OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Ada sejenis penghinaan sekaligus pelecehan yang justru kita anggap beradab yakni menyebut budaya lisan sebagai budaya yang "kurang beradab" dibanding budaya tulisan. Yang tidak bisa menulis disebut buta huruf. Yang bercerita disebut dongeng. Yang menghafal disebut ketinggalan zaman.
Padahal secara kronologis, itu terbalik.
Manusia sudah berbicara selama 150.000 hingga 200.000 tahun. Tulisan baru berusia 5.400 tahun, lahir di Sumeria sekitar 3400 SM. Artinya, 97% sejarah manusia adalah sejarah lisan. Tulisan hanya bab terakhirnya. Menyebut budaya lisan tidak beradab sama saja menyebut nenek moyang kita 97% hidupnya tidak beradab.
Buktinya ada di tubuh kita sendiri. Anak manusia secara psikobiologis dilahirkan dengan daya lisan, bukan daya tulis. Sejak lahir, otak bayi sudah punya area Broca dan Wernicke yang siap memproses bunyi dan bahasa. Bayi 6 bulan sudah bisa membedakan fonem bahasa ibunya. Bayi 1 tahun sudah bisa mengucapkan kata. Tidak ada satu pun bayi yang dilahirkan dengan kemampuan menulis. Menulis harus diajarkan bertahun-tahun, dilatih motorik halus, diajarkan simbol abstrak. Berbicara muncul alami, menulis adalah teknologi buatan.
Itu sebabnya budaya lisan tidak inferior, ia justru lebih manusiawi.
Pertama, budaya lisan adalah memori hidup.
Dalam masyarakat tanpa tulisan, sejarah tidak disimpan di buku, tapi di tubuh. Di Afrika Barat, griot bisa menghafal silsilah kerajaan 800 tahun hanya dengan nyanyian. Di Indonesia, tukang cerita di pedalaman Papua, Maluku, dan Kalimantan menghafal 30 generasi leluhur, lengkap dengan perang dan perjanjian. Penelitian Walter Ong membuktikan, memori lisan bukan hafalan kaku. Ia adalah struktur formulaik: pantun, rima, ritme, yang membuat informasi bisa diingat selama ribuan tahun tanpa rusak. Bahkan Homer, Iliad dan Odyssey, adalah produk lisan sebelum ditulis Yunani.
Kedua, budaya lisan lebih demokratis.
Tulisan butuh kertas, tinta, sekolah, dan kekuasaan. Di zaman Mesir Kuno, hanya 3% penduduk yang bisa membaca hieroglif. Sisanya dianggap budak. Di Eropa abad pertengahan, gereja memonopoli tulisan. Siapa yang bisa menulis, dia yang bisa mengklaim kebenaran.
Budaya lisan tidak bisa dimonopoli. Semua orang bisa bicara. Tidak perlu lewat bangku sekolah apalagi universitas. Di warung, di pasar, di sawah, cerita beredar bebas, diuji langsung oleh pendengar. Kalau cerita bohong, pendengar bisa menyanggah saat itu juga. Tidak seperti tulisan yang bisa dicetak, disebar, dan tidak bisa dibantah.
Ketiga, budaya lisan adalah teknologi sosial.
Dalam budaya lisan, pengetahuan tidak dipisahkan dari manusia. Pantun Melayu bukan hanya seni, tapi hukum adat. Pepatah Minangkabau bukan puisi, tapi konstitusi. Bahasa lisan melatih empati, karena kamu harus membaca wajah lawan bicara, nada, jeda. Budaya tulisan melatih kita membaca teks, budaya lisan melatih kita membaca manusia.
Hari ini kita sedang kembali ke lisan. Gelar-Wicara , Podcast, TikTok voice, WhatsApp voice note, video storytelling — semua membuktikan manusia lebih nyaman mendengar daripada membaca. Anak yang disuruh baca 10 halaman ngantuk, tapi disuruh dengar cerita 10 menit langsung semangat.
Maka jangan lagi berkata budaya lisan kurang beradab. Yang kurang beradab adalah peradaban yang mengira peradaban hanya dimulai saat ada tulisan.
Tulisan adalah alat. Lisan adalah akar. Alat bisa hilang, akar tidak.
An sich, membela budaya lisan bukan verarti menghina atau melecehkan tulisan. Tapi mengingatkan: sebelum kita menulis sejarah, kita sudah melisankannya