Senin, 08 Juni 2026 | 12:56
NEWS

Ma'ruf Amin Hanya Simbol, Wajar Surveinya Rendah

Ma'ruf Amin Hanya Simbol, Wajar Surveinya Rendah
Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah/(Aprilia Rahapit-Askara)

ASKARA - Indo Barometer merilis tingkat kepuasan masyarakat terhadap Ma'ruf Amin bahkan tidak mencapai angka 50 persen, tepatnya 49,6 persen responden yang puas dengan kinerja Ma'ruf Amin. Sementara, 37,5 persen responden menyatakan tidak puas.

Jika dibandingkan dengan Jusuf Kalla (JK), dalam surveinya pada tahun 2015 lalu, JK mendapatkan respon puas sebanyak 53,3 persen dan yang tidak puas sebanyak 38,8 persen.

Indo Barometer juga merilis survei Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto  memperoleh persentase tertinggi dalam dua kategori, yakni menteri paling dikenal publik dan menteri dengan kinerjanya bagus.

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menanggapi hal itu dengan membandingkan dengan Prabowo saat mencalonkan presiden pada 2019 lalu.

"Ya, karena survei capres pun Prabowo nomor dua. Jadi wajar kalau survei menterinya nomor satu," ungkap Fahri di Hotel by Plataran, di Kawasan GBK, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Fahri juga membandingkan kinerja Amin dengan JK, Fahri mengatakan bahwa sosok Amin berbeda dengan JK, di mana Ma'ruf yang menjadi pendamping Joko Widodo saat ini hanyalah simbolik. 

"Kalau menurut saya tugas pak Mar'uf itu simbolik aja. Jadi dia menjaga simbol partisipasi kelompok Islam di dalam pemerintahan dan itu yang harus beliau jaga gitu," ungkap Fahri. 

Menurut Fahri, Ma'ruf Amin tidak usah terlalu terlibat teknis pemerintahan, tapi menjaga harmoni di antara pemerintahan. 

"Dengan masyarakat secara umum dan khususnya kalangan santri dan kalangan islam," ujarnya.

Dia menilai, tupoksi sebagai Wapres dalam tradisi demokrasi Indonesia hanyalah sebagai cadangan. Namun demikian, wapres memiliki kekuatan yang tinggi dan tidak bisa diganti.

"Dia kuat sekali dan kekuatannya itu bisa membuat dia punya mainstream karena itu menurut saya, saya mendorong pak Ma'ruf itu membawa mainstream rekonsiliasi yang sudah dipidatokan pak Jokowi waktu pelantikan. Jadi pak Mar'uf itu harusnya simbol rekonsiliasi," ungkap pendiri Partai Gelora ini.

Dengan kata lain, Ma'ruf tidak perlu terlibat terlalu teknis dalam mewakili Jokowi, yang disebut Fahri bisa melelahkannya. Lebih baik Ma'ruf menjadi penengah dan menjadi pendamai pada konflik yang memecah belah bangsa.

"Lebih baik dia jaga aja pikiran supaya bangsa ini jangan bertengkar gitu loh. Karena itu saya mendorong pak Ma'ruf jangan berpihak, kalau bisa dia ambil jalan tengah dari pikiran-pikiran yang moderat gitu jadi dia jangan mengambil titik ekstrem dari pikiran itu. Itu peran yang paling baik ya," jelasnya. 

Selain itu, Ma'ruf juga lebih baik mengedepankan kekuatan bapak bangsa terlebih periode ini merupakan tahun terakhir bagi keduanya. Sehingga masa akhir jabatan Jokowi dan Mar'uf juga dapat terhindar dari adanya konflik berarti.

"Jadi saya kira jangan sampai pak Jokowi-Ma'ruf itu berakhir dengan konflik, saya berharap sekali mereka berakhir dengan rekonsiliasi dan karena itu menyiapkan tangga bagi pemerintahan yang akan datang, demokrasi kita tahun 2024 memulai era betul-betul bersatu kita dalam mengisi pembangunan. Jadi perannya itu peran menjadi payung, jangan menjadi manajer, capek jadi manajer itu," tandasnya. 

 

Komentar