Selasa, 14 Juli 2026 | 03:59
NEWS

Paus Menolak Politik Kekuasaan, Utamakan Pesan Injil

Paus Menolak Politik Kekuasaan, Utamakan Pesan Injil
Paus Leo XIV di Castel Gandolfo (Dok Vatican news)

ASKARA -  Di tengah berbagai persoalan global seperti perang, perdamaian, migrasi, hingga tantangan kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence), suara Paus tetap hadir bukan sebagai seorang penguasa politik, melainkan sebagai pemimpin spiritual yang menyerukan nilai kemanusiaan, kasih, dan perdamaian.

Sebagai Uskup Roma sekaligus pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus memang memiliki status sebagai kepala Negara Kota Vatikan, negara terkecil di dunia dengan luas kurang dari setengah kilometer persegi di tengah Kota Roma, Italia. Namun kedudukan tersebut bukan dimaksudkan untuk menjadikan Paus sebagai aktor politik, melainkan menjamin kebebasan penuh dalam menjalankan misi rohaninya.

Kedudukan Vatikan sebagai negara berdaulat lahir dari Perjanjian Lateran tahun 1929 yang mengakhiri persoalan panjang antara Gereja Katolik dan Italia terkait wilayah kepausan. Kesepakatan itu memberikan kedaulatan teritorial kepada Vatikan agar Paus dapat menjalankan tugasnya secara independen dari kepentingan negara mana pun.

Paus Paulus VI pernah menjelaskan makna tersebut dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 4 Oktober 1965. Ia menegaskan bahwa dirinya hadir bukan sebagai pemimpin negara yang ingin bersaing dengan negara lain, melainkan sebagai “saudara” yang ingin melayani umat manusia melalui tugas spiritual.

“Tidak ada kekuasaan duniawi, tidak ada ambisi untuk bersaing dengan Anda,” demikian pesan Paulus VI dalam pidatonya yang menegaskan bahwa peran utama Paus adalah melayani dengan kerendahan hati, kasih, dan ketulusan.

Sejarah Gereja juga mencatat bahwa berakhirnya kekuasaan politik kepausan setelah runtuhnya Negara Gereja pada 1870 justru membuat peran spiritual Paus semakin kuat. Kardinal Giovanni Battista Montini, yang kemudian menjadi Paus Paulus VI, menyebut masa tersebut sebagai kebangkitan kembali fungsi kepausan sebagai pengajar kehidupan dan saksi Injil bagi dunia.

Karena itu, ketika Paus berbicara tentang penghormatan terhadap kehidupan manusia, penghentian perang, perlucutan senjata, dialog antarbangsa, hingga penyelesaian konflik melalui perundingan, pesan tersebut tidak disampaikan sebagai kepala negara, melainkan sebagai gembala umat manusia.

Seruan Paus mengenai para migran juga berakar pada nilai kemanusiaan. Mereka dipandang bukan sekadar sebagai persoalan politik atau ekonomi, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak untuk dihormati.

Demikian pula ketika Paus mengingatkan pentingnya perhatian kepada kaum miskin, keadilan sosial, kebebasan beragama, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup, seluruh pesan tersebut merupakan bagian dari ajaran sosial Gereja yang berlandaskan kasih dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam dunia yang semakin kompleks, Gereja melihat peran Paus bukan sebagai penguasa yang mengejar pengaruh politik, tetapi sebagai suara moral yang mengingatkan manusia agar tidak kehilangan nilai kemanusiaannya.

Pesan utama seorang Paus, sebagaimana ditegaskan sepanjang sejarah kepausan, tetap sederhana namun mendalam: membawa pesan Injil tentang kasih, persaudaraan, perdamaian, dan harapan bagi seluruh umat manusia.

 

Komentar