Kita bisa bilang "semua setara", tapi setiap hari kita lihat: orang yang "lebih tinggi" dapat perlakuan yang tidak didapat orang "lebih rendah".
Itu yang sekarang disebut privilege.
Privilege itu bukan selalu karena orangnya jahat. Seringkali sistemnya yang membuat begitu.
3 bentuk privilege yang paling terasa di Indonesia dan Belanda:
1. Privilege yang Lahir (Given)
Kamu tidak minta, tapi kamu dapat. Lahir kulit putih di Belanda, lahir di keluarga berada di Menteng, lahir laki-laki di budaya patriarkal. Kamu jalan masuk ruangan, otomatis dipercaya, didengar, tidak dicurigai.
Orang lain harus buktikan 10x lebih keras hanya untuk dapat kesempatan yang sama.
2. Privilege yang Dibeli (Bought)
Akses. Uang bisa beli keadilan yang lebih cepat, sekolah yang lebih bagus, rumah sakit yang tidak antre, bahkan "pengampunan" sosial. Yang miskin salah sedikit dihujat se-Indonesia, yang berkuasa salah besar bisa hilang beritanya.
3. Privilege yang Diberi (Granted)
Karena kamu dekat dengan yang berkuasa. "Orang dalam". Di Belanda istilahnya _old boys network_, di sini "titipan". Satu telepon bisa buka pintu yang orang lain gedor 5 tahun tidak terbuka.
Kenapa ini jadi masalah rohani juga?
Karena di Alkitab, Yakobus 2 menegur keras hal ini:
"Jika kamu masuk ke pertemuan dan ada orang kaya dengan cincin emas dan pakaian indah, kamu berkata 'Silakan duduk di tempat yang baik', sedangkan orang miskin kamu suruh 'Berdiri di sana atau duduk di lantai' - bukankah kamu membeda-bedakan?"
Allah tidak anti orang kaya atau anti orang terpandang. Abraham kaya, Daud raja, Yusuf orang penting di Mesir. Yang Allah tentang adalah ketika keistimewaan itu membuat kita buta terhadap nilai manusia lain.
Masalah privilege bukan karena ada yang di atas. Masalahnya adalah ketika yang di atas lupa bahwa posisinya adalah titipan, bukan hak.
Makanya Yesus membalik definisi tinggi:
"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani." (Mat 20:26-28)
Jadi tinggi yang sejati di mata Tuhan itu justru terlihat dari seberapa banyak dia menggunakan keistimewaannya untuk menaikkan orang lain, bukan menginjaknya.