Selasa, 14 Juli 2026 | 06:15
NEWS

Konflik Gaza Memanas, Israel Serang Hamas

Konflik Gaza Memanas, Israel Serang Hamas
Ilustrasi situasi memanas di Gaza dan diplomasi yang baru dimulai (Dok Gemini)

ASKARA - Konflik di Jalur Gaza kembali memanas setelah serangan udara Israel menewaskan sedikitnya lima orang dalam rangkaian serangan yang masih berlangsung setiap hari di wilayah tersebut.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi serangan di kawasan Sabra, Kota Gaza, dengan menyebut sasaran yang dihantam merupakan lokasi produksi senjata milik Hamas yang disebut masih aktif beroperasi. Israel menyatakan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Hamas memulihkan kemampuan operasionalnya di tengah proses perundingan yang sedang berjalan.

Namun, hingga kini militer Israel belum memberikan konfirmasi terkait laporan serangan lain terhadap sebuah kamp pengungsian di Nuseirat. Dalam laporan tersebut disebutkan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun menjadi korban meninggal dunia.

Situasi di Gaza terjadi ketika upaya diplomasi kawasan terus berjalan. Perhatian internasional kini juga tertuju pada rencana pembicaraan baru antara Israel dan Lebanon yang dijadwalkan berlangsung di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Roma, Italia, pada 14–15 Juli.

Delegasi Israel dan Lebanon dilaporkan telah tiba di ibu kota Italia untuk mengikuti pembahasan yang difokuskan pada rencana pembentukan dua zona percontohan di wilayah Lebanon selatan.

Dalam skema tersebut, pasukan Israel diharapkan melakukan penarikan dari wilayah tertentu dan menyerahkan pengawasan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon. Namun, langkah itu disebut bergantung pada kesediaan kelompok Hizbullah untuk meninggalkan kawasan tersebut.

Sementara itu, dinamika politik dalam negeri Israel juga mulai memasuki babak baru menjelang pemilihan parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang.

Parlemen Israel (Knesset) dijadwalkan dibubarkan secara resmi pada Jumat sebagai tanda dimulainya masa kampanye politik. Pemilu kali ini menjadi perhatian besar karena merupakan pemilihan pertama sejak 1988 yang digelar setelah satu periode penuh masa jabatan parlemen berakhir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan kembali mencalonkan diri untuk mempertahankan kekuasaan. Menjelang pemilihan internal Partai Likud pada 4 Agustus, Netanyahu terus menyerukan pembentukan “pemerintahan nasional yang luas”.

Sejumlah laporan media menyebut pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginginkan terbentuknya pemerintahan Israel yang tidak melibatkan kelompok sayap kanan ekstrem.

Perkembangan konflik Gaza, hubungan Israel-Lebanon, serta dinamika politik domestik Israel menjadi rangkaian isu yang saling berkaitan dalam menentukan arah keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah ke depan.

 

Komentar