Minggu, 27 September 2026 | 21:12
OPINI

Mengenang Guruh Soekarno Putra, Sang Maestro Seni Indonesia

Mengenang Guruh Soekarno Putra, Sang Maestro Seni Indonesia
Guruh Soekarno Putra (ilustrasi)

Oleh: Agusto Sulistio - Citizen Journlist

ASKARA - Sabtu, 26 September 2026, Indonesia kehilangan salah satu maestro seninya, Guruh Soekarno Putra. Bagi saya, Mas Guruh bukan hanya pencipta lagu, tetapi maestro musik, tari, koreografi, seni pertunjukan, tata panggung, busana dan kebudayaan yang mampu menyatukan unsur tradisional Indonesia dengan sentuhan modern.

Karya-karyanya memiliki kualitas seni yang kuat, indah, kreatif dan menyentuh nilai-nilai budaya ke-Indonesia-an. Mas Guruh tidak cuma membuat musik untuk didengar, tetapi menghadirkan sebuah pengalaman seni melalui perpaduan musik, tari, gerak, busana dan panggung.

Saya mengenal Mas Guruh sejak masih muda melalui kaset dan radio transistor gelombang AM di Bandung. Saat itu saya mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan para artis ternama yang tergabung dalam Swara Maharddhika, kelompok seni yang didirikan Guruh pada 1977. Dari sanalah saya mulai mengenal karya-karyanya.

Ada satu kenangan yang sangat melekat. Ketika masih duduk di bangku SD, saya mulai belajar gitar, kemudian piano. Salah satu lagu yang saya coba mainkan adalah "Galih dan Ratna". Bagi saya waktu itu, memainkan lagu tersebut tidak mudah. Chord-nya terasa sulit. Tetapi justru ketika berhasil memainkannya mendekati versi asli, ada kepuasan tersendiri.
Kini saya memahami bahwa istilah sederhana yang dulu saya sebut "chord-nya mahal" memang dapat dijelaskan secara musikal. Bukan mahal dalam arti harga, tetapi karena pilihan harmoni, progresi akor, hubungan melodi dengan bass dan susunan nada memberikan warna yang kaya. Perpindahan chord dapat menciptakan rasa romantis, tegang, lega maupun melankolis. Itulah salah satu kekuatan komposisi Guruh, terdengar indah sekaligus mempunyai karakter.

"Galih dan Ratna" dikenal melalui film "Gita Cinta dari SMA" pada 1979 dan kemudian semakin populer melalui Chrisye dalam album "Puspa Indah" pada 1980. Karya lain Guruh yang melekat dalam ingatan masyarakat antara lain "Zamrud Khatulistiwa" dan "Renjana" yang dikenal sejak 1976, "Kala Sang Surya Tenggelam" yang populer pada akhir 1970-an, "Kembalikan Baliku" yang dibawakan Yopie Latul pada 1987, serta "Kala Cinta Menggoda" yang dipopulerkan Chrisye pada 1997.

Namun kebesaran Guruh tidak hanya berada pada lagu. Melalui Swara Maharddhika dan berbagai Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra, ia menghadirkan seni sebagai pertunjukan besar yang memadukan musik, tari, koreografi, busana dan teatrikal. Di dalamnya terasa kuat kecintaannya kepada kebudayaan Nusantara.

Bagi saya, inilah salah satu warisan terbesar Mas Guruh, yng dibuktikan bahwa budaya Indonesia tidak harus berhadapan dengan modernitas. Tradisi dapat diolah menjadi karya modern tanpa kehilangan jati dirinya. Musik, tari, busana dan kekayaan Nusantara dapat menjadi sumber kreativitas yang tidak pernah habis.

Mengenang wafatnya Mas Guruh Soekarno Putra, yang kita kenang bukan hanya seorang putra Bung Karno atau seorang tokoh yang pernah dikenal publik. Tapi kita mengenang seorang seniman yang sepanjang hidupnya menjadikan karya sebagai bentuk kecintaan kepada Indonesia.

Saya merasa beruntung pernah mengenal karya Mas Guruh sejak kecil melalui kaset dan radio, bahkan belajar gitar dan piano dengan memainkan "Galih dan Ratna". Saat itu saya belum memahami teori harmoni, progresi akor atau komposisi. Yang saya tahu bahwa memainkan lagu tersebut terasa indah dan membanggakan.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya semakin memahami bahwa yang "mahal" dari karya Mas Guruh bukan chord-nya. Yang mahal adalah kreativitas, rasa, keindahan dan jiwa Indonesia yang ada di balik setiap nada dan karya.

Selamat jalan, Mas Guruh Soekarno Putra.

Indonesia kehilangan seorang maestro, tetapi karya seni tidak pernah benar-benar mati. Selama lagu-lagunya masih dinyanyikan, tari-tarinya masih dipentaskan dan generasi muda masih belajar mencintai kebudayaan Indonesia, nama Guruh Soekarno Putra akan tetap hidup dalam perjalanan seni dan budaya bangsa.

Komentar