Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:22
NEWS

Sambut Hari Pramuka

IJP Susilo Teguh R: Terpenting dari Kepramukaan adalah Proses Pendidikan Karakter

IJP Susilo Teguh R: Terpenting dari Kepramukaan adalah Proses Pendidikan Karakter
IJP Susilo Teguh R (Dok Askara)

ASKARA - Peringatan Hari Pramuka yang jatuh setiap 14 Agustus tidak semestinya berhenti pada upacara, seragam, perkemahan maupun berbagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut juga dapat menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana nilai-nilai kepramukaan masih hidup dalam karakter generasi muda di tengah perubahan zaman.

Pandangan itu disampaikan Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si, Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Kepolisian, Dosen Kepolisian Utama Kepolisian di STIK-PTIK Lemdiklat Polri, Ketua Ikatan Alumni Sekolah Pascasarjana (SPs) UNNES, sekaligus Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Sadar Seni, Budaya dan Pariwisata, Kamis (13/8) di Jakarta.

Menurut Susilo, keberadaan Gerakan Pramuka secara kelembagaan memang memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Regulasi tersebut menempatkan kepramukaan sebagai bagian dari pendidikan yang bertujuan membentuk pribadi beriman, berakhlak, patriotik, taat hukum, disiplin, memiliki kecakapan hidup serta mampu menjadi kader bangsa.

Namun, menurut dia, keberhasilan Pramuka tidak semata-mata dapat diukur dari banyaknya kegiatan atau jumlah peserta yang mengikuti kegiatan kepramukaan.

“Pramuka bukan tentang seragam. Bukan tentang tepuk Pramuka dan tepuk tangan. Bukan tentang baris-berbaris, tali-temali, atau sekadar berkemah,” demikian inti pandangan Susilo dalam refleksinya menyambut Hari Pramuka.

Ia menilai, substansi terpenting dari kepramukaan adalah proses pendidikan karakter. Karena itu, ukuran keberhasilannya justru terlihat dari karakter yang tumbuh dalam diri anggotanya, seperti kemandirian, kedisiplinan, keberanian bertanggung jawab, gotong-royong, kepedulian, kesederhanaan dan semangat pengabdian.

 *Tantangan Generasi di Era Digital* 

Susilo melihat tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan kondisi ketika Gerakan Pramuka berkembang pada masa lalu. Generasi sekarang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, kecerdasan buatan, arus informasi yang sangat cepat serta perubahan sosial yang dinamis.

Situasi tersebut, menurutnya, menuntut Gerakan Pramuka untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi identitasnya.

Pramuka masa depan, kata dia, tidak cukup hanya menjadi scout in the forest, tetapi juga harus mampu hadir sebagai scout in the digital society.

Dengan demikian, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian dan kerja sama perlu diterjemahkan ke dalam konteks kehidupan generasi muda saat ini.

“Pramuka tidak cukup hanya menjadi memory of the past, tetapi harus menjadi energy for the future,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pembaruan yang juga diusung Kwartir Nasional. Dalam momentum Hari Pramuka ke-65 tahun 2026, Kwarnas menekankan pentingnya Gerakan Pramuka menjadi organisasi yang tangguh, adaptif dan berwawasan lingkungan serta berkontribusi menuju Indonesia Emas 2045.

 *Bukan Sekadar Menjaga Seremoni* 

Menurut Susilo, evaluasi terhadap kehidupan kepramukaan tidak seharusnya diarahkan untuk mencari pihak yang salah. Sebaliknya, refleksi tersebut perlu menjadi perhatian bersama para pembina, pendidik, orang tua, pengelola Gerakan Pramuka, alumni maupun pemangku kebijakan.

Ia mengingatkan, agar semangat mempertahankan tradisi tidak justru membuat nilai pendidikan kepramukaan kehilangan relevansinya.

“Jangan sampai kita sibuk menjaga seragam dan seremoninya, tetapi kehilangan jiwanya. Jangan sampai kita mempertahankan ritualnya, tetapi melupakan nilai pendidikannya,” ungkapnya.

Hari Pramuka, lanjut Susilo, seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali apakah nilai yang selama ini diajarkan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, menurutnya, gelora Pramuka tidak hanya terlihat di lapangan upacara. Semangat itu justru dapat ditemukan ketika seseorang tetap jujur meski memiliki kesempatan untuk berbohong, membantu ketika orang lain memilih tidak peduli, mampu bekerja sama ketika egoisme menguat, serta berani mengabdi tanpa mengharapkan penghargaan.

 *Pramuka dan Pendidikan Kepemimpinan* 

Selain pembentukan karakter, Susilo menilai, kepramukaan memiliki ruang strategis dalam pendidikan kepemimpinan generasi muda.

Hal itu menjadi semakin relevan dalam menghadapi visi Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan sumber daya manusia tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan memimpin, mengambil keputusan, bekerja sama, mengelola perbedaan dan mempertahankan integritas.

Menurut dia, berbagai aktivitas kepramukaan sebenarnya dapat menjadi ruang latihan kepemimpinan. Perkemahan, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan kegiatan di alam terbuka, tetapi dapat menjadi laboratorium untuk melatih pembagian tugas, pengambilan keputusan, penyelesaian persoalan, musyawarah, evaluasi serta empati.

Ketika sebuah kelompok menghadapi persoalan, anggota belajar mengambil keputusan. Ketika muncul perbedaan pendapat, mereka belajar bermusyawarah. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, mereka belajar mengevaluasi dan memperbaikinya.

Sementara ketika sebuah kegiatan berhasil, anggota belajar bahwa keberhasilan merupakan hasil kerja bersama, bukan semata-mata pencapaian individu.

Dari proses tersebut, kepramukaan diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja; bukan sekadar mengejar kekuasaan, tetapi memahami tanggung jawab; serta tidak hanya mencari pengakuan, tetapi mampu memberikan kemanfaatan.

Secara historis, 14 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pramuka karena pada tanggal tersebut pada 1961 Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat dan Panji Gerakan Pramuka dianugerahkan.

Karena itu, bagi Susilo, peringatan Hari Pramuka ke-65 pada 2026 dapat dimaknai bukan hanya sebagai perayaan sejarah, melainkan sebagai kesempatan untuk menyalakan kembali semangat pendidikan dan pengabdian.

“Jika api itu masih ada, mari kita besarkan. Jika mulai redup, mari kita terangkan. Dan jika hampir padam, mari kita gelorakan,” demikian pesannya.

Pada akhirnya, keberadaan Pramuka akan tetap relevan apabila nilai-nilai yang diajarkan mampu menjawab tantangan zaman dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.

"Bangsa yang besar membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter, mandiri, peduli, berani dan bertanggung jawab. Di sanalah, menurut Susilo, api kepramukaan menemukan kembali maknanya sebagai bagian dari proses membangun kader dan calon pemimpin bangsa," pungkas Jenderal Kelahiran Kota Wali Demak ini. 

 

Komentar