OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Seni Memenangkan Perang dari Atas Sofa: Panduan Praktis untuk Politisi Mulia.
Sebuah mahakarya peradaban modern telah tercipta: perang adalah panggung sandiwara terbaik di mana politisi menulis skenario dari balik meja eksekutif yang nyaman, sementara rakyat jelata bertindak sebagai aktor figuran yang sukarela mati demi rating popularitas mereka. Mengacu pada teori realisme politik, kita harus sepakat bahwa tumpahan darah di medan tempur hanyalah tinta merah untuk menandatangani kontrak geopolitik yang baru.
Mari kita bedah dialektika utilitarian ini dengan jujur. Bagi seorang politisi, perang adalah ekstensi dari retorika kampanye. Ketika elektabilitas mulai lesu atau isu korupsi domestik mulai tercium busuk, tidak ada obat yang lebih mujarab daripada menabuh genderang perang. Dengan berbekal jas rapi, mikrofon mahal, dan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah menanggung beban dunia, mereka mendeklarasikan "demi kedaulatan" atau "kehormatan bangsa.". Hitler berjaya dengan slogan Heil Hitler demi memperluas Lebensraum sembari membantai Yahudi
Di sinilah letak keindahan absolutnya: politisi yang menyatakan perang tidak pernah menjadi politisi yang harus merangkak di parit berlumpur. Kursi empuk di ruang rapat bawah tanah yang kedap suara tentu jauh lebih kondusif untuk memikirkan taktik makro daripada garis depan yang bising oleh ledakan mortir. Apalagi gasa beracun. Risiko terbesar seorang politisi dalam perang adalah salah membaca teks pidato atau kopi mereka kurang hangat saat rapat pleno.
Sebaliknya, mari kita apresiasi peran krusial rakyat dalam ekosistem ini. Rakyat adalah elemen estetis yang menyempurnakan penderitaan. Filsafat eksistensialisme perang mengajarkan bahwa tugas suci rakyat adalah menderita secara totalitas. Ketika politisi menggerakkan bidak catur di atas peta digital, rakyat di bawahnya bertugas mengubah angka statistik menjadi kenyataan yang puitis: rumah yang hancur, kelaparan yang akut, dan tubuh-tubuh yang terbungkus kantong jenazah.
Bukankah ini sebuah harmoni yang adil? Politisi menyumbangkan ego, ambisi, dan tanda tangan digital mereka. Rakyat, dengan segala kemurahhatiannya, menyumbangkan nyawa, masa depan anak-anak mereka, dan air mata yang tak habis-habis. Tanpa penderitaan rakyat yang masif, pidato politisi tentang "pengorbanan suci" tidak akan terdengar dramatis di televisi internasional. Ratusan ribu rakyat korban kebengisan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, sementara Truman dan Hitorihito aman-aman saja.
Pada akhirnya, perang adalah bisnis metafisika tingkat tinggi. Politisi memanen kemenangan politik, popularitas historiografi, dan konsesi ladang minyak baru. Sementara itu, rakyat mendapatkan kompensasi yang jauh lebih abadi: nama mereka (mungkin) akan diukir di monumen batu yang dingin, atau setidaknya, mereka mendapatkan kebanggaan semu bahwa mereka telah mati demi mempertahankan hak politisi mereka untuk tetap berkuasa. Sungguh sebuah transaksi peradaban yang jenius.