Kamis, 17 September 2026 | 11:29
TRAVELLING

Baudeogi Mengguncang Dunia Lewat Festival Tradisi Korea

Baudeogi Mengguncang Dunia Lewat Festival Tradisi Korea
Flayer “Joseon's First Idol, Baudeogi, Shakes the World.” (Dok JAK)

ASKARA - Lebih dari tiga abad lalu, ketika ruang bagi perempuan di panggung publik masih sangat terbatas, seorang perempuan di Korea justru memilih jalan yang berbeda. Namanya Baudeogi.

Ia bukan bangsawan. Bukan pula penguasa kerajaan. Baudeogi adalah seniman yang berhasil menembus tembok budaya pada zamannya hingga mencapai posisi tertinggi sebagai kkokdusoe, pemimpin kelompok Namsadang yang didominasi laki-laki pada era Dinasti Joseon.

Kini, kisah perempuan itu kembali dihidupkan dari Anseong, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Festival Anseong Namsadang Baudeogi 2026 akan digelar 2 - 5 Oktober 2026 di Anseong Matchum Land dan kawasan Sungai Anseongcheon. Sehari sebelumnya, 1 Oktober, rangkaian festival dibuka melalui acara malam pembuka.

Tahun ini, penyelenggara mengangkat tema “Joseon's First Idol, Baudeogi, Shakes the World.” Sebuah tema yang sengaja membawa nama Baudeogi keluar dari buku sejarah dan menjadikannya simbol bagaimana seni tradisional dapat menembus batas zaman dan negara.

Baudeogi dikenang karena kemampuan artistik sekaligus kepemimpinannya. Di tengah kelompok Namsadang yang mayoritas laki-laki, ia mampu mencapai posisi kkokdusoe dan memimpin Namsadang Anseong.

Warisan itulah yang hingga kini terus hidup melalui Anseong Namsadang dan menjadi napas utama festival.

Panggung festival akan menghadirkan Namsadangnori, seni pertunjukan tradisional Korea yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Seni ini bukan satu pertunjukan tunggal, melainkan rangkaian tradisi yang terdiri antara lain dari pungmul, beona, salpan, eoreum atau akrobat berjalan di atas tali, deotboegi, dan deolmi.

Tradisi tersebut kemudian bertemu dengan kreativitas masa kini melalui Baudeogi Signature Show, sebuah pertunjukan yang memadukan seni tradisional dengan tata panggung modern.

Anseong juga membuka panggung bagi dunia. Pertunjukan folk internasional CIOFF akan menghadirkan seni tradisional dari berbagai negara, memungkinkan pengunjung tidak hanya mengenal budaya Korea, tetapi juga bertemu dengan keragaman tradisi dunia dalam satu festival.

Yang menarik, festival ini tidak hanya mengajak orang datang dan menonton. Pengunjung juga diajak menjadi bagian dari pengalaman budaya.

Salah satunya melalui Anseong Old Market, yang menghadirkan kembali suasana Pasar Anseong pada masa Joseon. Pasar tersebut dikenal sebagai salah satu dari tiga pasar tradisional utama pada era tersebut.

Ketika malam tiba, festival berlanjut melalui Baudeogi Light Festival. Ada pula festival paduan suara warga, pertunjukan orkestra, lomba menyanyi bagi warga asing, pengalaman budaya tradisional serta kuliner lokal.

Dengan begitu, sejarah tidak ditempatkan sebagai benda museum. Ia dibuat hadir dalam bentuk musik, gerak, cahaya, makanan dan interaksi antarmanusia.

Anseong juga menjadikan festival ini sebagai pintu pertukaran budaya internasional. Kelompok seni dari luar negeri dan perwakilan misi diplomatik asing di Korea Selatan akan diundang. Panitia menyiapkan foreign supporters, sekaligus layanan interpretasi dan informasi dalam berbagai bahasa.

Seorang pejabat Pemerintah Kota Anseong mengatakan Namsadangnori dan Baudeogi merupakan aset budaya yang khas bagi daerah tersebut.

“Namsadangnori dan Baudeogi adalah aset budaya unik Anseong,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).

Melalui Festival Baudeogi 2026, Anseong ingin membawa kegembiraan dan nilai artistik budaya tradisional Korea kepada masyarakat dunia sekaligus mengembangkan festival tersebut menjadi salah satu ajang budaya tradisional Korea yang memiliki jangkauan internasional.

Pada akhirnya, kekuatan Festival Baudeogi bukan hanya terletak pada kemeriahan panggung. Ada sebuah kisah manusia di baliknya, tentang seorang perempuan yang berani menembus batas zamannya.

Baudeogi hidup kembali bukan untuk sekadar dikenang. Ia dihadirkan untuk mengingatkan dunia bahwa tradisi yang dirawat dengan baik tidak akan menjadi masa lalu. Ia bisa kembali berbicara, bahkan mengguncang dunia.

 

Komentar