As'ad Humam, Warisan Iqra dari Yogyakarta
ASKARA - Ada generasi Muslim Indonesia yang mungkin tidak mengenal nama As’ad Humam ketika kecil. Mereka hanya mengenal enam jilid buku Iqra, membacanya halaman demi halaman di masjid, rumah, atau TPA. Bertahun-tahun kemudian, sosok berkacamata di sampul buku itu dikenali sebagai tokoh penting yang membantu mengubah cara belajar membaca Al-Qur’an, dari ruang pengajian Kotagede hingga jaringan pendidikan Islam yang lebih luas kini.
Ada sesuatu yang menarik dari kisah As’ad Humam: kebesarannya justru tumbuh dari kesederhanaan. Ia tidak membangun pengaruh melalui panggung kekuasaan atau kemewahan lembaga, melainkan melalui kegelisahan seorang pendidik melihat anak-anak dan masyarakat membutuhkan cara yang lebih mudah untuk belajar membaca Al-Qur’an. Kompas.com pada 17 Maret 2024 menempatkan As’ad sebagai sosok penting di balik buku Iqro yang dikenal masyarakat Indonesia.
As’ad Humam lahir di Selokraman, Kotagede, Yogyakarta, pada 1933. Ia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dan pernah belajar di Pondok Al-Munawwir Krapyak. Perjalanan hidupnya kemudian mempertemukan pengalaman keagamaan, dunia pengajaran, dan kegigihan mencari cara belajar yang lebih efektif. DetikEdu pada 2 Desember 2021 mencatat latar Selokraman, pengalaman belajarnya di Krapyak, serta perjalanan panjang yang mengantarkannya pada pengembangan metode Iqra.
Kisahnya juga manusiawi. Liputan6.com pada 15 Mei 2020, berdasarkan penuturan putrinya, Erweesbe Maimanati, menggambarkan As’ad sebagai sosok yang tetap kreatif dan mandiri meskipun tubuhnya mengalami keterbatasan. Ia bahkan berusaha menciptakan perangkat kendaraan agar dapat menjalankan aktivitas tanpa banyak merepotkan orang lain. Kisahnya bukan hanya tentang buku, tetapi juga daya juang seorang pendidik.
Kegelisahan As’ad terhadap pembelajaran Al-Qur’an tidak lahir dalam ruang kosong. Ia berhadapan dengan metode-metode yang telah lebih dahulu digunakan masyarakat, termasuk Baghdadiyah dan kemudian Qiraati. Penelitian Al-Mimbar tahun 2024 menjelaskan bahwa Iqra merupakan metode pembelajaran dasar membaca Al-Qur’an yang mengadaptasi sejumlah pendekatan terdahulu, termasuk Baghdadi dan Qiraati. Karena itu, menyebut As’ad sebagai tokoh penting tidak berarti menghapus kontribusi para pendahulu dan rekan seperjuangannya.
Inovasi As’ad menjadi menarik. Ia tidak sekadar mencari metode yang sama sekali baru, tetapi mengamati kekuatan dan kelemahan cara yang telah ada, kemudian menyusunnya kembali menjadi sistem yang lebih sederhana dan bertahap. Penelitian Al-Mimbar yang terbit pada 30 Juni 2024 menyebut Iqra disusun dari tingkat rendah menuju tingkat lebih tinggi dan menilai penyusunan tersebut memberi kontribusi positif terhadap penguasaan membaca Al-Qur’an.
Perjalanan itu juga terkait dengan Team Tadarus AMM Yogyakarta. Di sinilah narasi tentang As’ad perlu ditempatkan secara adil: ia adalah tokoh sentral, tetapi keberhasilan Iqra merupakan hasil dari gagasan, pengalaman mengajar, kerja para pengajar, organisasi pendidikan, dan jaringan masyarakat. Penelitian sejarah UGM tentang As’ad Humam dan perkembangan Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an menunjukkan pentingnya melihat gerakan tersebut sebagai proses sosial dan pendidikan yang lebih luas, bukan semata-mata karya seorang individu.
Kekuatan Iqra terletak pada logika belajarnya. Murid diarahkan untuk berlatih membaca secara langsung, mengikuti tahapan materi, dan mendapatkan bimbingan guru. Enam jilidnya membawa pembelajar dari tingkat dasar menuju bacaan yang lebih kompleks. Model semacam ini memiliki daya tarik pedagogis karena tujuan belajar dibuat konkret dan kemajuan dapat diamati dari satu tahap ke tahap berikutnya. Penelitian akademik tentang Iqra juga menekankan sifatnya yang bertahap dan praktis.
Dari sisi sejarah pendidikan, Iqra menarik karena berhasil bergerak dari ruang lokal menuju jaringan yang lebih luas. DetikEdu mencatat bahwa Taman Pendidikan Al-Qur’an di Selokraman berdiri pada 1989 dan kemudian metode Iqra menyebar dengan cepat. Liputan6.com juga mencatat bahwa metode tersebut dikenal di Nusantara hingga luar negeri. Klaim tentang jangkauan internasional sebaiknya tetap ditulis secara hati-hati; yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa Iqra tidak berhenti sebagai bahan belajar lokal di Yogyakarta.
Penghormatan terhadap As’ad juga memiliki landasan historis. DetikEdu pada 2 Desember 2021 mengutip Menteri Agama Tarmizi Taher yang menyebut As’ad sebagai “pahlawan penyelamat Quran”. Frasa tersebut penting, tetapi secara jurnalistik sebaiknya ditempatkan sebagai kutipan atau julukan, bukan sebagai gelar resmi universal. Dengan cara itu, penghormatan tetap terjaga sekaligus batas antara fakta dan penilaian tidak kabur.
Warisan itu juga mengajarkan pentingnya kerja kolektif. Menempatkan As’ad sebagai satu-satunya pencipta yang bekerja sendirian akan menyederhanakan sejarah. Penelitian Al-Mimbar 2024 menyebut penyusunan Iqra melibatkan gagasan As’ad serta pandangan tenaga pengajar TKA dan AMM. Sementara penelitian sejarah UGM memperlihatkan perkembangan pendidikan Al-Qur’an sebagai gerakan yang melibatkan lebih banyak aktor. Penghargaan paling adil kepada As’ad justru bukan dengan menghapus mereka, melainkan dengan menempatkan jasanya di tengah ekosistem yang ikut membesarkan gagasannya.
Kisah As’ad Humam adalah kisah tentang sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana membuat orang lebih mudah belajar membaca Al-Qur’an? Dari pertanyaan itu lahir proses panjang, kegigihan, perbaikan metode, pembentukan lembaga, dan kerja bersama. Ia wafat pada 2 Februari 1996, tetapi karya pendidikannya terus hidup melalui guru, santri, keluarga, dan lembaga yang menggunakan Iqra. DetikEdu mencatat tanggal wafat tersebut dalam penelusuran biografinya.
Karena itu, As’ad Humam layak dikenang bukan semata karena sebuah julukan, melainkan karena jejak pendidikan yang dapat ditelusuri. Dari Selokraman, Kotagede, sebuah gagasan tumbuh menjadi bagian dari pengalaman belajar banyak Muslim. Itulah makna warisan yang paling kuat: bukan sekadar nama di sampul, tetapi metode yang terus digunakan, guru yang terus mengajarkan, dan generasi yang terus belajar membaca Al-Qur’an.

Komentar