Senin, 31 Agustus 2026 | 14:05
COMMUNITY

Anak Maluku Pimpin PMKRI, Gubernur: Berikan yang Terbaik untuk Indonesia

Anak Maluku Pimpin PMKRI, Gubernur: Berikan yang Terbaik untuk Indonesia
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Christian A. D. Rettob lKetua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) periode 2026–2028 (Dok PMKRI)

ASKARA - Terpilihnya Christian A. D. Rettob secara aklamasi sebagai Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) periode 2026–2028 mendapat apresiasi dari Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.

Christian terpilih dalam Kongres ke-XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) ke-XXXIII PMKRI yang berlangsung di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 19–28 Juli 2026. Kepercayaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Maluku karena seorang putra daerah dipercaya memimpin organisasi kemahasiswaan Katolik di tingkat nasional.

Apresiasi itu disampaikan Lewerissa saat menerima Ketua Presidium PP PMKRI dalam pertemuan di kediaman Gubernur Maluku, Sabtu (29/8/2026). Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat, sekaligus menjadi ruang dialog mengenai peran mahasiswa dan organisasi kepemudaan dalam kehidupan kebangsaan.

“PMKRI luar biasa telah memberi kepercayaan kepada anak Maluku untuk memimpin. Proficiat dan selamat mengemban amanah. Berikan yang terbaik dari Maluku untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Lewerissa.

Bagi Lewerissa, kepercayaan yang diberikan kepada putra Maluku tersebut bukan sekadar kebanggaan daerah. Amanah itu juga membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk menunjukkan bahwa anak-anak Maluku memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam percaturan nasional.

Mahasiswa Harus Menjadi Mitra Kritis Pemerintah

Dalam pertemuan tersebut, Lewerissa juga berbicara mengenai posisi mahasiswa dalam mengawal jalannya pemerintahan. Menurutnya, kritik dari mahasiswa merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi dan tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman.

Namun, ia berharap kritik tersebut dibangun melalui dialog, kajian dan argumentasi yang kuat sehingga dapat melahirkan solusi bagi masyarakat.

“Pemerintah membutuhkan mahasiswa untuk menjadi mitra kritis. Pemerintah menghormati setiap kritikan dan berharap sebelum melakukan aksi, perlu ada diskusi untuk solusi bagi setiap persoalan,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat PMKRI sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki tradisi panjang dalam menyuarakan kepentingan masyarakat. Kritik, menurutnya, akan semakin bermakna ketika tidak berhenti pada penolakan, tetapi juga menawarkan jalan keluar.

Ketua Presidium PP PMKRI Delvis Rettob menegaskan mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agent of control dan agent of change. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, mahasiswa telah menjadi bagian penting dalam merespons berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.

“PMKRI akan melanjutkan memberi perhatian terhadap berbagai isu nasional maupun yang terjadi di setiap daerah dan berperan aktif dalam mengontrol setiap kebijakan agar benar-benar bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat,” tegas Delvis.

Dari Maluku untuk Indonesia

Pertemuan dengan Gubernur Maluku juga menjadi bagian dari langkah awal kepengurusan baru PP PMKRI untuk membangun komunikasi dengan berbagai elemen bangsa.

Delvis, yang merupakan lulusan Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Pattimura, membawa pesan bahwa kepemimpinan di organisasi mahasiswa bukan semata-mata tentang posisi, tetapi mengenai kesediaan untuk mendengar, belajar dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Maluku menyatakan kesediaannya menghadiri secara langsung pelantikan PP PMKRI periode 2026–2028 yang direncanakan berlangsung di Margasiswa 1, Menteng, Jakarta Pusat.

Dukungan juga datang dari Ketua Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Seno Ngutra, yang sebelumnya ditemui Delvis pada Kamis (27/8/2026). Dalam pertemuan itu, Mgr. Seno Ngutra menyampaikan harapan agar prosesi pelantikan PP PMKRI periode 2026–2028 dapat berjalan lancar.

Bagi PMKRI, kepemimpinan baru ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil yang kritis sekaligus konstruktif.

Kepercayaan kepada putra Maluku tersebut pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang anak daerah yang dipercaya memimpin organisasi nasional. Lebih dari itu, ada harapan agar kepemimpinan tersebut mampu membawa suara daerah, semangat kebangsaan dan kepedulian kepada masyarakat ke ruang-ruang pengambilan keputusan di tingkat nasional.

Dari Maluku untuk Indonesia, dengan keberanian untuk mengkritik, kerendahan hati untuk mendengar, dan komitmen untuk menghadirkan perubahan.

 

Komentar