Selasa, 22 September 2026 | 11:12
NEWS

Misi Kedaulatan Akuakultur, Prof. Rokhmin Dahuri Sambangi Laboratorium Raksasa Maritim di Qingdao

Misi Kedaulatan Akuakultur, Prof. Rokhmin Dahuri Sambangi Laboratorium Raksasa Maritim di Qingdao
Prof. Rokhmin Dahuri berdiskusi dengan jajaran pimpinan dan peneliti (foto.rd media)

ASKARA - Diplomasi akuakultur Indonesia bergerak agresif. Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. melakukan kunjungan kerja maraton ke dua pusat inovasi kelautan terkemuka di Kota Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, Jumat (18/9).

Agenda ini menjadi bagian dari strategi penguatan transfer teknologi dan riset perikanan budidaya modern untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di sektor maritim.

Kunjungan difokuskan pada tiga pilar utama: pemuliaan benih unggul atau biobreeding, modernisasi budidaya laut lepas pantai atau offshore mariculture, serta hilirisasi produk berbasis ekonomi sirkular.

Bedah Teknologi Tiram, Lobster, dan Udang di YSFRI

Lokasi pertama yang disambangi adalah Yellow Sea Fisheries Research Institute (YSFRI), yang menaungi State Key Laboratory of Mariculture Biobreeding and Sustainable Goods - laboratorium nasional pemuliaan benih laut milik Tiongkok.

Di sana, Prof. Rokhmin berdiskusi langsung dengan jajaran pimpinan dan peneliti senior YSFRI. Ia menawarkan kemitraan riset konkret antara institusi riset Tiongkok dan Indonesia untuk tiga komoditas unggulan masa depan.

"Untuk tiram, lobster, dan udang. Kita buka peluang budidaya terintegrasi," ujar Rokhmin.

Untuk tiram, eksplorasi awal diarahkan ke kawasan Selat Bali. Untuk lobster, fokus pada teknologi pembenihan dan pembesaran modern. Sedangkan untuk udang, pada peningkatan produktivitas tambak skala industri yang berkelanjutan.

Yang paling menyita perhatian adalah hilirisasi. Di YSFRI, limbah cangkang tiram yang selama ini dianggap sampah berhasil diolah menjadi pupuk hayati atau biofertilizer. Inovasi ini telah diaplikasikan di jutaan hektare lahan pertanian di Tiongkok tanpa merusak tanah dengan bahan kimia.

Intip Keramba Raksasa Tahan Badai di Qihang Innovation

Agenda berlanjut ke Qihang Innovation Company, perusahaan pionir penyedia solusi teknologi fasilitas perikanan lepas pantai dan smart aquaculture.

Didampingi langsung Direktur Suan Ming Liang (Sam), delegasi meninjau langsung maket dan purwarupa teknologi budidaya laut masa depan, di antaranya:

Keramba Jaring Apung Lingkar HDPE berdiameter raksasa yang tahan terhadap gelombang samudera, Platform Terapung Multiguna yang berfungsi sebagai gudang logistik dan pos jaga yang terintegrasi dengan pembangkit energi angin hybrid, serta Sistem Robotik Bawah Air untuk otomasi pembersihan keramba dan pemantauan biota secara cerdas.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan potensi budidaya lestari laut yang mencapai puluhan juta ton per tahun, Indonesia tidak boleh lagi mengandalkan cara-cara tradisional.

"Kemajuan akuakultur kita di masa depan harus digerakkan oleh riset bioteknologi yang presisi, hilirisasi yang tuntas, serta adopsi teknologi fasilitas lepas pantai modern yang ramah lingkungan. Dari pesisir hingga laut lepas, potensi bahari harus bermuara pada kemandirian dan kemakmuran rakyat Indonesia," tegasnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi pintu masuk kerja sama resmi riset dan investasi teknologi akuakultur modern antara Indonesia - Tiongkok, untuk mendongkrak daya saing pembudidaya nasional dan menjamin ketersediaan protein bergizi bagi bangsa.

Komentar