T'agrachullo di Andes dan Gunung Padang di Cianjur, Misteri Batu dan Langit
ASKARA - Dua situs pegunungan yang dipisahkan ribuan kilometer, T’agrachullo di kawasan Andes dan Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, menghadirkan sebuah kemiripan yang ganjil. Keduanya memperlihatkan penggunaan batu, struktur bertingkat, orientasi terhadap lingkungan dan kemungkinan hubungan antara arsitektur dengan pengamatan alam serta langit.
Dalam penggalian dan penelitian yang berlangsung pada 2018 - 2023, T’agrachullo disebut menghasilkan artefak dengan penanggalan karbon yang mencapai sekitar 1200 SM. Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa aktivitas manusia di kawasan situs memiliki jejak yang jauh lebih tua dibanding periode berkembangnya peradaban Wari yang umumnya ditempatkan sekitar 600 - 1.100 Masehi.
Sementara itu, Gunung Padang memiliki persoalan kronologi yang jauh lebih kompleks. Sejumlah hasil penanggalan yang pernah dipublikasikan menunjukkan rentang usia dari sekitar 500 SM hingga indikasi yang jauh lebih tua, mencapai sekitar 25.000 tahun, tergantung pada sampel, lapisan dan material yang dianalisis. Angka 25.000 tahun tersebut terutama menjadi bagian dari perdebatan mengenai apakah material yang bertanggal tua benar-benar merepresentasikan konstruksi manusia atau berasal dari proses geologi alamiah.
Perbedaan status bukti tersebut penting dicatat. Penanggalan karbon terhadap suatu artefak atau material organik tidak otomatis menentukan usia bangunan di atasnya. Untuk memastikan umur konstruksi, diperlukan korelasi antara sampel penanggalan, stratigrafi, konteks arkeologi dan bukti aktivitas manusia.
Namun, justru persoalan kronologi itulah yang membuat perbandingan T’agrachullo dan Gunung Padang menarik.
Di T’agrachullo terdapat Terraza Spiral, berupa 17 tingkat teras yang melingkar dan masuk ke dalam bumi. Struktur tersebut dikaitkan dengan kemampuan masyarakat pegunungan dalam mengelola air, memahami lingkungan dan mendukung sistem pertanian. Bentuknya juga membuka pertanyaan mengenai kemungkinan pemanfaatan siklus matahari dan perubahan musim sebagai penanda waktu.
Masyarakat Andes dikenal memiliki pengetahuan astronomi yang berkaitan dengan pergerakan matahari. Posisi matahari terbit dan terbenam pada waktu-waktu tertentu dalam setahun dapat digunakan untuk membaca pergantian musim, termasuk menentukan momentum tanam dan panen. Karena itu, orientasi struktur terhadap cakrawala menjadi aspek penting dalam penelitian arkeoastronomi.
Keunikan lain T’agrachullo adalah Kamar Gema, yang disebut terdiri atas sembilan ruangan berbentuk kerucut. Efek akustik ruang tersebut memunculkan dugaan mengenai fungsi ritual atau tempat penyampaian pengetahuan secara lisan. Bila dugaan tersebut terbukti, maka desain bangunan menunjukkan pemahaman yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut suara, ruang, ritual dan komunikasi manusia.
Gunung Padang pun memiliki karakter yang tidak kalah menarik. Situs ini tersusun atas beberapa teras dengan dominasi batu andesit yang ditata tanpa mortar. Posisi dan orientasi sejumlah struktur terhadap bentang alam dan cakrawala telah memunculkan hipotesis mengenai kemungkinan fungsi astronomis.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar, apakah manusia masa lalu memang sengaja merancang bangunan untuk berhubungan dengan langit?
Untuk Gunung Padang, jawabannya belum dapat dinyatakan sebagai fakta. Diperlukan pengukuran arkeoastronomi yang presisi untuk menguji apakah orientasi bangunan benar-benar mengarah pada posisi matahari saat solstis, ekuinoks atau fenomena langit tertentu. Tanpa pengujian tersebut, kesamaan arah atau posisi belum cukup untuk membuktikan fungsi astronomis.
Yang membuat perbandingan ini semakin menggelitik adalah kemunculan sejumlah elemen yang sama, pegunungan, batu tanpa mortar, teras bertingkat, pengelolaan lingkungan, orientasi ruang dan kemungkinan pembacaan matahari.
Jarak antara Andes dan Jawa sangat jauh. Belum ada bukti yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa masyarakat Wari pernah berhubungan dengan pembangun Gunung Padang. Kemiripan tersebut dapat merupakan konvergensi budaya, ketika masyarakat yang berbeda menghadapi tantangan lingkungan serupa dan mengembangkan solusi yang mirip.
Namun, jika penelitian lebih lanjut berhasil membuktikan orientasi bangunan di kedua situs memiliki hubungan kuat dengan siklus matahari, maka perbandingan T’agrachullo dan Gunung Padang akan menjadi semakin menarik.
Bukan untuk membuktikan bahwa keduanya berasal dari satu peradaban, melainkan untuk memahami seberapa jauh manusia masa lalu mampu membaca hubungan antara bumi, air, batu, musim dan langit.
Pada akhirnya, misteri terbesar mungkin bukan umur batu-batu tersebut. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, pengetahuan apa yang dimiliki manusia yang menyusunnya, dan untuk apa mereka mengarahkan batu-batu itu kepada bumi dan langit?

Komentar