ASKARA - Dukungan terhadap perjuangan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) terus menguat. Kali ini datang dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Tengah.
Dukungan itu disampaikan langsung dalam pertemuan silaturahmi dengan pengurus Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (KP3ALA) Aceh Tengah, di Kantor MPU Aceh Tengah, belum lama ini.
Komisioner MPU Aceh Tengah, Tgk. Drs. Abdussalam, mengenang pesan almarhum Prof. Baihaki AK bahwa perjuangan ALA merupakan ibadah dan jihad untuk kemaslahatan umat.
"Perjuangan ALA ini ibadah dan jihad. Saya sudah lama menunggu progres perjuangan ini, sejak saya masih menjadi anggota DPRK Aceh Tengah," ujar Abdussalam yang dalam pertemuan tersebut terlihat mengenakan jaket berlogo Provinsi ALA.
Senada, Komisioner MPU lainnya, Riduan Bintang, menambahkan bahwa pemekaran sebuah daerah sah secara syariat dan ketatanegaraan jika memenuhi unsur perbaikan tata kelola dan keadilan.
"Sebuah daerah bisa mekar jika memenuhi unsur perbaikan tata kelola daerah dan keadilan," kata Riduan.
Pimpinan MPU Aceh Tengah, Tgk. Yahya Arias, menyatakan secara kelembagaan MPU mendukung penuh perjuangan ALA. Menurutnya, dukungan ini bukan hal baru.
"MPU mendukung perjuangan ALA. Bahkan sebelumnya forum mukim (lembaga adat) telah memberikan dukungan sejak lama dan sudah pernah melakukan demonstrasi besar-besaran ke Ibu Kota Jakarta," tegas Yahya Arias.
Sementara itu, Ketua Umum KP3ALA Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak, menjelaskan bahwa pemekaran Provinsi Aceh menjadi pertimbangan kepentingan strategis nasional.
"Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara tetap dalam kerangka otonomi khusus (desentralisasi asimetris). Dengan lahirnya Provinsi ALA, ke-khususan Aceh justru diperkuat, baik dari sisi pendidikan, pelaksanaan Syariat Islam, maupun Adat," jelas Zam Zam.
Terkait pengibaran bendera Alam Pedang yang kerap dikaitkan dengan gerakan ALA, Zam Zam menegaskan bahwa hal itu merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran sejarah.
"Pengibaran bendera Alam Pedang adalah tanggung jawab kami sebagai upaya membangun kesadaran sejarah Aceh dan relasi peradaban antara Kerajaan Linge dan Kerajaan Aceh Darussalam. Itu sebagai simbol persatuan dan kejayaan Aceh," pungkasnya.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan semangat perjuangan pembentukan Provinsi ALA.