Rabu, 17 Juni 2026 | 19:17
LIFESTYLE

Pengalaman Sehat Pakde Aji Surya (2)

Perlukah Saya Minder Soal Kuliner?

Perlukah Saya Minder Soal Kuliner?

KAIRO: Sekarang zamannya kulineran. Bisa menyantap “segala” kadang merupakan kebanggaan tersendiri. Hati-hati, sebagian penyakit justru tumbuh dari asupan ke tubuh kita.

Pernah dengarkah kita ada sebagian dari teman kita dilarang dokter makan daging kambing? Yang bersangkutan mungkin jadi okok-olokan teman sejawat, baik saat ronda maupun makan siang di kantor. Mana dibilang sudah tua, tidak keren, atau bahkan tidak “jantan”.

Bukan hanya itu. Daging kambingpun isunya macam-macam. Ada yang bilang sama sekali tidak berbahaya jika dimasak dengan cara tertentu. Ada juga yang bilang, kambing Arab tidak berkolesterol. Belum lagi ada joke yang mengatakan bahwa kolesterol itu tidak ada di restoran tapi adanya di laboratorium. Entahlah, mana yang sahih. Kita pun jadi tertawa terkekeh-kekeh.

Bullian semacam itu bukan hal baru. Maklumlah, kulineran memang lagi mewabah. Semua yang enak di lidah seolah harus dan wajib dinikmati. Sudah jadi trend publik: Orang sekarang lebih suka kulineran sambil blusukan dibanding masuk keluar mall mewah.

Sebenarnya, mereka yang dinasehati pak dokter untuk tidak makan daging kambing, salah satunya, mungkin, agar tidak mendongkrak blood pressure. Biar tekanan darahnya tidak naik. Untuk mencegah darah membludak yang bisa mengakibatkan stroke. Maklumlah daging kambing dikenal memiliki kandungan lemak jenuh sangat tinggi, musuh utama bagi pembuluh darah dan jantung.

Mirip dengan itu, kabar burungnya, —maklum saya bukan dokter—, kuning telor apalagi telor puyuh memiliki kolesterol yang super jahat. Apalagi jerohan, otak dan beberapa bagian tubuh binatang yang rasanya benar-benar maknyus menurut istilah chef alm. Bondan Winarno.

Tentu saja, yang tidak tahan ejekan, bisa jadi tergoda untuk menyantapnya meskipun resikonya cukup besar. Atau, ada juga, yang di sakunya disiapkan obat kolesterol yang siap ditelan mananaka acara “kulineran” berakhir.

Kembali ke laptop! Apakah mereka yang dinasehati dokter tersebut harus menghindar dari daging kambing? Kalau saya sarankan sih diamini saja. Di iya-in saja. Resiko yang ditimbulkan bisa jadi lebih berat dan menyengsarakan dari kenikmatan sesaat.

Saya pribadi selalu memantau tekanan darah dalam diri. Sebagai laki-laki, tekanan bawah harus 80-an dan atas maksimal 130. Lebih dari itu saya anggap berstatus “waspada”.

Dulu, waktu masih suka “awur-awuran” dalam kulineran, sempat cukup lama tekanan darah atas bertengger di angka 170. Dokter saya di Jermanpun memberikan lampu “merah” alias “awas”.

Ya, akhirnya saya mau tak mau, harus mengatakan kepada dokter “sami’na wa atho’na”, alias kami dengar dan kami patuh. Tapi, rasanya tidak mudah untuk mengerem kemauan lidah yang ingin melahap “segala”. Godaan selalu saja datang.

Untuk mengubah semua itu, peran pikiran kita sangat dibutuhkan. Harus mencari landasan yang super duper kuat agar kita bisa patuh.

Saya tiba-tiba dapat inspirasi dari ajaran Agama. Sempat bertanya, kenapa dalam agama (Islam utamanya), ada ajaran sedikit mengerem soal kuliner. Mengharamkan ini dan itu. Apakah karena kesehatan atau ada yang lain?

Saya kemudian merenung. Dan, akhirnya, membenarkan bahwa memang tidak semua itu harus saya lahap dan masukkan mulut. Tidak semua yang tercipta itu untuk saya nikmati. Betapa rakusnya bila “segala” harus ditelan demi memanjakan lidah yang hanya berukuran 10-an Cm.

Saya pun kemudian jadi ingat, suatu saat jalan-jalan bersama super chef William Wongso. Apalagi kalau bukan asyik memasak dan menikmati aneka kuliner. Tapi anehnya, dia selalu makan hanya secuil. Tidak lahap bahkan hingga kenyang. Padahal semua serba enak.

“Kenapa sih Pak William tidak bikin ludes itu makanan?” tanya saya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. “Pak Aji, makan terlalu banyak itu bikin cepat mati,” jawabnya dengan santai. Wow jawaban yang menohok.

Saya pun jadi mudeng, seorang chef paling top di Indonesia saja bukan pemakan segala. So, sangat wajar kalau saya mengerem beberapa makanan demi kesehatan. Toh hanya tidak makan segelintir item dari jutaan yang dianugerahkan Tuhan! Yes kalau begitu.

Bolehlah kita mencicipi, namun tidak perlu berlebihan. Karena semua yang berlebihan itu seringkali ujungnya tidak baik.

Salam dari Kairo

Komentar