Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:12
COMMUNITY

Rifyan Ridwan Saleh, Kader HMI yang Siap Melanjutkan Pengabdian

Rifyan Ridwan Saleh, Kader HMI yang Siap Melanjutkan Pengabdian
Rifyan Ridwan Saleh, kader HMI yang siap melanjutkan pengabdian (Dok Askara)

ASKARA - Perjalanan sebuah organisasi besar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh kader yang memiliki keberanian untuk melanjutkan pengabdian, menjaga nilai perjuangan, sekaligus membawa organisasi menjawab tantangan zaman.

Semangat itulah yang menjadi bagian dari langkah Rifyan Ridwan Saleh, S.H., M.H., M.I.Kom., yang menyatakan kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).

Saat ini, Rifyan masih dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua PB HMI Bidang Hukum, Pertahanan dan Keamanan. Posisi tersebut menjadi ruang baginya untuk berinteraksi dengan berbagai persoalan kebangsaan sekaligus memahami dinamika organisasi dan aspirasi kader HMI di berbagai daerah.

Bagi Rifyan, kepemimpinan di HMI bukan sekadar persoalan jabatan. Amanah tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang seorang kader untuk memberikan manfaat yang lebih luas. HMI, dengan sejarah panjangnya dalam perjalanan bangsa, membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga tradisi intelektual sekaligus berani membaca perubahan.

Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, tantangan ekonomi, persoalan hukum, serta dinamika demokrasi yang semakin kompleks, HMI dituntut tidak hanya menjadi tempat berhimpun mahasiswa. HMI harus tetap menjadi ruang pembentukan karakter, intelektualitas dan kepemimpinan generasi muda Indonesia.

Dari perspektif tersebut, pencalonan Rifyan dapat dibaca sebagai tawaran kepada kader untuk menentukan arah perjalanan organisasi ke depan. Pengalaman di bidang hukum, pertahanan dan keamanan menjadi salah satu modal yang dapat digunakan untuk memperkuat peran HMI dalam mengawal persoalan kebangsaan.

Namun, lebih dari sekadar latar belakang akademik dan jabatan organisasi, ukuran seorang pemimpin pada akhirnya terletak pada kesediaannya mendengar. Seorang Ketua Umum PB HMI harus mampu hadir di tengah kader, memahami kegelisahan mereka, dan menjembatani perbedaan tanpa kehilangan prinsip.

HMI memiliki kader yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang, karakter dan pengalaman yang beragam. Keragaman tersebut bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dirawat melalui kepemimpinan yang merangkul.

Karena itu, proses pemilihan Ketua Umum PB HMI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang paling populer. Lebih penting dari itu adalah siapa yang memiliki kapasitas, integritas, pengalaman, keberanian dan kemauan untuk bekerja bersama seluruh kader.

Rifyan membawa pesan bahwa HMI harus terus menjadi rumah intelektual dan pengabdian bagi kadernya. Organisasi harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja, memberikan solusi dan hadir ketika bangsa menghadapi persoalan.

Bagi kader HMI, memilih Ketua Umum bukan sekadar memilih seseorang untuk menduduki kursi kepemimpinan. Pilihan tersebut merupakan keputusan tentang arah, karakter dan masa depan organisasi.

Setiap kader memiliki hak untuk menilai, berdiskusi dan menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang diyakininya. Dalam proses demokrasi organisasi, perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh kader tetap menjaga persaudaraan dan nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan yang menjadi ruh HMI.

Jika akhirnya mendapat kepercayaan, tantangan terbesar bagi Rifyan bukanlah memenangkan sebuah kontestasi, melainkan membuktikan bahwa amanah tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Sebab, pada akhirnya, sejarah HMI tidak hanya mencatat siapa yang pernah menjadi Ketua Umum. Sejarah akan mengingat apa yang dilakukan seorang pemimpin setelah menerima amanah dari kader-kadernya.

Dari sanalah kualitas kepemimpinan diuji: bukan pada seberapa tinggi jabatan yang diraih, tetapi seberapa besar manfaat yang diberikan kepada kader, organisasi, umat dan bangsa.

 

Komentar