Senin, 09 November 2026 | 00:29
OPINI

Pinokio dan Petruk

Pinokio dan Petruk
Ilustrasi Pinokio dan Petruk (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Pinokio dan Petruk sama-sama tokoh fiktif yang tidak ada di dongeng Grimm Bersaudara maupun Mahabharata. Keduanya menarik dibahas lewat Satir Psikoanalisis Beraroma Politis. Di panggung politik kita, ada dua tokoh abadi yang selalu muncul menjelang musim pemilu: Pinokio dan Petruk.

Pinokio adalah boneka kayu yang ingin menjadi manusia. Petruk adalah punakawan yang sempat ingin menjadi raja.

Keduanya sama-sama ingin naik kelas. Bedanya, Pinokio berbohong agar terlihat manusia. Petruk melucu agar terlihat berkuasa.

Mari kita bedah dengan psikoanalisis.

1. Pinokio: Sang Pembohong yang Lupa Hidungnya Sendiri

Freud akan bilang, Pinokio adalah contoh sempurna dari _ego_ yang kalah oleh _superego_ yang bengkok.

Ia tidak berbohong karena jahat. Ia berbohong karena takut tidak dicintai.

Sebagai boneka kayu, ia tahu dirinya bukan manusia asli. Maka ia harus berakting menjadi manusia. Ia janji akan jujur, janji akan adil, janji akan sejahtera. Setiap janji adalah satu lapis cat baru untuk menutupi kayunya.

Masalahnya, setiap kebohongan membuat hidungnya memanjang. Tapi ia tidak sadar. Kenapa? Karena di sekelilingnya ada cermin-cermin yang sengaja dibuat cekung. Para penjilat. Para buzzer. Para pembisik istana.

Mereka bilang: "Hidung Tuan tidak panjang, Tuan. Itu hanya perspektif kamera."

Akhirnya Pinokio percaya bahwa hidungnya normal. Ia percaya kebohongannya sendiri. Dalam psikoanalisis, ini disebut denialisme — penyangkalan.

Politisi Pinokio tidak takut berbohong. Yang ia takuti adalah ketahuan bahwa ia masih kayu.

2. Petruk: Sang Badut yang Ingin Jadi Raja

Kalau Pinokio adalah tragedi kebohongan, Petruk adalah komedi kekuasaan.

Dalam pewayangan, Petruk adalah abdi. Hidungnya panjang, tubuhnya jangkung, suaranya cempreng. Ia adalah rakyat jelata yang tugasnya membuat raja tertawa.

Tapi di dalam alam bawah sadar Petruk, ada _inferiority complex_ ala Alfred Adler. Semakin ia merasa kecil, semakin ia ingin terlihat besar.

Maka ia melucu. Ia joget. Ia bikin jargon. Ia bikin gimmick. Ia viralkan kebodohannya agar dianggap merakyat. Psikoanalisis menyebutnya reaction formation: menutupi rasa minder dengan tingkah yang berlebihan.

Petruk tidak ingin memperbaiki istana. Ia ingin pindah ke istana. Ia tidak ingin mengubah sistem. Ia ingin menjadi sistem.

Bedanya dengan Pinokio: Pinokio berbohong agar dianggap benar. Petruk melucu agar tidak ditanya apakah ia benar.

3. Kita: Geppetto yang Lelah

Lalu di mana posisi kita?

Kita adalah Geppetto. Tukang kayu tua yang membuat boneka  kayu dengan tangannya sendiri, dengan pajaknya sendiri, dengan suaranya sendiri.

Kita yang memahat Pinokio dari kayu janji. Kita yang menjahit baju Petruk dari kain harapan.

Setiap lima tahun, kita mengeluh: "Kenapa bonekanya begini terus?"

Padahal jawabannya sederhana. Dalam psikoanalisis, kita mengulang trauma yang sama karena kita tidak pernah menyembuhkan luka yang pertama.

Kita memilih Pinokio karena kita rindu didongengkan. Kita memilih Petruk karena kita bosan menangis, ingin tertawa sebentar.

Pinokio dan Petruk tidak pernah berubah. Yang harus berubah adalah Geppetto: berhenti mencari boneka yang sempurna, dan mulai belajar menjadi manusia yang tidak gampang dibohongi dan tidak gampang dilucu-lucui.

Karena selama kita masih suka dongeng, akan selalu ada Pinokio yang berbohong. Dan selama kita masih suka dagelan, akan selalu ada Petruk yang ingin jadi raja

 

Editor: Caecilia Eersta