Senin, 28 September 2026 | 08:14
NEWS

Pelaut Nasional Dorong Blue Energy EV Power Bank di Flores

Pelaut Nasional Dorong Blue Energy EV Power Bank di Flores
Marianus Wilhelmus Lawe mengusulkan pengembangan Blue Energy EV Power Bank (Dok Askara)

ASKARA – Potensi arus laut di sejumlah selat di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya wilayah Flores, dinilai layak dikaji lebih serius sebagai sumber energi terbarukan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Gagasan tersebut didorong pelaut muda nasional sekaligus Master Marine Engineer, Marianus Wilhelmus Lawe. Ia mengusulkan pengembangan Blue Energy EV Power Bank, konsep yang mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga arus laut, sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS), serta fasilitas pengisian kendaraan listrik.

Menurut Marianus, karakter geografis NTT yang terdiri atas banyak pulau dan memiliki sejumlah selat dengan arus laut kuat merupakan potensi yang tidak seharusnya diabaikan.

“NTT memiliki karakter geografis yang sangat khas karena terdiri dari banyak pulau dan memiliki selat dengan arus laut yang kuat. Potensi ini perlu dikaji secara serius untuk dikembangkan menjadi sumber energi yang dapat mendukung kebutuhan masyarakat, termasuk kendaraan listrik,” ujar Marianus melalui keterangan tertulis dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (27/9).

Ia menjelaskan, konsep Blue Energy EV Power Bank memanfaatkan energi kinetik dari pergerakan air laut. Arus menggerakkan turbin yang kemudian memutar generator untuk menghasilkan listrik.

Energi yang dihasilkan tidak langsung seluruhnya digunakan. Ketika produksi listrik melebihi kebutuhan, energi disimpan dalam baterai. Sebaliknya, ketika produksi turbin menurun atau kebutuhan pengisian meningkat, energi yang tersimpan dapat digunakan.

“Baterai menjadi penyangga antara produksi energi dan kebutuhan pengguna. Dengan sistem seperti ini, kendaraan tidak harus mengonsumsi listrik tepat pada saat turbin sedang menghasilkan energi,” jelas chief engineer senior kelahiran Lamawolo, Ile Ape, Pulau Lembata tersebut.

Selat Flores Jadi Wilayah Kajian

Salah satu kawasan yang menurut Marianus menarik untuk dikaji adalah Selat Gonazalu yang membelah Pulau Flores dan Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Kawasan tersebut berada di wilayah yang dikenal memiliki dinamika arus laut kuat.

Sejumlah penelitian sebelumnya juga telah mengkaji potensi energi arus laut di kawasan Selat Larantuka. Salah satu studi resource assessment yang diterbitkan pada 2015 memperkirakan rapat daya arus rata-rata pada lokasi tertentu dapat mencapai lebih dari 6 kilowatt per meter persegi, dengan estimasi energi yang dapat dieksploitasi sekitar 20 gigawatt-jam per tahun.

Namun, Marianus mengingatkan bahwa angka potensi sumber daya tidak otomatis sama dengan listrik yang dapat diproduksi secara nyata sepanjang tahun.

“Potensi energi harus dibedakan dengan energi yang benar-benar bisa dimanfaatkan. Kita tidak boleh hanya melihat angka kecepatan arus atau rapat daya, tetapi harus menghitung berapa energi yang benar-benar dapat diproduksi sepanjang tahun,” katanya.

Menurut lulusan Manajemen Transportasi Laut Universitas Trisakti, Jakarta, perhitungan harus memperhitungkan efisiensi turbin, generator, konverter, kabel, baterai hingga charger. Siklus pasang surut dan perubahan karakteristik arus juga menjadi faktor penting.

Dalam konsep yang ditawarkannya, listrik dari pembangkit dapat dikirim melalui kabel bawah laut menuju fasilitas penyimpanan di darat sebelum digunakan untuk mengisi kendaraan listrik.

“Untuk wilayah kepulauan, konfigurasi offshore generation onshore power bank menarik untuk dikaji karena pembangkitan bisa ditempatkan di lokasi sumber energi, sedangkan baterai dan fasilitas pengisian berada lebih dekat dengan masyarakat dan pusat aktivitas,” ujarnya.

Marianus menilai infrastrukturnya pun tidak harus terbatas untuk mobil listrik. Sepeda motor listrik, kendaraan operasional, kapal listrik, kapal wisata hingga kebutuhan fasilitas pelabuhan dapat memanfaatkan sistem tersebut.

“Konteks transportasi laut menjadi penting bagi NTT karena konektivitas antarpulau merupakan bagian dari aktivitas masyarakat. Fasilitas tersebut dapat menggabungkan pembangkit arus laut, BESS, pengisian kendaraan listrik, dan pengisian kapal listrik dalam satu kawasan,” katanya.

Konsep itu, lanjut dia, dapat dikembangkan menjadi marine energy hub, yakni pusat energi yang menghubungkan pembangkitan energi terbarukan, penyimpanan energi dan kebutuhan transportasi listrik.

Mulai dari Data, Bukan Sekadar Gagasan

Marianus menegaskan, pengembangan energi arus laut tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan besarnya angka potensi. Setiap teknologi turbin memiliki karakteristik berbeda dalam hal efisiensi, kedalaman pemasangan, kemampuan menghadapi arus dua arah, biaya instalasi, pemeliharaan dan ketahanan terhadap lingkungan laut.

“Turbin tidak bisa dipilih hanya karena memiliki efisiensi maksimum. Kita harus melihat karakteristik arus di lokasi, kedalaman, bathymetry, kondisi dasar laut, gelombang, sedimentasi, hingga akses untuk pemeliharaan,” ungkapnya.

Aspek lingkungan juga menjadi bagian penting. Kajian perlu memperhatikan kemungkinan perubahan hidrodinamika, kebisingan bawah air, interaksi dengan biota, perubahan habitat, sedimentasi, migrasi ikan serta dampak pemasangan kabel bawah laut.

“Energi terbarukan tetap harus dikembangkan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Jangan sampai kita menyelesaikan persoalan energi, tetapi menimbulkan persoalan baru bagi ekosistem laut,” tegas Marianus.

Karena itu, ia mendorong pemerintah memulai dari penelitian dan pengukuran yang memadai. Salah satunya melalui pengukuran arus jangka panjang menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) untuk memperoleh data kecepatan dan arah arus pada berbagai kondisi pasang surut.

“NTT tidak harus langsung membangun dalam skala besar. Yang lebih penting adalah memulai dengan penelitian yang benar, pengukuran yang cukup, dan proyek percontohan yang dapat memberikan data nyata,” kata pelaut yang pernah bekerja di Tanzania dan Australia itu.

Jika hasil penelitian menunjukkan kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungan, Marianus menilai energi arus laut berpeluang menjadi bagian dari sistem energi rendah emisi bagi wilayah kepulauan.

“Bagi NTT, yang perlu kita pikirkan bukan hanya bagaimana membangun turbin di laut, tetapi bagaimana membangun ekosistem energi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kepulauan,” pungkasnya.

Menurut dia, masa depan energi NTT tidak semata-mata soal membangun pembangkit, tetapi bagaimana memanfaatkan karakter alam kepulauan untuk menciptakan sistem energi yang mandiri, berkelanjutan dan mendukung mobilitas masyarakat.

“Jika energi arus laut memang layak secara teknis, ekonomis dan ekologis, maka energi yang selama ini bergerak mengikuti arus laut dapat dimanfaatkan untuk mendukung mobilitas listrik masyarakat,” tutup Marianus.

 

Komentar