ASKARA - Di tengah perlombaan digitalisasi pendidikan, Swedia justru memperkuat penggunaan buku cetak, tulisan tangan, dan kertas di ruang kelas. Kebijakan ini bukan sekadar nostalgia terhadap metode lama, melainkan upaya membenahi fondasi pembelajaran setelah hasil membaca dan matematika siswa menurun. Namun, apakah mengurangi layar benar-benar memperbaiki mutu pendidikan, atau justru menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks?
Pemerintah Swedia secara resmi mendorong penambahan waktu membaca dan pengurangan waktu layar. Dalam publikasi Government.se, 8 Februari 2024, yang diperbarui 5 Maret 2025, pemerintah menegaskan bahwa perangkat digital seharusnya digunakan ketika mendukung, bukan menghambat, pembelajaran. Kebijakan tersebut mencakup penambahan buku pelajaran, penguatan keterampilan dasar, serta pembatasan penggunaan perangkat digital pada anak usia dini.
Arah kebijakan itu memperoleh konteks dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. OECD, dalam laporan negara Swedia yang diterbitkan 5 Desember 2023, mencatat penurunan skor rata-rata matematika dan membaca dibandingkan 2018. Penurunan tersebut menghapus sebagian besar kemajuan pada periode 2012–2018. Meski demikian, siswa Swedia masih mencatat hasil di atas rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains.
Fakta ini penting dibaca secara proporsional. Penurunan capaian akademik tidak otomatis membuktikan bahwa teknologi digital merupakan penyebabnya. Hasil belajar dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kualitas pengajaran, lingkungan keluarga, kesenjangan sosial ekonomi, hingga kemampuan siswa memahami materi. Karena itu, kebijakan mengurangi layar sebaiknya dipahami sebagai bagian dari evaluasi pendidikan, bukan vonis bahwa teknologi telah merusak sekolah.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap penggunaan perangkat digital bukan tanpa alasan. Data PISA 2022 menunjukkan 37 persen siswa Swedia mengaku terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau seluruh pelajaran matematika. Angka tersebut memberi alasan untuk mengevaluasi penggunaan gawai di kelas, tetapi tidak membuktikan bahwa semua perangkat atau metode belajar digital tidak efektif.
Buku cetak dan tulisan tangan memiliki tempat penting dalam membangun kemampuan membaca, menyusun gagasan, dan mengolah informasi. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada cara pengajaran diterapkan. Teknologi digital pun memiliki keunggulan, antara lain memperluas akses informasi, menyediakan simulasi interaktif, dan membantu siswa dengan kebutuhan belajar tertentu. Persoalannya bukan memilih buku atau layar secara mutlak, melainkan menentukan media yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Bagi Indonesia, pengalaman Swedia patut menjadi bahan evaluasi, bukan resep yang ditiru mentah-mentah. Digitalisasi sekolah harus berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan guru, pemerataan akses buku, penguatan literasi dasar, serta perlindungan siswa dari distraksi digital. Sekolah dengan keterbatasan jaringan membutuhkan solusi berbeda dari sekolah yang memiliki infrastruktur teknologi memadai.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semestinya diukur dari banyaknya tablet, komputer, atau buku yang tersedia. Ukuran sesungguhnya adalah kemampuan siswa memahami bacaan, bernalar, berhitung, memeriksa informasi, dan menerapkan pengetahuan. Swedia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Kemajuan pendidikan ditentukan oleh ketepatan penggunaannya, kualitas pengajaran, dan hasil belajar yang benar-benar dirasakan siswa.