Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:17
NEWS

Festival Kalimaro IV Ditutup Meriah, Budaya dan Persahabatan Papua Selatan Jadi Kekuatan

Festival Kalimaro IV Ditutup Meriah, Budaya dan Persahabatan Papua Selatan Jadi Kekuatan
Kadis Pendidikan PPS , Bupati Merauke, Ketua Adat, Direktur Yayasan Kalimaro Bangkit, menabuh tifa tanda selesainya Festival Kalimaro IV 2026 (Dok Winona)

ASKARA - Dentuman tifa mengiringi berakhirnya Festival Kalimaro IV Tahun 2026 di Yonggo, Dusun Serapu, Kampung Urumb, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Senin (5/10/2026).

Tifa atau kandara dalam bahasa Marind menjadi penanda penutupan festival budaya dan religi tersebut. Pemukulan kandara dilakukan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan Dr. Paskalis Prayitno, AP, M.Si., bersama Bupati Merauke, para ketua adat, Romo Diosesan Andreas Fanumby, Direktur Yayasan Kalimaro Bangkit, jajaran Forkopimda serta pimpinan OPD lingkup provinsi dan Kabupaten Merauke.

Namun, penutupan Festival Kalimaro IV bukan sekadar akhir sebuah perhelatan. Di balik panggung dan keramaian, festival ini memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Bupati Merauke Yosep Gebze memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan Festival Kalimaro IV.

Menurut Yosep, keberhasilan penyelenggaraan festival menjadi modal penting untuk membangun kegiatan yang lebih baik pada masa mendatang. Ia mendorong Yayasan Kalimaro Bangkit bersama instansi terkait untuk memperkuat sinergi, terutama dengan sektor pariwisata.

“Banyak hal yang menjadi catatan untuk dibenahi ke depan. Bagaimana pihak yayasan bekerja sama dengan instansi terkait, dalam hal ini dinas pariwisata baik provinsi maupun kabupaten, membangun sinergitas, berinovasi menemukan dan membangun daya tarik bagi para wisatawan untuk datang ke festival ini,” ujar Yosep.

Ia menilai kekuatan Festival Kalimaro terletak pada keunikan yang tidak hanya berbicara tentang budaya dan seni, tetapi juga menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat.

“Keunikan budaya, seni, ekonomi lewat UMKM menjadi magnet yang menarik,” tambahnya.

Didatangi Ribuan Pengunjung

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Dr. Paskalis Prayitno, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kalimaro IV yang mampu menarik perhatian masyarakat.

Menurut Paskalis, festival tersebut setiap harinya mampu menyedot sekitar 2.500 pengunjung.

Capaian itu, kata dia, menunjukkan bahwa kegiatan berbasis budaya memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari kekuatan pariwisata dan ekonomi kreatif Papua Selatan.

Pemerintah Provinsi Papua Selatan, lanjut Paskalis, berkomitmen memberikan dukungan terhadap kegiatan serupa, termasuk pengembangan festival budaya di kabupaten lain.

“Kami akan mendukung kegiatan seperti ini, termasuk di kabupaten lainnya seperti Kabupaten Asmat, Mappi dan Boven Digoel,” tegas Paskalis.

Budaya Menjadi Titik Temu

Festival Kalimaro IV diselenggarakan Yayasan Kalimaro Bangkit dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Dinas Pariwisata Provinsi Papua Selatan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Merauke serta Dinas Perindagkop Kabupaten Merauke.

Sejumlah unsur lainnya turut mendukung, antara lain Basarnas, Perkumpulan Harmoni Alam Papuana, TNI-Polri, para ketua adat dan polisi adat.

Kemegahan panggung dan berbagai sarana pendukung festival juga tidak terlepas dari kerja sama panitia dengan event organizer Terumbu Karang.

Namun, bagi masyarakat yang terlibat, keberhasilan festival bukan hanya diukur dari kemeriahan panggung.

Ada kebersamaan yang tumbuh dari perjumpaan masyarakat adat dan berbagai komunitas. Ada budaya yang kembali diperkenalkan kepada generasi muda. Ada pula harapan agar kekayaan Papua Selatan dapat dikenal lebih luas tanpa kehilangan akar tradisinya.

Perasaan itu tergambar dari kesaksian Josefina Kewamijai yang mengaku bangga melihat Festival Kalimaro IV 2026 dapat berlangsung sukses.

Festival tersebut juga masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah pencapaian yang menurut Josefina tidak lahir dengan mudah.

“Sebagai perempuan Papua, saya bangga karena kesuksesan ini didukung oleh penggagas yang luar biasa, Pastor Andreas Fanumbi. Seluruh masyarakat adat telah berkolaborasi sepanjang Serapu, Anasai, Wendu, Urumb, bahkan dari semua suku,” ungkap Josefina dengan haru.

Ia menyebut keterlibatan masyarakat dari berbagai wilayah dan latar belakang menjadi salah satu kekuatan utama festival.

Mulai dari masyarakat Suku Yeinan, Asmat, Mappi, Boven Digoel hingga Korowai Kombay turut mengambil bagian dalam semangat kebersamaan tersebut.

“Semua telah menyukseskan festival budaya dan religi ini dengan penuh rasa persahabatan,” katanya.

Ditutup Musik dan Kembang Api

Suasana penutupan Festival Kalimaro IV semakin semarak dengan penampilan para pengisi acara.

Pembawa acara Papua Selatan Frangky Wohel dan Winona berkolaborasi dengan generasi muda Papua Selatan Paulindra Gebze dan Angel Gebze.

Sejumlah grup musik, di antaranya One Scot, Merauke Paradise dan Remover, turut menghibur masyarakat yang hadir.

Malam pun ditutup dengan kemeriahan kembang api yang menerangi langit Yonggo.

Di bawah cahaya kembang api itu, Festival Kalimaro IV 2026 akhirnya berakhir.

Tetapi pesan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang daripada durasi sebuah festival: bahwa budaya dapat menjadi jembatan, masyarakat adat dapat menjadi kekuatan, dan keberagaman dapat dirayakan dalam semangat persahabatan.

Dari Serapu, Urumb, dan tanah Merauke, Festival Kalimaro IV membawa satu pesan sederhana, merawat budaya berarti merawat identitas, sementara merawat persahabatan berarti menjaga masa depan Papua Selatan.

 

Editor: Onaria Fransisca