Biaya Formula E Dua Kali Lebih Besar, Pemprov DKI Siap Diaudit
ASKARA - Politisi PDI Perjuangan Gilbert Simanjuntak mengaku heran dengan penyelenggaraan Jakarta ePrix Formula E 2020 yang akan berlangsung pada 6 Juni mendatang.
Menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan ajang balap mobil itu dua kali lipat lebih besar dibandingkan penyelenggaraan Formula E di Hongkong.
Gilbert mengatakan, Formula E Holding sebelumnya sudah menyelenggarakan racing mobil listrik di Malaysia, Hongkong, Amerika Serikat, Kanada dan Inggris. Besarnya anggaran pelaksanaan balapan saat itu di Hongkong sebesar HKD 250-300 juta atau setara Rp 540 miliar dengan kurs saat ini dan mengalami defisit.
"Sementara anggaran yang dialokasikan DKI untuk racing ini sebesar Rp 1,6 triliun. Dari besaran anggaran tidak bisa dengan jelas ditangkap mana yang jadi leading sector untuk kegiatan ini karena dana paling besar dipegang oleh Jakarta Propertindo yang bisnis utamanya infrastruktur. Padahal target adalah menaikkan jumlah turis ke Jakarta/Indonesia," jelasnya, Rabu (12/2).
Dengan nilai tersebut juga menjadi pertanyaan besar bagi Gilbert mengapa biaya yang dikeluarkan menjadi dua kali lipat lebih besar.
"Hal yang menjadi pertanyaan besar adalah apa yang membedakan biaya penyelenggaraan di Jakarta dua kali lipat biaya di Hongkong, sementara bahan untuk membangun ada di Indonesia. Apa dasar biaya penyelenggaraan di Jakarta membengkak dua kali lipat biaya di luar negeri," ujarnya.
Lanjut Gilbert, Formula E Holding seharusnya juga memberi kontribusi kepada kegiatan ini seperti yang dilakukan di negara lain. Dan sejak berdiri tahun 2014, Formula E Holding juga dinilai masih merugi.
"Sudah dicoba mencari data hingga saat ini tidak diketahui apa saja yang menjadi tanggung jawab DKI dan Formula E Holding. Bagaimana rencana pengelolaan sirkuit, track setelah kegiatan ini selesai juga tidak ditemukan. Tentunya ini akan membutuhkan pemeliharaan yang tidak sedikit," paparnya.
Kerugian tersebut bercermin dalam perhelatan Formula E di Montreal, Kanada tahun 2016-2017. Bahkan, Moskow sendiri membatalkan ajang balap itu karena penyelenggaraan acara selama dua hari akan membuat kota tersebut makin macet dan dianggap tidak rasional.
"Jakarta sebagai salah satu kota termacet di dunia akan mengalami dampak kemacetan luar biasa selama dua hari. Anggaran yang sangat besar dengan proyeksi untung di tahun ketiga apabila berturut-turut setiap tahun diselenggarakan," jelas Gilbert.
Dengan demikian, Gilbert memberikan opsi, di mana dengan waktu yang sisa beberapa bulan sebelum 6 Juni sekaligus. Karena anggaran yang dinilai terlalu besar dengan potensi dampak kemacetan maka sebaiknya dilakukan di sirkuit yang sudah ada seperti Sentul.
"Pembangunan podium permanen di tengah kota juga terasa aneh. Saat balapan di Hongkong 2016 dihasilkan untung sebesar 50 juta dolar Hongkong atau Rp 88,3 miliar. Sementara (Gubernur) Anies menyatakan akan dapat meraup untung sebesar Rp 50 miliar. Balapan Hongkong 2017 juga defisit," kata mantan wakil rektor UKI itu.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah mengatakan siap untuk diaudit jika biaya penyelenggaraan untuk perhelatan balap Formula E dinilai mengganjal.
"Dihitunglah. Pekerjaan itu berjalan saja, pada akhirnya ada audit, internal maupun eksternal. Internal inspektur, eksternal bisa BPK, BPKP kalau diminta. Jadi mas juga boleh lakukan pengawasan kalau dianggap ada sesuatu yang perlu diawasi," imbuhnya.

Komentar