Menjaga Hati dengan Hati-hati
ASKARA - Menjaga hati untuk tetap sehat bukan hanya kepada urusan fisik semata yang berhubungan dengan liver. Hati secara rasa ini jauh lebih penting untuk dijaga. Seperti kita tahu bahwa stres menimbulkan berbagai penyakit. Orang banyak mengatakan bahwa stres timbul dari pikiran, nah sebelum sampai pada otak yang berpikir maka pertama yang menerima sinyal sebetulnya adalah rasa.
Dari mata turun ke hati kata orang yang jatuh cinta, tapi nyatanya kalau dirasa-rasakan bukan hanya urusan cinta. Semua hal yang kita lihat dan dengar turun ke hati sebagai rasa lalu menuju pikiran untuk disikapi.
Menjaga hati di zaman modern ini sungguh tidak mudah. Meski kita tidak ke luar rumah, pertengkaran bisa terjadi, kesedihan juga bisa tiba-tiba menghampiri, emosi pun meledak tanpa henti. Karena zaman internetan segala dimudahkan, bisa ngegosip, ngerumpi dan termasuk berita dari manapun bisa kita dapatkan, kita lihat, dengar dan bagikan. Perasaan hati mudah dipermainkan dan bikin tidak tenteram. Maka sebaiknya jangan ikut-ikutan.
Sebagai contoh satu kasus saja, begitu mudahnya kita merasa kasihan pada berita yang kita lihat atau terima seputaran penderitaan seseorang, timbul ingin segera mengirim bantuan walaupun mungkin hanya doa dalam komentar sebagai rasa empati. Terenyuh, iba dirasakan, tidak jarang dana pun diluncurkan sebagai bagian rasa kemanusiaan.
Tapi begitu ada berita lain bahwa berita yang kemarin membuat hati terenyuh itu tidak benar, hoax hasil plintiran maka dengan mudahnya juga ikut marah, walaupun itu juga hanya komentar. Tapi sakit hati, penyesalan, marah, kecewa, caci maki dilontarkan.
Tiba-tiba keesokan harinya ada konfirmasi bahwa berita yang pertama itu adalah kondisi yang sebenarnya. Maka mulailah bingung menata dan menempatkan perasaan tapi semua dari yang baik hingga buruk sudah terlanjur dirasakan dan diucapkan. Terlanjur iba, terlanjur marah lalu menjadi bingung tanpa arah. Yang jelas, telah mempermainkan dan menyakiti hati sendiri.
Perasaan ini memang mudah dipermainkan. Manusia itu mudah terbawa, ya terbawa perasaan, jadi mudah iba dan sebaliknya mudah marah berlebihan hanya karena suatu berita yang sebetulnya tidak tahu kebenarannya.
Apakah sang pembuat atau yang membagikan berita itu salah?
Mari kita kembali pada diri sendiri. Ini zaman milenial, apapun bisa dibuat, diedit dan dikondisikan sesuai keperluan. Maka itu jangan mudah percaya. Kesalahan itu bukan pada orang lain, diri kitalah yang kurang berhati-hati untuk menyikapi dan menanggapi. Terlalu cepat bereaksi jadi galau di hati.
Katakan dalam kasus ini ingin membantu yang mana membantu dipercayai akan mendapat berkah dan pahala karena dianggap sedekah maka bantulah orang-orang terdekatmu, orang yang betul-betul kamu tahu membutuhkan uluran tanganmu. Tidak perlu jauh-jauh. Agar tidak tertipu.
Setelah itu lupakan karena itu harus kamu lakukan. Tulus ikhlas kata orang, jadi saat kau temukan ketidakbenaran maka tidak perlu marah dan kecewa. Itu sudah bukan urusanmu lagi. Agar tidak jadi beban di hati.
Ada petuah yang pernah kudengar "Ojo ngilingi pitulunganmu marang liyan, luwih becik ilingono pitulungane liyan marang awakmu" artinya jangan mengingat pertolongan apapun yang pernah kamu berikan, lebih baik mengingat pertolongan orang lain pada dirimu.
Pesan yang bisa kita tangkap di sini adalah agar kita selalu ingat balas budi pada orang lain dan bersyukur karena yang harus kita ingat adalah kebaikan orang lain pada diri kita dan melupakan apapun bentuk bantuan yang telah kita berikan agar tidak ada harapan yang menimbulkan rasa kecewa, apalagi mengungkit-ungkit dan berharap pahala. Karena yang terjadi tidak selalu seperti yang kita harapkan dan pikirkan.
Itulah petuah zaman dulu agar hati kita terjaga dan bisa tenteram. Jagalah hati agar tidak tersakiti dengan berlaku hati-hati.

Komentar