ASKARA - Hari Raya Semua Orang Kudus dan peringatan arwah orang beriman ingatkan akan satu keyakinan iman yang mendasar: hidup manusia tidak berhenti pada kematian. Ada hidup kekal yang dijanjikan Allah.
Hidup kekal bukan sekadar tujuan akhir perjalanan iman. Ia adalah energi kehidupan saat ini. Energi yang melahirkan pengharapan, memberi kekuatan untuk bertahan, dan membuat setiap orang tetap mampu menjalani kehidupan dengan bahagia, bahkan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.
Ada prinsip dalam latihan bela diri: Energy follows imagination. Energi mengikuti imajinasi. Apa yang dibayangkan, ke sanalah energi dan gerakan tubuh diarahkan.
Imajinasi yang sama juga dibangun ketika merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus dan peringatan para beriman.
Mengapa? Karena manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, Imago Dei. Artinya, manusia adalah gambaran Allah yang hidup. Maka, menjadi manusia itu berarti menghadirkan wajah Allah melalui pikiran, perkataan, sikap, dan tindakan kita.
Gambar manusia sebagai cermin gambar dan rupa Allah saat manusia menjalani apa yang disampaikan Yesus: Delapan Sabda Bahagia: mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, membawa damai, serta dianiaya dan dicela karena kebenaran. Ukuran kebahagiaan yang berbeda dengan ukuran kebahagiaan dunia.
Dunia agungkan kekayaan, kekuasaan, popularitas, dan kenikmatan. Sedangkan Sabda Bahagia menawarkan kerendahan hati, belas kasih, kemurnian hati, perjuangan menegakkan kebenaran, dan keberanian membawa damai.
Inilah energi kekudusan!
Para beriman bukanlah manusia yang hidup tanpa persoalan. Mereka juga menghadapi penderitaan, pergulatan, ketidakadilan, bahkan penganiayaan. Namun, mereka tidak membiarkan keadaan mengubah hati mereka menjadi gelap. Mereka tetap memilih jalan kasih. Dan disinilah setiap beriman membutuhkan energi kekudusan.
Maka, para beriman bukan sekadar tokoh masa lalu yang kita kenang. Mereka adalah saksi bahwa Sabda Bahagia sungguh dapat dihidupi dalam kenyataan.
Mereka telah membuktikan bahwa menjadi orang baik, murah hati, jujur, rendah hati, dan membawa damai bukanlah sesuatu yang mustahil.
Kita membutuhkan keberanian untuk tidak ikut menyebarkan disinformasi dan narasi bohong yang memecah belah persaudaraan. Kita membutuhkan hati yang bersih untuk menghargai martabat setiap manusia. Kita membutuhkan belas kasih yang melampaui sekat perbedaan.
Kekudusan tidak menjauhkan manusia dari persoalan dunia. Justru kekudusan membuat kita semakin peduli terhadap kehidupan sesama.
Mari menyerap energi kekudusan dari para kudus pelindung kaum beriman dengan membangun imajinasi yang benar tentang siapa diri kita: manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Biarlah imajinasi itu menggerakkan energi kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati, murah hati, jujur, membawa damai, dan menghargai martabat sesama.
Sebab, pada akhirnya, kekudusan bukan hanya tentang bagaimana kita kelak masuk surga, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan sedikit suasana surga di tengah kehidupan dunia sekarang.
Salam sehat limpah berkat
+ Rm Yos Bintoro, Pr