Om Piet Bagikan Pengalaman Terapi Lansia di Gereja Jakarta Timur
ASKARA - Praktisi terapi pijat dan akupresur Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet kembali membagikan pengalaman kemanusiaannya dalam membantu warga yang mengalami gangguan kesehatan melalui terapi alternatif berbasis pijatan titik tubuh dan aliran energi.
Kegiatan tersebut berlangsung di area basement sebuah gereja di Jakarta Timur yang selama ini menjadi tempat berkumpul para lansia untuk menjaga kesehatan. Menurut Om Piet, selain menjalani pengobatan medis, banyak warga juga mencoba terapi alternatif sebagai upaya pemulihan.
“Di situ banyak lansia berkumpul, saling menguatkan dan mencari harapan untuk sehat,” ujar Om Piet dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026).
Salah satu pengalaman yang ia ceritakan adalah saat membantu seorang pria berusia sekitar 30 tahun berprofesi sebagai pengacara. Pria tersebut datang dalam kondisi lemah dengan kadar asam urat tinggi, lutut bengkak, serta kesulitan berjalan hingga harus dipapah istrinya.
Kedatangan pasien itu bermula dari permintaan sang ibu yang sebelumnya mengaku telah merasakan manfaat terapi Om Piet.
“Anaknya datang dengan kondisi pucat, pinggang sakit, dan tubuh lemah. Saat terapi berlangsung sekitar 10 menit, reaksinya mulai muncul,” jelasnya.
Om Piet mengatakan pasien sempat mengalami kondisi lemas dan pandangan berkunang-kunang hingga tampak hampir pingsan. Menurutnya, hal tersebut merupakan respons tubuh terhadap terapi yang sedang dijalankan.
“Saya melihat ada kemungkinan persoalan di jantung dan aliran darahnya. Setelah terapi dilanjutkan di beberapa titik tubuh, kondisinya perlahan membaik,” katanya.
Tak lama kemudian, pasien disebut sudah bisa duduk dan berjalan lebih stabil menuju mobilnya.
Selain itu, Om Piet juga menangani seorang lansia berusia 72 tahun yang memiliki riwayat penyakit jantung, lambung, dan stroke. Saat menjalani terapi, pasien tersebut juga mengalami muntah dan sempat tidak sadarkan diri.
Namun setelah kondisi kembali stabil, lansia tersebut dikabarkan mampu pulang dengan mengendarai sepeda motor bersama istrinya.
“Reaksi seperti mual, muntah, lemas, atau pingsan sering dianggap bagian dari respons tubuh saat organ-organ mulai aktif kembali,” ujar Om Piet.
Ia menambahkan, suasana terapi di lokasi tersebut dipenuhi semangat saling mendukung antarpeserta, terutama para lansia yang datang untuk mencari kesembuhan.
“Mereka saling menyemangati. Ada yang bilang, ‘tahan sedikit sakitnya, nanti sehat’,” tuturnya.
Meski demikian, Om Piet menegaskan terapi yang dilakukannya bukan pengganti penanganan medis, melainkan upaya pendamping untuk membantu pemulihan tubuh.
Kisah-kisah tersebut, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya semangat berbagi dan saling mendukung di tengah berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
“Selagi masih bisa, mari berbagi dan membantu sesama,” pungkasnya.

Komentar