Selasa, 15 September 2026 | 16:32
NEWS

BMKG Perkuat Pantauan Selat Sunda, Dampak Anak Krakatau Jadi Perhatian

BMKG Perkuat Pantauan Selat Sunda, Dampak Anak Krakatau Jadi Perhatian
Gunung Krakatau dan Selat Sunda (Dok Pixabay)

ASKARA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat sistem pemantauan Selat Sunda melalui Survei Meteo-Oseanografi Terpadu yang berlangsung 14–25 September 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan akurasi informasi cuaca dan kondisi laut, sekaligus mendukung keselamatan pelayaran.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan Selat Sunda merupakan kawasan strategis dengan dinamika atmosfer dan oseanografi yang kompleks. Karena itu, penguatan observasi langsung diperlukan agar informasi meteorologi maritim semakin akurat dan andal.

“Selat Sunda adalah kawasan perairan yang sangat kompleks dan strategis. Informasi cuaca dan kondisi laut yang disampaikan BMKG memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat,” ujar Faisal saat melepas tim survei di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra menjelaskan survei tersebut juga menjadi bagian dari verifikasi dan validasi sistem observasi serta prakiraan meteorologi maritim BMKG. Tim akan mengumpulkan data meteorologi dan oseanografi secara langsung (in-situ) di perairan Selat Sunda sebagai pembanding terhadap hasil pemodelan dan sistem observasi.

Salah satu fokusnya adalah validasi High Frequency Radar (HF Radar) untuk memantau kondisi permukaan laut, serta sistem coupled ocean-atmosphere BMKG, INAWIS. Data lapangan juga akan mendukung pengembangan generasi terbaru INAWIS yang dikembangkan secara mandiri.

“Data hasil survei akan digunakan sebagai pembanding sekaligus alat validasi terhadap sistem observasi dan prakiraan yang kami operasikan,” kata Agie.

Untuk memperoleh data lapangan, tim menggunakan sejumlah instrumen, antara lain Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP), Spotter Buoy, Current Meter, dan Portable Automatic Weather Station (PAWS). Bersama STMKG, tim juga menguji prototipe Smart Autonomous Marine Sensing System atau Smart Buoy.

Survei utama didahului survei pendahuluan pada 9–11 September 2026 yang dilakukan BMKG bersama STMKG dan Stasiun Meteorologi Maritim Merak. Kegiatan tersebut mencakup pemetaan kondisi perairan, kesiapan teknis, aspek keamanan, serta koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat.

Selain untuk keselamatan pelayaran, penguatan data di Selat Sunda dinilai penting karena wilayah tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran strategis Indonesia dan berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Data meteorologi, oseanografi, geofisika, dan vulkanologi yang semakin terintegrasi diharapkan memperkuat Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS).

“Selat Sunda memiliki karakteristik oseanografi yang unik dan berada dekat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Karena itu, penguatan observasi terpadu sangat penting untuk mendukung keselamatan maritim dan peningkatan kualitas layanan informasi BMKG,” ungkap Agie.

BMKG menargetkan hasil survei menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas observasi dan prakiraan, sehingga informasi mengenai kondisi atmosfer dan laut di Selat Sunda dapat semakin cepat, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat maupun sektor pelayaran.

 

Komentar