Jumat, 11 September 2026 | 18:15
Editorial

Doa dari Penjuru Negeri untuk Delapan Jiwa di Selat Sunda

Doa dari Penjuru Negeri untuk Delapan Jiwa di Selat Sunda
Lima jurnalis yang belum kembali (Dok Askara)

ASKARA - Ada saat ketika manusia tidak lagi punya banyak kata untuk diucapkan. Ketika laut begitu luas, jarak terasa tak bertepi, dan kabar tak kunjung datang, yang tersisa adalah doa. Doa yang dipanjatkan dengan hati bergetar, dari rumah-rumah keluarga, ruang redaksi, tempat ibadah, hingga berbagai penjuru Indonesia.

Senin, 7 September 2026, lima jurnalis bersama tiga kru kapal dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Sejak saat itu, waktu seperti berjalan lebih lambat bagi keluarga dan orang-orang yang menunggu.

Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA Biro Banten, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Kantor Berita Anadolu, dan Donal, jurnalis lepas. Bersama mereka terdapat tiga kru kapal yang hingga kini juga masih dalam pencarian.

Mereka pergi untuk bekerja. Menjalankan tugas jurnalistik, mencari informasi, merekam peristiwa dan menghadirkan berita bagi masyarakat. Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan itu kemudian membuat begitu banyak orang menahan napas dan menunggu satu kabar yang sama: selamat.

Di daratan, keluarga mungkin masih menatap layar telepon. Setiap dering menghadirkan harapan sekaligus kecemasan. Setiap informasi dari laut menjadi sesuatu yang begitu berharga. Ada yang menunggu dalam diam, ada yang menangis dalam doa, dan ada yang terus percaya bahwa pertolongan Tuhan dapat datang melalui jalan yang tidak pernah disangka.

Selat Sunda hari ini bukan hanya menjadi lokasi pencarian. Ia menjadi saksi atas sebuah penantian panjang. Laut yang luas mempertemukan manusia dengan keterbatasannya: manusia dapat berusaha sekuat tenaga, tetapi pada akhirnya ada kekuatan yang jauh lebih besar dari kemampuan manusia.

Karena itu, doa mengalir dari berbagai daerah di Indonesia.

Dari keluarga besar pers, rekan-rekan wartawan, sahabat, komunitas, masyarakat, hingga mereka yang bahkan tidak mengenal secara pribadi kelima jurnalis tersebut. Mereka dipersatukan oleh satu harapan sederhana: delapan manusia itu ditemukan dan kembali dalam keadaan selamat.

Di tengah kecemasan, ikhtiar harus terus berjalan. Tim pencarian dan pertolongan bekerja melawan waktu, menyusuri perairan, mengandalkan kemampuan, teknologi, pengalaman, serta koordinasi berbagai unsur. Setiap upaya adalah bentuk harapan yang tidak boleh berhenti.

Sebab di balik nama-nama tersebut ada manusia. Ada ayah yang ditunggu anaknya. Ada suami yang dinanti keluarganya. Ada anak yang dirindukan orang tuanya. Ada sahabat yang berharap kembali mendengar suaranya.

Dan di balik seorang jurnalis, ada keluarga yang tidak pernah melihat pekerjaannya sekadar sebagai profesi. Bagi keluarga, ia adalah seseorang yang dicintai dan selalu diharapkan pulang.

Pers Indonesia pun menunggu dengan cara yang berbeda. Biasanya wartawan menunggu narasumber, mengejar informasi dan menulis berita. Kali ini, sesama wartawan menunggu kabar tentang saudara seperjuangan.

Tidak ada berita yang lebih penting saat ini selain kabar keselamatan mereka.

Malam boleh gelap. Laut boleh luas. Gelombang boleh tinggi. Tetapi manusia tidak boleh kehilangan harapan.

Doa-doa itu terus dipanjatkan dari berbagai penjuru negeri.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menjaga lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut di mana pun mereka berada. Semoga memberikan kekuatan kepada keluarga yang sedang menunggu, keselamatan kepada seluruh tim yang melakukan pencarian, dan jalan terang bagi upaya menemukan mereka.

Karena masih ada harapan.

Dan selama harapan itu masih menyala, doa tidak boleh berhenti.

Tuhan, tuntunlah mereka pulang.

 

Komentar