Kamis, 22 Oktober 2026 | 06:15
OPINI

Napak Tilas Sejarah Fotografi

Napak Tilas Sejarah Fotografi
Ilustrasi napak tilas sejarah fotografi (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Saya datang ke pameran  THE LIGHT WITHIN  menampilkan mahakarya fotografi Darwis Triadi bukan sekadar untuk melihat foto. Saya datang untuk melihat cahaya yang dikemas di dalam foto. Dan di sana saya paham: sejarah fotografi sebenarnya bukan sejarah kamera. Ia adalah sejarah manusia belajar melukis dengan cahaya.

Kata fotografi sendiri dari bahasa Yunani: photos berarti cahaya, graphos berarti melukis. Pada 1826, Nicéphore Niépce membutuhkan 8 jam untuk menampilkan satu gambar di atas pelat timah, pemandangan dari jendela rumahnya di Le Gras. Itu foto pertama dunia, buram, tapi cahaya sudah mulai patuh.

Tiga belas tahun kemudian, Louis Daguerre menyempurnakan menjadi daguerreotype: gambar tajam di atas pelat perak. Tahun yang sama, William Henry Fox Talbot menciptakan calotype di Inggris, yang bisa dicetak berulang. Dari sana lahir dua DNA fotografi yang kita kenal hari ini: fotografi sebagai dokumen tunggal yang unik, dan fotografi sebagai cetakan yang bisa disebarkan.

Lalu datang sejarah yang lebih panjang: dari kamar gelap menjadi Kodak Brownie 1900 yang membuat semua orang bisa memotret, dari film hitam-putih ke warna Kodachrome 1935, dari kamera saku ke kamera digital, hingga ke HP yang kita bawa sekarang.

Tapi di tengah semua teknologi itu, ada yang tidak pernah berubah: cahaya.

Di pameran THE LIGHT WITHIN, Darwis Triadi seperti mengajak kita mundur ke awal sejarah itu. Ia tidak memotret dengan gaya reportase. Ia melukis dengan cahaya. Dalam satu karya, tubuh perempuan tidak lagi jadi objek, tapi jadi bentuk. Cahaya lembut dari samping membelah punggung menjadi dua bidang: gelap dan terang. Tidak ada detail wajah, hanya garis lengkung yang hidup karena bayangan. Itu teknik yang sudah ada sejak Rembrandt melukis, tapi Darwis menerjemahkannya ke medium foto: chiaroscuro modern. Beberapa karya Darwis “menyesatkan” saya duga merupakan karya cat minyak.

Di karya lain, warna bukan sekadar warna. Ia memakai filter merah tua dan biru dingin yang bertabrakan, menciptakan ketegangan seperti lukisan abstrak. Kita seperti melihat sejarah fotografi warna tahun 1930-an yang awalnya dituduh tidak artistik, lalu membuktikan warna justru bisa jadi bahasa emosi.

Di karya ketiga, bentuk lebih penting daripada objek. Bayangan jendela jatuh ke dinding membentuk segitiga sempurna, tubuh manusia hanya jadi pelengkap. Itu bahasa yang dipakai Bauhaus dan fotografer surealis Man Ray di Paris 1920-an: bentuk lebih jujur daripada cerita.

Menurut saya pribadi, inilah yang membuat pameran ini sangat indah. Darwis tidak mengejar momen. Ia mengejar cahaya di dalam momen. Ia membuktikan tesis yang selalu ia katakan dalam kelasnya: "Fotografi adalah cahaya. Kamera hanyalah alat untuk menangkapnya."

Ketika kita berdiri di depan karyanya, kita sebenarnya sedang menelusuri sejarah fotografi itu sendiri: dari Niépce yang menunggu 8 jam agar cahaya menempel, hingga Darwis yang hanya butuh 1/125 detik untuk membuat cahaya diam selamanya. Dan di situlah keajaibannya. Bentuk, warna, dan cahaya — tiga hal yang dulu dipelajari pelukis — kini bisa dibekukan dalam satu klik.

THE LIGHT WITHIN bukan hanya pameran. Ia adalah pengingat bahwa setelah hampir 200 tahun, fotografi belum selesai berevolusi. Ia hanya berpindah tangan: dari ilmuwan, ke seniman, ke kita yang kini semua bisa menulis dengan cahaya.

 

Editor: Dar Edi Yoga