Kenali Mitos-mitos Penyebaran Virus Corona
ASKARA - Wabah virus corona yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok cukup membuat dunia terkejut.
Pasalnya, jumlah kasus dan korban jiwa akibat virus yang disebut sebagai 2019-nCoV ini terus meningkat dari hari ke hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 4 Februari melaporkan virus corona telah menginfeksi 20.630 orang dan memakan 425 korban jiwa.
Jumlah kasus dan korban jiwa yang semakin meningkat tentu membuat masyarakat semakin waspada. Selain itu, para tenaga kesehatan masih mencoba berbagai upaya untuk menangani pasien yang jumlahnya terus bertambah meski belum ditemukan obat untuk mengatasi corona.
Selain itu, beberapa temuan yang kebenarannya belum diketahui juga beredar di media sosial. Kemudian berlanjut sebagai mitos corona.
Karena itu, WHO memulai kampanye tentang fakta dan mitos seputar corona.
Berikut mitos yang beredar di kalangan masyarakat selama ini;
1. Corona dapat menyebar lewat paket atau barang
Salah satu mitos seputar virus corona yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah dapat menular melalui paket atau surat yang berasal dari Tiongkok.
Mitos yang satu ini didapat karena masyarakat sering membeli barang dari Asia khawatir bahwa barang mereka terkontaminasi oleh virus. Faktanya, menerima paket atau barang dari negara Asia terutama juga Tiongkok termasuk aman.
Menurut CDC, virus corona memiliki kemampuan bertahan yang cukup rendah pada permukaan suatu barang. Kemungkinan risiko penularan dari produk yang dikirim memang ada tetapi cukup rendah, terutama ketika disimpan tanpa disentuh selama beberapa hari.
Belum ada penelitian atau bukti dari mitos virus corona terkait barang impor. Yang perlu diingat bahwa risiko penyebaran virus paling tinggi berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin.
2. Minum alkohol dapat menyembuhkan corona
Selain dapat menular lewat paket atau barang dari negara yang terinfeksi, mitos lainnya adalah alkohol yang dapat menyembuhkan infeksi virus corona.
Kabar ini cukup populer mengingat nama virus itu sering dihubungkan dengan merek minuman beralkohol. Padahal, virus dan minuman beralkohol ini tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Fakta tersebut didukung oleh pernyataan dari Susan Philip, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Depkes San Fransisco. Menurutnya, penyembuhan atau penyebab virus corona tidak berhubungan dengan konsumsi alkohol.
Alkohol dapat membunuh bakteri dan virus ketika digunakan dalam bentuk hand sanitizer atau sabun antiseptik. Penggunaan hand sanitizer yang mengandung 60 persen alkohol untuk mencuci tangan dapat membantu mencegah infeksi virus corona.
3. Vaksin pneumonia efektif untuk virus corona
Salah satu gejala dari terinfeksi virus corona yang cukup berbahaya adalah pneumonia, seperti kesulitan bernapas. Akibatnya, banyak orang yang mengira bahwa vaksin untuk melawan pneumonia dapat digunakan untuk virus corona. Mitos ini ternyata salah besar.
Fakta sebenarnya, vaksin untuk pneumonia seperti pneumokokus atau Haemophilus influenza tipe B (HiB) tidak dapat melindungi tubuh dari virus corona.
Walaupun vaksin pneumonia bukan menjadi jawaban untuk perlindungan dari virus corona namun mendapatkan vaksin terhadap penyakit pernapasan tetap dianjurkan Agar dapat melindungi kesehatan meskipun tidak terkena virus corona.
4. Konsumsi bawang putih mencegah infeksi
Selain alkohol, mitos lainnya terkait penyembuhan virus corona adalah dengan mengonsumsi bawang putih.
Bawang putih memang memiliki segudang manfaat baik untuk kesehatan karena kandungan senyawa anti bakteri yang cukup tinggi di dalamnya. Mulai dari menjaga kesehatan jantung hingga menurunkan risiko kanker paru.
Akan tetapi, sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa bawang putih dapat mencegah infeksi virus corona.
5. Dapat menular melalui pandangan mata
Salah satu mitos mengenai penularan virus corona dapat terjadi melalui pandangan mata. Namun kabar itu sama sekali tidak benar.
Faktanya, penyebaran virus corona kemungkinan besar berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. Apabila seseorang berada dalam jarak penularan virus yaitu sekitar dua meter maka risikonya semakin tinggi.
Oleh karena itu apabila mendapatkan kabar atau mitos seputar virus corona yang cukup kontroversial disarankan untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Agar kita tidak turut berpartisipasi menyebarkan berita yang mungkin saja tidak benar dan menambah kepanikan.

Komentar