Titiek Soeharto Sambut 21 Tokoh Dunia di Tambling, Lampung
ASKARA - Hutan Tambling di ujung selatan Lampung mendadak menjadi ruang perjumpaan antara kekayaan alam Indonesia dan para pemikir dunia. Sebanyak 21 penerima Nobel, Turing Award, ilmuwan, akademisi, serta tokoh internasional mengunjungi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) pada 27–28 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan langsung kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus melihat pengalaman konservasi yang telah berlangsung selama tiga dekade. Para tamu kehormatan diterima Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, yang juga menjadi tuan rumah kegiatan.
Bagi Titiek, Tambling bukan sekadar kawasan konservasi. Dengan pengalaman panjang menjaga hutan dan ekosistemnya, kawasan tersebut dapat berkembang menjadi ruang pertemuan antara alam, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kerja sama internasional.
"Tambling memperkenalkan sesuatu yang sangat penting. Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan," ujar Titiek saat menyambut para tokoh dunia.
Ia bahkan melihat Tambling memiliki potensi untuk menjadi laboratorium hidup, tempat berbagai disiplin ilmu dapat bertemu dengan kekayaan alam Indonesia.
"Hari ini, saya percaya Tambling Wildlife Nature Conservation bisa menjadi sesuatu yang lebih besar. Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional," katanya.
Tiga Dekade Menjaga Alam
TWNC dikelola Artha Graha Peduli sejak 1996 dan menjadi bagian dari program lingkungan melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan sejak 2008. Kawasan ini memiliki bentang alam yang luas, terdiri atas sekitar 48.153 hektare hutan dan 14.089 hektare kawasan laut.
Ekosistemnya mencakup hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar hingga hutan sekunder. Keberagaman tersebut membuat Tambling menjadi salah satu ruang penting untuk melihat bagaimana konservasi dapat berjalan dalam ekosistem alami.
Titiek mengatakan kehadiran para ilmuwan dan tokoh dunia diharapkan tidak berhenti sebagai kunjungan, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat lebih besar bagi Indonesia.
"Kami bukan hanya untuk Tambling, tetapi juga belajar, membantu mengembangkan ide baru, membantu meneliti bagaimana sains dan teknologi dapat memperkuat perlindungan biodiversitas, iklim, resiliensi dan pembangunan yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia pun menyambut kedatangan Presiden Timor Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian 1996, José Ramos-Horta, bersama para penerima Nobel dan tokoh dunia lainnya.
Ramos-Horta: Konservasi Tak Bisa Tanpa Masyarakat
Pengalaman Tambling menarik perhatian Ramos-Horta, terutama mengenai aspek kepemimpinan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi.
Saat menghadiri pelepasan tukik, Ramos-Horta menyebut kepemimpinan dalam pengelolaan kawasan tersebut sebagai salah satu hal yang dapat dipelajari.
"Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun," katanya.
Namun, menurut Ramos-Horta, keberhasilan konservasi tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang hidup di sekitar kawasan.
"Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya. Mereka bukan penonton," ujarnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa menjaga alam bukan hanya pekerjaan pemerintah, perusahaan atau lembaga konservasi. Masyarakat harus menjadi bagian dari proses, karena keberlangsungan kawasan pada akhirnya juga berkaitan dengan kehidupan mereka.
Rumah bagi Harimau Sumatra
Salah satu perhatian utama dalam konservasi di Tambling adalah perlindungan satwa liar, termasuk Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang berstatus Critically Endangered.
Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra di TWNC menangani harimau yang mengalami konflik sebelum menjalani proses pemulihan dan dikembalikan ke habitat alaminya.
Upaya menjaga hutan sekaligus menjadi bagian dari usaha mempertahankan keseimbangan lingkungan. Hutan yang terpelihara berfungsi sebagai habitat satwa, penyimpan karbon, pengatur tata air serta penyangga kehidupan masyarakat.
Karena itu, konservasi juga berkaitan erat dengan upaya mengurangi tekanan terhadap alam, termasuk risiko kebakaran hutan dan lahan serta berbagai bentuk kerusakan ekosistem.
Indonesia Jadi Pembelajaran Dunia
Ramos-Horta menilai pengalaman Indonesia dalam menjaga lingkungan memiliki arti penting bagi dunia. Indonesia, menurutnya, menghadapi tantangan lingkungan yang kompleks, mulai dari kebakaran hutan hingga bencana alam.
"Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia," ujarnya.
Kehadiran para penerima Nobel, ilmuwan dan tokoh internasional di Tambling pun membuka peluang terjadinya pertukaran gagasan mengenai biodiversitas, perubahan iklim, teknologi, ketahanan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, para peserta membawa perspektif masing-masing. Mereka antara lain berasal dari bidang kimia, fisika, kedokteran, ekonomi, ilmu komputer, kriptografi, astrofisika, pertanian, lingkungan hingga perdamaian.
Para Tokoh Dunia di Tambling
Sejumlah tokoh yang hadir dalam kunjungan tersebut antara lain José Ramos-Horta, Frances H. Arnold, Tim Hunt, Benjamin List, Robert C. Merton, Konstantin Novoselov, Frederick Jay Ramsdell, James A. Robinson, Brian Paul Schmidt, David Beasley, Jack Joseph Dongarra, Martin Edward Hellman, Whitfield Diffie, Richard S. Sutton, Torsten Hoefler, Sara Seager, Howard Yana Shapiro, Kailash Satyarthi, Leander Heldring, Peter Badge, dan Gilles Brassard.
Kehadiran mereka membuat Tambling menjadi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman lokal dengan pengetahuan global.
Salah satu peserta, Laura Anne, menilai keunikan Tambling justru terletak pada keasliannya sebagai ekosistem alami.
"Tambling adalah tempat yang sangat unik. Ini bukan kebun binatang atau taman, tetapi ekosistem alami di mana satwa, burung, ikan dan seluruh kehidupan di dalamnya masih berjalan dalam keseimbangan," tuturnya.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah mempertahankan keaslian tersebut agar tidak hilang akibat berbagai tekanan pembangunan.
"Saya percaya setiap negara membutuhkan tempat seperti ini, agar kita menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, karena mengembalikannya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal," katanya.
Kunjungan para tokoh dunia tersebut akhirnya membawa pesan sederhana tetapi mendalam: kekayaan alam Indonesia bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga bagian dari warisan kehidupan yang harus dijaga bersama.
Dari Tambling, pesan konservasi itu kembali menemukan maknanya ketika manusia menjaga alam dengan sungguh-sungguh, alam pada waktunya akan menjaga manusia.
Sebagaimana prinsip yang selalu dipegang pendiri TWNC: “Kita jaga alam, alam jaga kita.”

Komentar