Jumat, 02 Oktober 2026 | 23:49
NEWS

Festival Kalimaro IV, Ketika Sungai Menjadi Nadi Kehidupan Masyarakat Merauke

Festival Kalimaro IV, Ketika Sungai Menjadi Nadi Kehidupan Masyarakat Merauke
Assisten Deputi Strategi Event , Raden Wisnu Sindhutrisno memberika piagam penghargaan KEN kepada Direktur Yayasan Kali Maro Bangkit (Dok Askara)

ASKARA - Dari tepian Sungai Kalimaro di Yonggo, Dusun Sirapu, Kampung Urumb, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, sebuah cerita tentang alam, budaya, dan harapan masyarakat Papua Selatan kembali mengalir.

Festival Kalimaro IV Tahun 2026 resmi dibuka Kamis (1/10/2026). Tahun ini, festival yang lahir dari masyarakat tersebut mendapat pengakuan dengan terpilih sebagai salah satu dari 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Pembukaan dilakukan oleh Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI, Raden Wisnu Sindhutrisno. Hadir pula perwakilan Gubernur Papua Selatan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan Dr. Paskalis Prayitno, Ketua BP3OKP Dr. Fauzun Nihayah, Wakil Bupati Merauke Jermias Paulus Ruben Ndiken, Sekda Merauke Josephine Iriani Kewamijai, jajaran Forkopimda serta pimpinan OPD provinsi dan kabupaten.

Bagi masyarakat setempat, Festival Kalimaro bukan sekadar perhelatan wisata. Festival ini lahir dari kepedulian untuk menjaga hubungan masyarakat dengan sungai, alam, dan kebudayaan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Gagasan festival tersebut pertama kali digagas pada 2022 oleh Pastor Andreas Fanumbi dari Kevikepan Wendu. Sejak itu, Festival Kalimaro rutin digelar setiap 1–5 Oktober dan dalam perkembangannya mendapat dukungan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Merauke.

Perjalanan itu kemudian melahirkan Yayasan Kalimaro Bangkit yang bekerja bersama Perkumpulan Harmoni Alam Papuana untuk mendampingi masyarakat lokal di kawasan pesisir dan sepanjang wilayah Kalimaro, mulai dari Kampung Urumb, Dusun Serapu, Bahor, Notuf, Wendu, Matara hingga Pantai Anasai.

Pengakuan sebagai bagian dari KEN 2026 menjadi tonggak baru bagi masyarakat yang selama ini merawat festival tersebut dengan segala keterbatasannya.

Di tengah masyarakat yang hadir, Direktur Yayasan Kalimaro Bangkit, Josephine Iriani Kewamijai, perempuan berdarah Suku Yei dari hulu Kalimaro, menerima piagam penghargaan KEN yang diserahkan Raden Wisnu Sindhutrisno mewakili Menteri Pariwisata RI.

Festival tahun ini mengangkat tema “Animha: The Living Rivers Civilization of Marind”. Tema tersebut menggambarkan sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian yang hidup dari peradaban dan kehidupan masyarakat Marind.

Melalui sambutan yang disampaikan lewat videotron, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan dan Pemerintah Kabupaten Merauke terhadap Festival Kalimaro.

Ia berharap keberadaan festival tidak berhenti sebagai agenda pariwisata, tetapi memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal. Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga dan menyukseskan Festival Kalimaro sebagai bagian dari KEN.

Program KEN sendiri merupakan salah satu program strategis Kementerian Pariwisata. Pada 2025, program tersebut disebut mendorong lebih dari 10 juta kunjungan wisatawan, dengan perputaran ekonomi mencapai Rp17,01 triliun serta melibatkan pelaku seni, komunitas, UMKM, dan tenaga kerja.

Bagi Josephine, penghargaan tersebut bukan garis akhir. Justru menjadi dorongan untuk membawa Festival Kalimaro tumbuh lebih jauh.

“Kami sangat bahagia. Mohon doa agar tahun depan Festival Kalimaro bisa masuk 10 besar destinasi wisata,” ujar Josephine kepada Askara.

Ia mengakui masih banyak hal yang harus dibenahi. Namun perjalanan sejak 2022 hingga kini menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menjaga sebuah gerakan budaya dan pariwisata dengan semangat yang tidak selalu mudah.

“Kami menyadari masih banyak yang harus dibenahi. Sekalipun jatuh bangun sejauh ini, kami merasa puas. Terima kasih atas dukungan pemerintah melalui Dinas Pariwisata, baik provinsi maupun kabupaten,” katanya.

Di tepian Kalimaro, harapan itu kini mengalir bersama sungai. Bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan, tetapi tentang memastikan masyarakat lokal menjadi bagian utama dari manfaat yang lahir dari kekayaan alam dan budaya mereka sendiri.

Festival Kalimaro pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah acara. Ia adalah cerita tentang masyarakat yang menjaga sungainya, merawat budayanya, dan perlahan memperkenalkan wajah Papua Selatan kepada Indonesia melalui jalan yang mereka bangun sendiri.

 

Editor: Caecilia Eersta