Rabu, 21 Oktober 2026 | 17:35
NEWS

Di ICAI 2026 Semarang, Prof. Rokhmin Dahuri Tegaskan Akuakultur Jadi Gamechanger Indonesia Emas 2045

Di ICAI 2026 Semarang, Prof. Rokhmin Dahuri Tegaskan Akuakultur Jadi Gamechanger Indonesia Emas 2045
Prof Rokhmin Dahuri (foto.rd media)

ASKARA – Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menegaskan bahwa akuakultur bukan sekadar budidaya ikan, melainkan kunci utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Hal itu disampaikan saat menjadi Keynote Speech pada The 12th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2026 di Hotel Tentrem, Semarang, 21-22 Oktober 2026.

Di hadapan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, ilmuwan mancanegara, hingga pelaku industri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini menyampaikan pesan tegas.

"Akuakultur memiliki potensi untuk menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan dan gizi, ketahanan farmasi, ketahanan energi, hingga pengentasan kemiskinan," ujar Anggota Komisi IV DPR RI ini.

Ia mengutip data FAO State of World Fisheries and Aquaculture 2026 bahwa produksi perikanan dan akuakultur global mencapai 235 juta ton pada 2024. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, produksi akuakultur menyalip perikanan tangkap, dengan kontribusi 53% atau 103 juta ton hewan akuatik.

Menurutnya, masa depan pangan dunia akan sangat bergantung pada akuakultur. Apalagi, dengan kemajuan teknologi seperti AI, IoT, Blockchain, Robotika, hingga rekayasa genom, akuakultur kini bisa menghasilkan lebih dari sekadar ikan.

"Ilmuwan Tiongkok sejak 2010 sudah bisa budidaya padi di air laut. Artinya akuakultur menghasilkan tanaman pangan sumber karbohidrat bukan mimpi lagi," ungkapnya.

Potensi Indonesia Belum Optimal

Meski total produksi perikanan Indonesia mencapai 26,26 juta ton pada 2025 dengan nilai ekspor US$ 6,27 miliar, Prof Rokhmin mengingatkan potensi tersebut masih jauh dari optimal.

Tantangan struktural seperti produktivitas tradisional yang rendah, biaya pakan tinggi, penyakit ikan, hingga akses permodalan masih membelenggu pembudidaya kecil.

"Ukuran sejati pembangunan akuakultur seharusnya bukan berapa banyak ton ikan dan udang yang kita produksi, tetapi seberapa efektif produksi itu meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, dan menjaga ekosistem akuatik," tegas Guru Besar IPB University tersebut.

Untuk itu, ia mengusulkan 7 transformasi strategis. Transformasi pertama adalah pengembangan akuakultur berbasis daya dukung ekologis dan perencanaan tata ruang ilmiah.

Ia mencontohkan wilayah pesisir Demak, Jawa Tengah, yang berhasil mengintegrasikan rehabilitasi mangrove dengan budidaya yang bertanggung jawab.

"Produksi ekonomi dan restorasi ekologis bisa saling melengkapi," tegasnya.

Rantai Pasok Terintegrasi

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin Dahuri membongkar peta jalan besarnya dalam 7 Transformasi Strategis. Sorotan utamanya bukan lagi soal berapa banyak ikan yang dipanen, tapi seberapa besar kesejahteraan yang dirasakan petani.

"The true measure of aquaculture development should not be how many tons of fish and shrimp we produce, but how effectively that production improves people's welfare," tegasnya yang kemudian diterjemahkan menjadi prinsip baru pembangunan akuakultur nasional.

Pada transformasi keempat, Prof. Rokhmin menekankan kegagalan akuakultur jika hanya fokus di kolam (on-farm). Indonesia harus membangun klaster industri yang terintegrasi.

"Udang, ikan, rumput laut, dan kerang jangan terus dijual mentah. Harus jadi produk bernilai tinggi: makanan siap saji, nutraseutikal, kosmetik, hingga bio-material ramah lingkungan," jelasnya.

Ia mencontohkan rumput laut. Selama ini diekspor mentah, padahal bisa menjadi agar, karagenan, alginat, hingga bahan pangan fungsional. "Ambisi kita harus berubah: dari produsen utama komoditas menjadi pemimpin global industri akuatik yang kompetitif dan berkelanjutan."

Yang paling menarik adalah transformasi kelima. Dengan lantang ia menyebut pembangunan ekonomi tidak bisa disebut sukses jika petani yang memproduksi pangan tetap miskin.

"Modernisasi akuakultur tidak boleh menggusur petani kecil. Ia harus memberdayakan mereka," ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Ia mengusulkan penguatan koperasi, akses pembiayaan digital, asuransi, dan kemitraan adil dengan perusahaan besar melalui kontrak transparan dan transfer teknologi. Peran perempuan dalam pengolahan dan pemasaran serta generasi muda sebagai wirausahawan digital juga harus diperkuat.

Di akhir pidato (Closing Remarks), Prof. Rokhmin menitipkan 3 pesan fundamental:

Pertama, akuakultur bukan lagi pelengkap pangan, melainkan mesin utama produksi pangan akuatik global.

Kedua, akuakultur hanya akan menjadi gamechanger Indonesia Emas 2045 jika dikembangkan secara produktif, kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan.

Ketiga, akuakultur harus berkontribusi bukan hanya untuk profit perusahaan, tetapi untuk ketahanan pangan, lapangan kerja berkualitas, keadilan sosial, dan kemakmuran abadi umat manusia.

"Mari kita transformasikan akuakultur dari sektor ekonomi yang menjanjikan menjadi kekuatan yang kuat untuk kemakmuran nasional dan masa depan yang lebih baik bagi umat manusia," tutupnya.

Editor: Husnie