Teka-teki Guru untuk Jadi Biksu (3)
ASKARA - Sejauh-jauh burung terbang pasti menemukan jalan kembali.
Pribahasa itu cocok menggambarkan perjalanan spiritual Patrick, bule asal Belgia yang sudah lama menetap di Indonesia. Meski belajar menjadi biksu di Tibet, Pegunungan Himalaya tapi hatinya menuntun kembali pulang ke Yogyakarta.
Menjalani serangkaian meditasi sehingga memutuskan untuk menjadi biksu baginya bukan hal mudah. Konsekuensinya harus meninggalkan segala urusan duniawi. Prosesi meditasi ini yang menuntun Patrick menemukan seorang guru untuk menjadi biksu.
"Meditasi samatha yaitu introspeksi, kontemplasi sampai penyatuan masuk ke kosongan dan menyatu dengan sesuatu yang lebih jauh. Saya langsung mengatakan langsung mau jadi biksu," jelas Patrick dalam dialog di channel Youtube Surya KKS.
Patrick meminta izin pada sang istri bahwa tekadnya menjadi seorang biksu sudah sangat kuat. Kebetulan istrinya ikut bermeditasi di Tibet bersamanya. Mereka akhirnya menentukan jalan masing-masing
"Saat itu saya selalu tanya ke istri, dia bilang oke karena dia juga ikut retret. Dia bilang kamu jadi biksu saya jadi yugi (orang suci). Dia juga belajar yoga di India," jelasnya.
Tak berselang lama, Patrick menemui seseorang yang berada di depannya. Patrick menyampaikan keinginan menjadi biksu pada orang tersebut dan mendapat dukungan penuh.
"Bahwa ini adalah keputusan yang berat dan betul-betul matang diambil karena jangan sampai menyesal. Saya bilang coba setahun jadi biksu nanti kita lihat," ucapnya.
Patrick berjanji dengan sepenuh hati akan mendedikasikan hidupnya untuk tempat peribadatan vihara. Melihat keseriusan Patrick orang tersebut mengenalkannya pada senior Dalai Lama.
"Dia penasihat langsung Dalai Lama. Jadi bisa dibilang secara trah spiritual lebih tua dia dari Dalai Lama sendiri. Maka saya disuruh audiens sama guru itu untuk konseling dan menasehati saya," cerita Patrick.
Pertemuannya cukup singkat. Keputusan Patrick juga mendapat dukungan. Kala itu usia Patrick 37 tahun tapi niatnya sudah mantap menjadi biksu. Usai pertemuan, ada hal yang membuatnya terkejut sekaligus membingungkan.
"Dia dukung saya mendedikasikan hidup. Tapi kata dia bukan di sini dan bukan dengan kita belajar menjadi biksu," tutur Patrick terkejut.
Awalnya Patrick mengira akan dibimbing menjadi biksu oleh mereka di Tibet. Ternyata mereka mengusulkan pilihan lain dan memberi petunjuk kepadanya. Petunjuk itu untuk menemukan seorang guru.
Tapi mereka tidak mengenal seseorang yang digambarkan untuk menjadi guru Patrick karena dirinya sendiri yang mengenal sosok guru tersebut. Rasa keingintahuan itu membuat Patrick terus berpikir.
"Dia bilang di belakang anda ada wajah dan di belakangnya lagi ada wajah. Tapi wajah yang pertama itu guru pertama anda yang berada di suatu tempat," ungkapnya.
Akhirnya mereka meminta Patrick membakar dupa. Asapnya harus membumbung tinggi boleh terhalang dengan atap atau apapun. Patrick mulai membakarnya di malam hari. Teka-teki tentang guru pembimbing biksu itu terungkap.
Awalnya Patrick mengira ini halusinasi. Dirinya menyingkirkan pandangan dan beranggapan tidak mungkin. Sampai beberapa kali wajah guru itu tergambar sangat jelas semakin dekat dengan sorot mata yang tajam.
"Saya pasang tiga alat dupa dan hening untuk mencari tahu. Ternyata aku tahu orang itu, orang Jogja, Mas Joko," beber Patrick.
"Berarti aku harus balik ke jawa. Artinya masa depan spiritual saya menjadi biksu tanpa seragam (pakaian biasa) akan terjadi di Jawa," kata Patrick.

Komentar