Senin, 07 September 2026 | 23:33
NEWS

Water Mist Hadapi Abu Anak Krakatau, Jangan Jadi 'Sapu Langit'

Water Mist Hadapi Abu Anak Krakatau, Jangan Jadi 'Sapu Langit'
Pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen (Dok Panca)

ASKARA - Pemerintah menyiapkan water mist sebagai salah satu instrumen mitigasi untuk menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, terutama ketika kondisi atmosfer tidak mendukung terbentuknya awan hujan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Langkah tersebut dinilai memiliki dasar teknis. Namun, efektivitasnya tidak boleh hanya diukur dari perubahan udara yang terlihat oleh mata. Pemerintah perlu menunjukkan data objektif mengenai seberapa besar konsentrasi partikulat dapat diturunkan setelah intervensi dilakukan.

Pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen mengatakan, water mist layak digunakan sebagai bagian dari strategi mitigasi, tetapi bukan solusi tunggal untuk mengatasi abu vulkanik.

“Langkah pemerintah patut diapresiasi sepanjang ditempatkan sebagai instrumen mitigasi, bukan sebagai solusi tunggal. Lebih tepat water mist dipahami sebagai salah satu instrumen mitigasi, bukan ‘sapu langit’ yang mampu menghapus abu vulkanik dari atmosfer,” ujar Samuel, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, secara prinsip air memang dapat membantu menangkap sebagian partikulat di udara. Ketika droplet air bertemu dengan partikel abu, sebagian material dapat bergabung sehingga lebih mudah mengalami pengendapan.

“Secara fisika, penggunaan water mist mempunyai dasar yang dapat diterima. Tetapi pemerintah dan masyarakat harus memahami batasannya,” katanya.

Samuel mengingatkan agar penggunaan teknologi tersebut tidak menimbulkan persepsi keliru bahwa penyemprotan kabut air otomatis menyelesaikan persoalan abu vulkanik.

“Jangan sampai muncul persepsi bahwa begitu water mist disemprotkan, persoalan abu vulkanik otomatis selesai. Itu tidak sesederhana itu,” tegasnya.

Atmosfer Bukan Ruang Laboratorium

Samuel menjelaskan, atmosfer terbuka berbeda dengan ruang laboratorium. Dalam laboratorium, ukuran partikel, kelembapan, kecepatan aliran udara, ukuran droplet dan waktu kontak dapat dikendalikan.

Sebaliknya, di atmosfer terbuka seluruh variabel tersebut bergerak secara dinamis. Abu Anak Krakatau mengikuti arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer.

Partikel abu berukuran lebih besar cenderung lebih cepat mengendap. Sementara partikel yang sangat halus dapat bertahan lebih lama dan terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh.

“Karena itu, efektivitas water mist tidak bisa hanya dilihat dengan mata. Udara terlihat lebih bersih belum tentu konsentrasi partikulat benar-benar turun secara signifikan,” ujarnya.

Ia menyebut konsep deposisi basah (wet deposition) memang dikenal sebagai salah satu mekanisme penghilangan partikel vulkanik dari atmosfer. Tetes air dapat membantu menangkap partikulat sehingga material lebih mudah mengalami pengendapan.

Namun, efektivitas proses tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan karakteristik partikel. Karena itu, hasil penelitian dalam kondisi terkontrol tidak bisa begitu saja dianggap sama dengan efektivitas water mist terhadap abu Anak Krakatau di atmosfer terbuka.

Keberhasilan Harus Terukur

Karena itu, Samuel meminta pemerintah menggunakan indikator yang objektif untuk menilai keberhasilan intervensi.

“Kalau pemerintah ingin menyatakan metode tersebut efektif, harus ada pengukuran sebelum dan sesudah intervensi,” katanya.

Pengukuran, lanjutnya, dapat mencakup konsentrasi partikulat, distribusi ukuran partikel, arah dan kecepatan angin, kelembapan, cakupan wilayah penyemprotan, serta kondisi atmosfer saat operasi berlangsung.

“Dari situ baru dapat diketahui apakah terjadi penurunan konsentrasi abu dan seberapa besar pengaruh intervensinya. Jangan membuat kesimpulan berdasarkan asumsi,” ujarnya.

Samuel juga meminta penggunaan istilah “mengurai abu” dikomunikasikan secara hati-hati. Menurutnya, water mist tidak membuat abu hilang, melainkan membantu menangkap partikulat sehingga sebagian material mengalami pengendapan.

“Abunya tidak lenyap begitu saja. Ketika turun ke jalan, kendaraan, bangunan atau tanah, persoalannya berpindah ke permukaan,” kata Samuel.

Abu yang telah mengendap pun masih dapat kembali terangkat oleh angin maupun aktivitas manusia. Karena itu, mitigasi harus melihat keseluruhan siklus, bukan sekadar menurunkan partikulat dari udara.

Bukan Pengganti Hujan

Samuel juga menilai water mist tidak tepat disebut sebagai pengganti hujan secara penuh. Hujan mempunyai mekanisme dan cakupan berbeda, sementara water mist lebih tepat diposisikan sebagai instrumen tambahan atau alternatif dalam kondisi tertentu.

“Jangan dipertentangkan antara hujan dan water mist. Yang harus dibangun adalah sistem mitigasi berlapis berdasarkan kondisi atmosfer yang tersedia,” ujarnya.

Menurut Samuel, efektivitas mitigasi juga sangat ditentukan oleh integrasi data dan koordinasi antarlembaga.

PVMBG memiliki peran dalam memantau aktivitas gunung api, BMKG membaca dinamika atmosfer dan pergerakan abu, sedangkan BNPB menangani aspek kebencanaan. Pemerintah daerah, sektor kesehatan, serta keselamatan penerbangan juga harus berada dalam sistem yang terintegrasi.

“Jangan sampai masing-masing bekerja sendiri,” katanya.

Jangan Jual Harapan Teknologi

Samuel mendorong pemerintah membuka hasil pengukuran kepada publik. Jika water mist terbukti mampu menurunkan konsentrasi partikulat di wilayah tertentu, data tersebut harus disampaikan secara terbuka.

Sebaliknya, jika efektivitasnya terbatas karena faktor angin atau kondisi atmosfer, masyarakat juga perlu mengetahuinya.

“Transparansi hasil pengukuran akan lebih kuat daripada sekadar klaim keberhasilan,” ujar Samuel.

Di tengah penggunaan teknologi mitigasi, masyarakat juga diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi. Penggunaan masker, perlindungan mata, serta pembatasan aktivitas di luar ruangan tetap penting ketika konsentrasi abu meningkat.

“Teknologi tidak boleh membuat masyarakat merasa bahwa risiko sudah hilang sepenuhnya,” katanya.

Pada akhirnya, Samuel menilai water mist memiliki potensi membantu mengurangi partikulat. Namun, efektivitasnya terhadap abu Anak Krakatau harus dibuktikan melalui pengukuran lapangan.

“Jangan menggunakan pendekatan hitam-putih, seolah-olah teknologi ini pasti berhasil atau pasti gagal,” ujarnya.

“Yang harus ditanyakan adalah: pada kondisi atmosfer seperti apa efektif, terhadap ukuran partikel seperti apa, di wilayah mana, berapa lama dilakukan, dan berapa besar penurunan konsentrasi partikulat yang terukur.”

Menurutnya, hasil pengukuran harus menjadi dasar untuk memperluas, memperbaiki, atau mengevaluasi penggunaan teknologi tersebut.

“Kalau data menunjukkan ada manfaat, tentu layak dilanjutkan dan diperbaiki. Kalau ternyata efektivitasnya rendah pada kondisi tertentu, pemerintah juga harus terbuka mengevaluasi,” kata Samuel.

“Intinya, jangan menjual harapan teknologi kepada masyarakat. Gunakan teknologi, ukur hasilnya, evaluasi, kemudian perbaiki.”

 

Komentar