ASKARA - Komitmen politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terhadap negara tetangga Timor Leste tidak berhenti sebagai retorika diplomasi. Komitmen itu kini mulai direalisasikan secara konkret.
Tim Ahli Kelautan, Perikanan, dan Pariwisata Bahari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan resmi bertolak menuju Dili, Timor Leste, dengan titik transit di Denpasar, Bali, pada Minggu, 4 Oktober 2026. Keberangkatan ini menandai dimulainya babak baru kerja sama ekonomi biru antara Indonesia dan Timor Leste yang digagas melalui jalur diplomasi partai.
Misi strategis ini merupakan tindak lanjut langsung dari kunjungan bersejarah Ibu Megawati Soekarnoputri ke Dili pada Juli 2026 lalu. Dalam pertemuan hangat dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta dan masyarakat di sana, Presiden ke-5 RI itu menegaskan satu pesan kunci: kemajuan Timor Leste adalah bagian dari tanggung jawab moral dan stabilitas kawasan, dan PDI Perjuangan siap membantu membangun sektor kelautan secara komprehensif, dari hulu ke hilir.
Jika selama ini Timor Leste dikenal dengan tantangan sebagai negara kepulauan muda yang masih berjuang mencapai kemandirian pangan dan ekonomi, PDI Perjuangan melihat laut sebagai jawaban. Garis pantai sepanjang lebih dari 700 kilometer yang dimiliki Timor Leste adalah modal raksasa yang belum tergarap optimal.
Oleh karena itu, bantuan yang dirancang bukan sekadar bantuan alat tangkap. Tim ahli menyiapkan blueprint pembangunan ekonomi biru dengan empat pilar utama yang saling terintegrasi:
1. Perikanan Tangkap: Modernisasi armada, teknologi penangkapan ramah lingkungan, dan peningkatan kapasitas nelayan.
2. Perikanan Budidaya: Pengembangan budidaya laut dan pesisir untuk ketahanan pangan dan komoditas ekspor.
3. Industri Pengolahan Hasil Perikanan: Membangun rantai dingin (cold chain) dan industri hilir agar nilai tambah tidak lari ke luar negeri.
4. Pariwisata Bahari: Mengubah keindahan bawah laut Atauro dan Jaco menjadi destinasi pariwisata bahari kelas dunia yang berkelanjutan.
Untuk memastikan misi ini tidak main-main, PDI Perjuangan menurunkan formasi terbaiknya. Tim ini dipimpin langsung oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.
Sosok Prof Rokhmin bukan orang baru bagi Timor Leste maupun dunia maritim. Menteri Kelautan dan Perikanan di era Presiden Megawati tersebut dikenal luas sebagai Bapak Poros Maritim Indonesia dan arsitek utama konsep ekonomi biru nasional. Kehadirannya menjadi jaminan bahwa transfer pengetahuan yang diberikan akan berbasis sains dan pengalaman birokrasi tingkat tinggi.
Demi memaksimalkan misi, Prof. Rokhmin membawa lima pakar pilihan di bidangnya masing-masing yang telah malang melintang di level nasional dan internasional.
Mereka adalah 1. Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS (Ketua Tim, Ketua DPP Bidang Kelautan dan Perikanan).
2. Prof. Dr. Sugeng Harihusodo (Ahli Perikanan Tangkap).
3. Dr. Irzal Effendi (Ahli Perikanan Budidaya).
4. Ir. Cipto Aji Gunawan (Ahli Pariwisata Bahari)
5. Bela Rahma Sahida, SPi, MSi (Ahli Industri Pengolahan Hasil Perikanan)
6. Ir. Hanjaya (Administrasi dan Logistik).
Pembagian tugas ini menunjukkan pendekatan yang sangat komprehensif. Prof. Sugeng Harihusodo akan fokus pada modernisasi armada dan teknologi tangkap berkelanjutan. Dr. Irzal Effendi akan menyiapkan peta jalan budidaya laut untuk ketahanan pangan. Ir. Cipto Aji Gunawan bertugas merancang masterplan pariwisata bahari kelas dunia, sementara Bela Rahma Sahida akan memastikan hasil laut Timor Leste memiliki nilai tambah melalui industri pengolahan yang modern. Ir. Hanjaya menjadi penopang agar seluruh misi berjalan logistik dan administratifnya berjalan mulus.
Keberangkatan tim ini dimaknai sebagai diplomasi partai yang melampaui sekat-sekat formal kenegaraan. PDI Perjuangan memandang kemajuan Timor Leste sebagai bagian integral dari stabilitas dan kesejahteraan kawasan Asia Tenggara. Ketika Timor Leste maju dan mandiri secara ekonomi melalui lautnya, maka kawasan akan lebih stabil.
Pesan penuh semangat pun disampaikan tim sesaat sebelum lepas landas dari Denpasar menuju Dili.
"Ini adalah diplomasi partai. Ini adalah politik kemanusiaan dan politik bertetangga baik. PDI Perjuangan memandang hubungan historis Indonesia dan Timor Leste harus dirajut kembali melalui kerja sama yang saling menguatkan, bukan saling meninggalkan," ujar prof. Rokhmin Dahuri.
Langkah ini juga dinilai sebagai soft diplomacy yang cerdas. Di tengah persaingan pengaruh global di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara, Indonesia melalui PDI Perjuangan hadir dengan pendekatan kesejahteraan, bukan pendekatan keamanan semata.
Dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, sebelum boarding menuju Dili, tim menyampaikan pesan singkat namun penuh makna yang menjadi salam khas banteng: "Mohon doa. Terima kasih. Merdeka!"