Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:09
COMMUNITY

Siswa SDK Kalam Kudus Merauke Belajar Dunia Penyiaran Lewat Outing Class

Siswa SDK Kalam Kudus Merauke Belajar Dunia Penyiaran Lewat Outing Class
Siswa SDK Kalam Kudus Merauke foto bersama (Dok Winona)

ASKARA - Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Bagi 25 siswa Kelas V Sekolah Dasar Kristen (SDK) Kalam Kudus Merauke, Senin (19/10/2026), menjadi pengalaman berbeda ketika mereka mengikuti program outing class dengan mengunjungi LPP RRI Merauke.

Didampingi wali kelas Kartika Patandean, S.Pd. dan guru bidang studi Bahasa Inggris Emi Carolina Maturbong, S.Pd., para siswa diterima jajaran LPP RRI Merauke yang dipimpin Kepala LPP RRI Merauke Iskandar.

Turut menyambut rombongan, Kepala Tata Usaha Rina Suprapti, Koordinator Teknik Media Baru Try Atmojo, Koordinator Siaran Johanes Resubun, serta penyiar Pro 1 RRI yang sedang bertugas, Ari.

Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk melihat secara langsung bagaimana teknologi digunakan dalam proses penyiaran dan bagaimana sebuah informasi diproduksi hingga akhirnya dapat didengar masyarakat.

Kepada Askara, Kartika mengatakan kegiatan outing class sengaja dirancang untuk memperkenalkan kepada anak-anak dunia teknologi, khususnya yang digunakan dalam lembaga penyiaran atau broadcasting milik pemerintah.

“Tujuannya untuk memperkenalkan anak-anak terkait penggunaan teknologi yang digunakan di lembaga penyiaran atau broadcasting milik pemerintah ini. Di Merauke, RRI merupakan lembaga penyiaran yang sangat penting,” ujar Kartika.

Menurut Kartika, antusiasme anak-anak terlihat sejak mereka memasuki lingkungan RRI. Bahkan, sebagian siswa mengaku baru pertama kali melihat langsung studio radio.

“Nampaknya anak-anak sangat gembira sekali. Bahkan ada yang baru pertama kali datang ke studio,” katanya.

Kartika sendiri telah mengabdikan diri selama sekitar 10 tahun sebagai guru di SDK Kalam Kudus. Ia melihat kegiatan belajar di luar kelas seperti ini penting untuk memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik.

Tidak hanya melihat-lihat fasilitas, anak-anak juga mendapatkan kesempatan berdiskusi langsung dengan Kepala LPP RRI Merauke. Suasana pembelajaran semakin menarik ketika mereka bertemu Kak Win, bersama sosok boneka Noni dan Uncle Willy, yang selama ini hadir mengisi Program Radio Kecil RRI Merauke setiap Minggu pagi sekitar pukul 07.30 WIT.

Program tersebut disebut menjadi salah satu program yang memiliki daya tarik bagi pendengar, terlebih karena hadir pada waktu yang menjadi salah satu jam utama atau prime time siaran radio.

Bagi para siswa, pengalaman tersebut bukan sekadar kunjungan. Mereka mulai memahami bahwa di balik suara yang terdengar dari radio terdapat proses panjang, teknologi, serta orang-orang yang bekerja untuk memastikan informasi dapat diterima masyarakat.

Salah seorang peserta didik, Ratu, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah dapat melihat langsung ruang studio dan mengetahui bagaimana proses kerja di dunia penyiaran.

“Saya sangat senang bisa melihat langsung ruang studio siaran dan tahu proses kerja dunia penyiaran,” ujar Ratu.

Menariknya, rasa ingin tahu para siswa tidak berhenti pada sekadar melihat fasilitas. Mereka justru menunjukkan daya kritis dengan melontarkan berbagai pertanyaan kepada pihak RRI.

Mulai dari teknologi yang digunakan, bagaimana sebuah informasi diproses dan disiarkan, sejauh mana jangkauan siaran, hingga berbagai peralatan yang terdapat di dalam studio menjadi bahan pertanyaan para siswa.

Bagi Iskandar, antusiasme anak-anak tersebut merupakan hal yang menggembirakan. Menurutnya, RRI terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan mengenal lebih dekat proses kerja dunia penyiaran.

“Sebagai pimpinan di sini, saya sangat senang ketika banyak orang mau belajar dan mengetahui bagaimana proses broadcasting,” kata Iskandar kepada Askara.

Ia menilai pengalaman seperti ini juga dapat membuka wawasan anak-anak mengenai berbagai profesi di bidang penyiaran.

“Hal ini dapat menjadi daya tarik bagi anak-anak ke depan yang ingin bercita-cita menjadi seorang broadcaster di radio,” lanjutnya.

Kegiatan outing class kemudian ditutup dengan foto bersama antara siswa, guru, dan jajaran LPP RRI Merauke.

Namun, pembelajaran belum berhenti setelah mereka meninggalkan studio RRI. Sesampainya di sekolah, setiap siswa diwajibkan menyusun laporan hasil kunjungan yang selanjutnya akan dipresentasikan di depan kelas.

“Sekembalinya mereka di sekolah, anak-anak diwajibkan membuat laporannya dan siap dipresentasikan di depan kelas,” ujar Kartika menutup percakapan.

Bagi anak-anak SDK Kalam Kudus Merauke, kunjungan itu pun menjadi pelajaran berharga: bahwa pengetahuan tidak hanya tersimpan di dalam buku, tetapi juga dapat ditemukan ketika mereka berani datang, melihat, bertanya, dan mengalami sendiri.

 

Editor: Dar Edi Yoga