Saatnya Milenial Ikut Melestarikan Keris
ASKARA - Bangsa Indonesia patut berbangga memiliki keris sebagai budaya.
Mengingat UNESCO yang merupakan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengukuhkan keris Indonesia sebagai warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Daerah Istimewa Yogyakarta Budi Wibowo mengaku hobi mengoleksi keris. Karena benda pusaka itu mengandung nilai filosofi yang tinggi dan telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
"Jadi keris ini warisan dunia yang sudah diakui UNESCO. Jadi harus dilestarikan dan dikembangkan karena di dalam keris itu ada filosofi menyentuh kehidupan namanya pamor atau guratan," ujarnya saat berbincang dengan Askara.
Guratan pada keris itu muncul akibat percampuran dua atau lebih material logam yang berbeda. Seperti keris pamor beras wutah. Kondisi tersebut dalam pandangan masyarakat Jawa dianggap sebagai rezeki berlimpah.
"Misalnya pamor wos utah melambangkan bahwa kita ini mesti baik terhadap sesama. Jadi orang akhirnya percaya dengan mempunyai keris itu hubungan personal akan menjadi baik," terang Budi.
Selain itu, pamor udan mas memiliki makna filosofi yang cukup dalam yaitu melambangkan simbol butiran-butiran emas yang berpola seperti jatuhnya hujan. Serta pamor blarak sineret yang mempunyai makna tersendiri.
"Pamor udan mas. Mereka menganggap ada semangat motivasi dari dalam keris itu ada rezeki saya akan lebih mudah didapatkan. Kemudian ada blarak sineret itu melambangkan akan memotivasi untuk berkarya dan bekerja lebih baik," jelas Budi.
Tentu semuanya harus dilestarikan, lantaran apapun perkembangannya semua itu berangkat dari sebuah budaya. Seperti halnya cara berpakaian, pembuatan tas dan munculnya ponsel pintar.
"Semangat-semangat itu ada di filosopi keris. Nah keris mestinya dilestarikan," kata Budi.
Keris merupakan senjata tradisional yang sangat berperan dalam kehidupan manusia pada zaman dahulu hingga sekarang. Kebiasaan memanfaatkan sebagai senjata, benda berwasiat, dan kelengkapan upaca. Pembuatannya juga cukup lama.
"Saya melihat keris sekarang jauh dibanding dengan dulu karena keris sekarang tidak ubahnya seperti sebuah belati. Begitu dipegang tidak dibuat sedetail masa lalu, jadi tidak menarik lagi," beber Budi.
Bahkan jika yang terbiasa dengan keris, saat melihatnya sudah bisa mengetahui asal muasal keris tersebut. Namun yang penting generasi bangsa harus bisa menjaga warisan leluhur tersebut.
"Sudah tahu ini keris Majapahit, Pajajaran atau Mataram. Jangan itu kecolongan bahwa orang Belanda saja bisa mengusai tapi kita sendiri tidak ada, padahal budaya itu harus dilestarikan dan dikembangkan," demikian Budi.

Komentar