oleh media Israel. Ynet melaporkan bahwa badan intelijen tersebut telah berhasil mendapatkan alat deteksi dari dua negara. The Jerusalem Post melaporkan bahwa Mossad telah memperoleh peralatan itu dengan persetujuan.
"Saya ingin berterima kasih kepada pasukan keamanan Negara Israel," ujar Dirjen Kementerian Kesehatan Moshe Bar Siman Tov tak lama setelah Mossad dikabarkan memperoleh alat deteksi.
Kementerian Kesehatan Israel ingin meningkatkan jumlah tes harian yang dilakukan di seluruh negeri. Israel memiliki 529 kasus Covid-19 yang sudah dikonfirmasi dengan 44 kasus lainnya di wilayah Palestina yang diduduki dan puluhan ribu orang sendirian. Sekitar seperempat dari kasus baru terdeteksi dalam 24 jam terakhir.
Dengan pemerintah Israel memberlakukan serangkaian langkah darurat untuk membendung penyebaran virus corona, Perdana Menteri Netanyahu sedang menghadapi tuduhan yang berkembang bahwa ia mengeksploitasi krisis untuk memperkuat kekuasaannya.
Netanyahu berhasil menunda persidangan kriminalnya, mengesahkan pengawasan elektronik terhadap pemukim ilegal Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yang paling kontroversial, pemerintah Israel menginstruksikan layanan keamanan bayangan internal Shin Bet untuk mulai menggunakan teknologi pengawasan telepon agensi untuk membantu mengekang penyebaran virus corona baru di Israel dengan melacak pergerakan orang yang terinfeksi.
Pada Rabu (18/3), Israel juga melarang masuknya warga asing kecuali yang memiliki tempat tinggal di negara Yahudi tersebut.
"Telah diputuskan bahwa mulai hari ini, warga negara asing yang bukan warga negara Israel dan yang tidak memiliki kewarganegaraan atau tempat tinggal Israel tidak akan diizinkan masuk ke Israel," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel. (hidayatullah/why)

Komentar