Kamis, 04 Juni 2026 | 06:08
NEWS

Upaya Menyejahterakan Masyarakat dengan Kawasan Ekonomi Khusus di Yogyakarta

Upaya Menyejahterakan Masyarakat dengan Kawasan Ekonomi Khusus di Yogyakarta
Kepala Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta, Budi Wibowo, saat berkunjung dan berbincang dengan redaksi Askara, (Askara/Aprilia Rahapit)

ASKARA - Provinsi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta segera memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Kawasan tersebut dibangun untuk memajukan masyarakat, di mana masih terdapat kemiskinan serta ketimpangan sosial yang masih kental.

Saat berbincang dengan Askara, Rabu (4/3), Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DI Yogyakarta, Budi Wibowo mengatakan, saat ini provinsi yang dipimpin Sri Sultan Hamengkubuwono X itu memiliki masalah kemiskinan dengan persentase lebih dari 10 persen.

"Yogja ada masalah kemiskinan yang tinggi 11,33 persen, kemudian yang kedua adalah ketimpangan wilayah, jadi di antara Yogja Utara dan Yogja Selatan itu sangat timpang sekali. Oleh karena itu pak Gubernur DIY (Sri Sultan Hamengkubuwono X), mencanangkan beberapa program untuk menyelesaikan kemiskinan dan ketimpangan wilayah itu dengan menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru," ujar Budi beberapa waktu lalu.

Salah satu titik-titik pertumbuhan ekonomi baru itu adalah dengan membangun KEK Wisata Samas yang berada di bagian selatan kota. KEK ini akan dirancang dengan perpaduan event-event internasional mulai dari pembangunan water stadium, show beach, hingga sirkuit.

Pembangunan pun akan melibatkan masyarakat, di mana mereka masuk dalam zona Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang merupakan satu paket dari KEK tersebut. Hal ini menjadi prioritas dalam upaya Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Terlebih, dua maskapai internasional sudah memberi lampu hijau melengkapi transportasi di Bandara Internasional Yogyakarta dan siap beroperasi waktu dekat. Sehingga laju pertumbuhan ekonomi dalam rencana itu dapat meminimalisir kemiskinan dan ketimpangan sosial.

"Nah, kebetulan di Yogja Selatan ada bandara internasional. Diharapkan bulan April penerbangan sudah. Ada dua maskapai internasional, Emirates dan Turki sudah oke. Nah bisa dipastikan 2021 akses internasional dari Yogja ke berbagai negara akan terjalin," ungkapnya. 

Tak hanya insfrastruktur udara, infrastruktur laut juga saat ini sedang digarap. Di mana, tahun 2021 menjadi target penyelesaian pembangunan dua fish spot and tourism yakni di Pelabuhan Tanjung Adikarto dan Pelabuhan Gesing Gunung Kidul. Pembangunan wisata bahari mendapat dukungan dari PT El Rose Brothers untuk mengangkat potensi ikan wilayah tersebut.

"Bagaimana bekerja sama, berkolaborasi dengan nelayan kita untuk mengambil potensi ikan laut yang ada di 40 mil (laut) itu," ucapnya. 

Budi Wibowo mengungkapkan, saat ini sedang menunggu keputusan Presiden untuk memutuskan KEK tersebut menjadi industri kreatif berbasis UMKM. Hal tersebut sejalan dengan 16 subsektor yang akan dikembangkan nantinya, seperti industri digital, desain, arsitektur, kuliner, dan lainnya. Pembangunan KEK tersebut diyakini tidak kalah dengan Amerika Serikat (USA) dengan kawasan Silicon Valley, di California.

"Jadi kalau di Amerika punya Silicon Valley kita juga di Yogja ada Silicon Valley-nya. Nah, kemudian itu kita ajukan dan ternyata dewan nasional (DPR RI) sangat senang, karena ini pertama kali di Indonesia," tutur Budi optimistis. 

Budi melanjutkan, dari 16 sektor tersebut, satu di antaranya sudah ditangani investor baru yakni sektor handy craft yang dikerjakan oleh ribuan ibu-ibu rumah tangga dari perdesaan. Saat ini, sudah ada 1.000 kepala keluarga (KK) yang diberdayakan. Bahkan, produksinya terus berjalan dan USA sudah menjadi langganan dari industri ini.

"Jadi satu KK itu satu orang kita ambil yang miskin untuk mengerjakan handy craft itu. Alhamdulillah satu bulan itu sudah kita ekspor 52 kontainer ke Amerika. Nah, yang di Amerika ini dipandu oleh Non Government Organization (NGO) yang tiap tiga bulan ke Yogja memberikan model-model ini dibutuhkan tiga bulan ke depan untuk diekspor," kata dia.

Saat ini, kata Budi, hasil produksi handy craft masih dikumpulkan di industri Piyungan. Setelah melalui proses akhir akan diekspor. Lantaran itu, dengan adanya KEK di Yogjakarta, maka prosesnya lebih mudah tanpa harus transit.

"Sementara karena belum ditetapkan KEK ekspor mereka melalui Semarang. Nah kita ingin itu jadi KEK, karena ingin proses ekspor mudah dan lancar," ucap Budi Wibowo.

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perdesaan (Kemendes) turut membantu berjalannya langkah perekonomian di DI Yogyakarta. Bantuan yang diberikan berupa pelatihan kepada para pelaku UMKM. 

"Dengan begitu KEK (terwujud) kita akan semakin mengembangkan itu, karena ini satu-satunya cara mengurangi kemiskinan secara riil," pungkasnya.

Komentar