Jumat, 30 Oktober 2026 | 22:41
OPINI

Optimisme Mitos Sisyphus

Optimisme Mitos Sisyphus
Optimisme Mitos Sisyphus (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Mitos Sisyphus adalah satu di antara narasi paling kuat dalam mitologi Yunani yang melampaui zaman, mengajarkan kita tentang makna perjuangan, ketabahan, dan pencarian arti hidup di tengah absurditas dunia.

Dalam mitologi, Sisyphus adalah Raja Ephyra yang terkenal sangat cerdik namun licik. Karena berani menipu para dewa dan mengakali kematian hingga dua kali, ia dijatuhi hukuman abadi yang sangat kejam di Tartarus. Tugasnya terdengar sederhana namun menyiksa: mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung. Namun, setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, beban berat dan gaya gravitasi selalu menjatuhkannya kembali ke dasar. Sisyphus harus turun dan memulainya lagi dari awal, begitu seterusnya, selamanya.

Secara harfiah, hukuman ini adalah lambang dari kesia-siaan total. Namun, ketika mitos ini dibedah secara filosofis—terutama melalui esai terkenal Albert Camus pada tahun 1942, The Myth of Sisyphus—maknanya berubah drastis dari tragedi kutukan menjadi simbol kemenangan eksistensial manusia.

Camus menggunakan Sisyphus sebagai metafora untuk kondisi manusia modern yang terjebak dalam rutinitas "absurd". Kita bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, dan mengulanginya setiap hari demi tujuan yang sering kali terasa kabur. Hidup ini penuh dengan usaha yang berulang-ulang tanpa jaminan hasil akhir yang abadi. Kita semua, dalam satu atau lain cara, adalah Sisyphus yang sedang mendorong batu kita masing-masing.

Lantas, di mana letak bedah maknanya? Kuncinya ada pada momen ketika batu itu menggelinding kembali ke bawah, dan Sisyphus berjalan turun untuk mengambilnya. Di titik itulah, Sisyphus memiliki kesadaran penuh. Ia tahu usahanya sia-sia, dewa-dewa ingin ia putus asa, tetapi ia memilih untuk tetap berjalan turun dan mendorong batu itu lagi.

Dengan menerima takdirnya tanpa mengeluh dan tanpa mengharapkan keajaiban langit, Sisyphus merebut kembali otoritas atas dirinya sendiri. Hukuman itu tidak lagi menguasainya; dialah yang menguasai hukuman itu. Tindakan terus berjuang meskipun tahu hasilnya tidak abadi adalah bentuk pemberontakan tertinggi manusia terhadap absurditas hidup.

Inti makna mendalam dari mitos ini sangat relevan untuk kesehatan mental dan ketahanan jiwa kita saat ini. Kita sering kali merasa lelah dengan rutinitas yang monoton atau patah hati oleh kegagalan yang berulang. Mitos Sisyphus mengingatkan bahwa makna hidup tidak terletak pada hasil akhir atau puncak gunung yang berhasil kita kuasai, melainkan pada proses perjuangan itu sendiri.

Ketika kita menemukan kebahagiaan dalam usaha, sekecil apa pun itu, kita sedang mengalahkan rasa putus asa. Seperti kalimat penutup Camus yang sangat ikonik: "Seseorang harus membayangkan Sisyphus berbahagia." Perjuangan menuju puncak itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia dengan rasa bahagia.

 

Editor: Caecilia Eersta