Minggu, 14 Juni 2026 | 15:56
NEWS

Praktisi Spiritual R. Ngt Arini Ajak Masyarakat Gali Kembali Kearifan Leluhur Nusantara

Praktisi Spiritual R. Ngt Arini Ajak Masyarakat Gali Kembali Kearifan Leluhur Nusantara
Ilustrasi Praktisi spiritual R. Ngt Arini, mengajak masyarakat untuk kembali membuka ruang perenungan terhadap warisan budaya dan kearifan leluhur Nusantara. (Dok Askara)

ASKARA - Praktisi spiritual R. Ngt Arini, yang juga Ketua DPW Banyumas Raya Paguyuban Mataram Binangun Nuswantoro (PMBN), mengajak masyarakat untuk kembali membuka ruang perenungan terhadap warisan budaya dan kearifan leluhur Nusantara. Menurutnya, bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan peradaban yang besar, namun sebagian masyarakat mulai melupakan jati diri dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Pernyataan tersebut disampaikan R. Ngt Arini saat berbagi pandangan mengenai pentingnya memahami situs-situs kuno, makam leluhur, serta hubungan manusia dengan alam dan sejarah.

"Ketika berjalan menelusuri makam dan tempat-tempat kekunoan dengan batin yang hening, tanpa meminta apa pun dan tanpa mengharapkan apa pun, kita akan melihat kebesaran masa silam. Jangan sampai terdoktrin bahwa bangsa ini lemah. Tidak. Yang terjadi adalah banyak orang melupakan jati diri dan kekuatan leluhurnya sendiri," ujar R. Ngt Arini.

Menurutnya, berbagai pengetahuan dan kearifan yang dimiliki para leluhur tidak selalu dapat dijelaskan dengan pendekatan material semata. Ia mencontohkan kisah Raden Joko Saputra, keturunan RM Mertadiwangsa dan Danurejo I yang hidup sekitar abad ke-19, yang dalam tradisi lisan Jawa dikenal memiliki kemampuan spiritual tinggi melalui penguasaan ilmu "Alang-alang Bundel".

Meski demikian, R. Ngt Arini menekankan bahwa inti dari berbagai kemampuan tersebut bukanlah hal-hal yang bersifat mistis semata, melainkan pencapaian kondisi batin yang hening atau suwung, sehingga manusia mampu hidup selaras dengan alam dan memahami hakikat kehidupan.

"Ketika manusia mencapai suwung, maka akan terjadi banyak hal yang di luar nalar biasa. Semua itu bukan untuk dipertontonkan, melainkan bagian dari perjalanan spiritual dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta," katanya.

Ia juga menyoroti keberadaan batu-batu kuno, pepohonan tua, dan tata ruang peninggalan leluhur yang menurutnya mengandung nilai filosofis serta perhitungan keseimbangan alam yang diwariskan secara turun-temurun.

"Ada makna dan resonansi energi yang dipahami para leluhur sehingga alam menjadi subur, musim berjalan sesuai, dan kehidupan masyarakat berlangsung harmonis. Karena itu, batu-batu kuno maupun pohon-pohon tua tidak sepatutnya dipindahkan atau diubah fungsinya secara sembarangan tanpa kajian yang mendalam," ujarnya.

Menurut R. Ngt Arini, para pemerhati budaya, spiritualis, maupun pihak terkait perlu lebih bijak dalam melakukan penataan kawasan-kawasan bersejarah dan situs kekunoan. Ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik tanpa memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya justru berpotensi merusak keseimbangan lingkungan dan warisan budaya.

"Belajarlah kembali kepada alam. Belum tentu semua yang dibangun di lokasi-lokasi kuno akan membawa kebaikan. Yang dibutuhkan adalah keharmonisan antara manusia, budaya, dan alam," katanya.

Di akhir pesannya, R. Ngt Arini mengajak masyarakat untuk kembali mempelajari warisan leluhur secara bijaksana dan tidak terjebak pada fanatisme yang berlebihan maupun orientasi kehidupan yang semata-mata bersifat material.

"Mulailah membuka kembali ingatan masa silam, pelajari kearifan leluhur, dan pahami hakikat perjalanan manusia. Rahayu, rahayu, rahayu. Sangkan paran dumadi," tuturnya.

Pandangan tersebut, menurut R. Ngt Arini, merupakan bagian dari upaya merawat identitas budaya bangsa sekaligus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para pendahulu.

 

Komentar