OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Kavaleri adalah contoh paling sukses dari kelirumologi — ilmu tentang kekeliruan istilah yang dipertahankan karena gengsi.
Secara etimologis, sebenarnya kata ini sangat jujur. Kavaleri berasal dari bahasa Italia cavallo, dari Latin caballus artinya dalam bahasa Indonesia = kuda. Bukan kuda-kudaan, bukan kuda besi, tapi kuda beneran yang makan rumput dan berak di jalan.
Bahasa Perancis menyebutnya cavalerie , Inggris cavalry, Belanda cavalerie. Semua sepakat: ini pasukan kuda. Bahkan dalam bahasa Arab, fursan juga berarti penunggang kuda.
Masalahnya, kudanya sudah lenyap, tapi namanya dipertahankan. Ini seperti kita masih menyebut tukang ketik padahal pakai laptop, atau masih menyebut piringan hitam padahal bentuknya file MP3.
Secara militer, kavaleri sebagai pertempuran kuda lawan kuda punah pada Perang Dunia II. Pertempuran kavaleri terakhir yang tercatat:
1945, pasukan kavaleri Soviet vs kavaleri Cossack Jerman di Hungaria.
1942, kavaleri Italia menyerang kavaleri Soviet di Isbuscenskij. Itu charge pedang dengan menunggang kuda terakhir di Eropa. Setelah itu selesai.
Cek semua perang modern:
Perang Vietnam (1955-1975): Tidak ada satu pun pertempuran kuda. Yang ada adalah Air Cavalry — helikopternya yang disebut kavaleri.
Perang Irak (2003): Divisi 1st Cavalry Division Amerika menyerbu Baghdad. Jumlah kudanya: 0. Jumlah tank Abrams-nya: 300.
Perang Yaman (2014-sekarang): Perang pakai drone dan rudal balistik, tidak ada kuda yang menyerang parit.
Perang Ukraina (2022-sekarang): Perang drone, artileri, dan tank. Kedua belah pihak punya puluhan brigade, beberapa masih pakai nama "kavaleri". Tapi jika ada kuda di medan perang, itu kuda liar yang kabur dari padang rumput yang dibom.
Satu-satunya tempat di mana kavaleri masih berkuda lawan berkuda adalah di Hollywood:
1. Mongol vs Ksatria Eropa — film seperti The Mongol (2007)
2. Kavaleri AS vs Pribumi Amerika — film seperti Dances with Wolves (1990), The Last Samurai versi koboi
Keduanya nostalgia, bukan doktrin.
Ironi semantika total. Hari ini yang disebut "kavaleri" isinya adalah:
Tank (yang secara teknis adalah artileri berjalan)
Ranpur lapis baja (yang secara teknis adalah angkot berlapis baja)
Meriam swak gerak (yang jelas-jelas artileri)
Helikopter serang (yang adalah angkatan udara yang nyasar)
Tidak ada satu pun unsur cavallo di dalamnya. .
Kenapa tidak diganti namanya menjadi "Pasukan Tank"? Karena tidak keren. "Resimen Kavaleri" terdengar gagah, mewarisi kejayaan Jenghis Khan. "Resimen Tank Berat Berisik Boros Solar" terdengar seperti laporan keuangan.
Kavaleri hari ini adalah fosil bahasa. Katanya masih kuda, hewannya sudah menjadi baja.
Ia dipertahankan bukan karena benar secara etimologis, tapi karena manusia butuh mitos. Kita butuh merasa masih ada hubungan dengan penunggang kuda Mongol yang menyerbu Eropa, dengan Pony Express, dengan pangeran berkuda putih.
Padahal kenyataannya, prajurit kavaleri modern tidak pernah menyentuh kuda, kecuali saat foto bersama di Istana untuk acara kenegaraan.
Ini adalah kasus kelirumologis di mana kata tidak lagi menjelaskan benda, tapi benda yang terpaksa menjelaskan kata.