Mahasiswa Indonesia di Wuhan: Kami Ingin Pulang
ASKARA - Sebanyak 93 Mahasiswa Indonesia di Wuhan Provinsi Hubei, China, hingga saat ini masih membatasi diri untuk keluar asrama. Mereka pun menanti untuk segera dievakuasi.
Salah satu mahasiswa Central China Normal University Wuhan jurusan Doktoral Psikologi Pendidikan bernama Fadil menceritakan kondisi di Wuhan, Rabu (29/1) kemarin.
"Harapannya saya dan teman-teman segera dievakuasi ya. Kami tidak mau terjangkit virus, kami ingin pulang," ungkapnya kepada Askara.
Di tengah kondisi menjalarnya virus corona, Fadil dan rekan-rekannya juga terus menyimak perkembangan pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan virus corona terhadap para WNI di China.
Saat ini, Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan strategi evakuasi seluruh WNI di China, bersamaan dengan TNI Angkatan Udara (AU) yang akan mengangkut para WNI di Wuhan dengan menggunakan dua Boeing B737 dan satu unit C130 hercules.
"Terkait wabah virus Korona 2019-nCoV di Wuhan, China, hasil rapat @PolhukamRI @Kemlu_RI @KemenkesRI, TNI AU telah menyiagakan 2 unit Boeing B737, 1 unit C130 Hercules, dan Batalyon Kesehatan #TNIAU untuk mengevakuasi WNI," tulis unggahan akun Twitter @_TNIAU pada, Rabu (29/1) kemarin.
Sambil menunggu evakuasi yang belum diketahui kapan dilakukan, Saat ini Fadil serta mahasiswa lainnya tengah mengurangi aktivitas di luar asrama. Fadil pun bersyukur seluruh mahasiswa di Wuhan negatif dari virus corona.
"Hari ini masih sama kegiatan-kegiatan anak-anak Indonesia sama saja mengurangi aktivitas di luar asrama, keadaan 93 mahasiswa di Indonesia masih sehat walafiat," ujarnya.
Terkait ketersediaan logistik, minyak goreng hingga cabai merah mulai minim, namun meskipun begitu hal itu belum berdampak buruk terhadap keberlangsungan hidup WNI di China saat ini.
"Keadaan logistik masih cukup paling beberapa bahan saja yang tidak ada stok seperti minyak goreng, beras, cabai merah tapi semua masih bisa di kondisikan," ungkap Fadil.
Menurut informasi yang didapatkannya di Wuhan, perkembangan virus yang menjalar sejak 24 Januari hingga saat ini dinyatakannya terus meningkat. Bahkan, setiap melewati satu hari jumlah pengidap virus corona meningkat dua kali lipat.
"Kemudian kalau mengenai penyakit-penyakit virus corona masih terus bertambah, itu setiap hari persentasenya naik dua kali lipat, kemarin yang teridap virus itu hanya 2.500-an sekarang sudah 5.000 lebih, dan yang meninggal itu sudah 100 lebih begitu," kata dia.
KBRI Beijing berikan 280 Yuan per orang di China.
Terkait bantuan yang diberikan Pemerintah Indonesia, Fadil menyambut baik. KBRI Beijing telah membagikan bantuan dana kepada sekitar 250 WNI di Provinsi Hubei. Di mana perorangan diberikan sebanyak 280 Yuan yang dibagikan pada Selasa (28/1).
"Nah, jadi sekitar 250 orang itu mendapatkan dana bantuan awal dari KBRI Beijing perharinya 40 Yuan atau kalau lihat kurs saat ini sekitar 80 ribu perhari selama tujuh hari," imbuhnya.
Bantuan tersebut telah meringankan hidupnya untuk bisa membeli segala kebutuhan, khususnya makanan yang diketahui saat ini harga pangan di China tengah melonjak tinggi.
"Dampak bagi kita yang pasti sangat membantulah ya, untuk keadaan seperti ini di tengah bahan baku yang melonjak naik itu sedikit membantu," tuturnya.
Meskipun demikian, bagi Fadil bantuan dana tidaklah memuaskan serta menenangkan dirinya saat ini. Ia tetap menginginkan Pemerintah Indonesia untuk mengevakuasinya serta teman-teman mahasiswa lainnya.
"Tapi bukan berarti dengan itu kita tidak ingin pulang, uang bukan segalanya. Kami ingin tetap dievakuasi ya tapi untuk melanjutkan kelangsungan hidup ya kita butuh pasokan logistik," tandasnya.

Komentar