Si Bungkuk Bernama Quasimodo
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Ada nama yang sampai hari ini masih membuat kita menunduk: Quasimodo. Si bungkuk dari Notre Dame.
Victor Hugo tidak menciptakan Quasimodo untuk membuat kita kasihan. Dia menciptakan Quasimodo untuk mengingatkan kita: manusia diukur bukan dari kesempurnaannya, tapi dari apa yang ia lakukan saat terluka.
Tubuh yang Dihukum Dunia
Quasimodo lahir cacat. Bungkuk, pincang, buta sebelah, tuli karena hidup di antara lonceng. Sejak bayi ia dibuang. Dibesarkan di menara, dijadikan badut di pesta “Raja Orang Gila”. Dunia memperlakukannya seperti sampah. Orang menertawakan wajahnya, melemparinya, mengurungnya. Penderitaan Quasimodo bukan satu dua kali. Itu seluruh hidupnya. Kalau Hugo berhenti di sini, Quasimodo hanya akan jadi korban. Tapi Hugo tidak berhenti.
Detik Transfigurasi
Ada dua momen yang mengubah si “monster” jadi manusia mulia.
Pertama, di tiang cambuk. Quasimodo dihukum di depan umum. Haus, sakit, dan dihina. Tiba-tiba seorang penari gipsi, Esmeralda, datang memberinya air. Satu gelas air. Untuk Quasimodo, itu mukjizat pertama. Untuk pertama kali ada yang melihatnya sebagai manusia, bukan tontonan. Di detik itu penderitaan tidak sia-sia. Ia melahirkan rasa syukur.
Kedua, di altar Notre Dame. Saat Esmeralda akan digantung Quasimodo menggendongnya lari ke gereja dan berteriak “Suaka!”. Tubuh yang rapuh itu melakukan tindakan paling berani. Si tertolak menjadi pelindung. Hugo bilang lewat ini : cacat tubuh tidak mengecilkan jiwa. Luka justru bisa membesarkannya.
Penderitaan yang Memuliakan
Ini warisan besar Hugo. Dan kemudian diwariskan lagi oleh Romain Rolland lewat Jean-Christophe. Baik Hugo maupun Rolland percaya pada satu hukum yang sama: lewat malam, menuju terang. Penderitaan bukan kutukan. Penderitaan adalah tungku. Di sanalah watak ditempa, cinta diuji, dan kemanusiaan dibuktikan.
Quasimodo tidak pernah meminta dikasihani. Ia hanya memilih. Saat bisa membenci, ia memilih setia. Saat bisa lari, ia memilih melindungi. Saat dunia menolaknya, ia memilih mencintai dunia lewat satu orang.
Pelukan Terakhir di Kuburan
Bertahun-tahun kemudian, di kuburan massal Montfaucon, orang menemukan dua kerangka. Satu kerangka perempuan, masih bersisa gaun putihnya. Di lehernya ada tulang yang patah akibat digantung di tiang gantungan. Itu Esmeralda. Satu kerangka laki-laki memeluknya. Tulang rusuknya melingkar melindungi. Tengkoraknya menunduk di atas tengkorak lainnya. Itu Quasimodo. Ketika orang-orang mencoba memisahkan pelukan itu, kerangka-kerangka itu hancur menjadi debu. Bukan akhir tragis. Itu mahkota. Bukti bahwa cinta yang lahir dari luka bisa menolak dipisahkan bahkan oleh maut.
Kita semua punya “Notre Dame” sendiri. Menara tempat kita dikurung oleh cacat, gagal, dan luka. Quasimodo datang membisik: Jangan malu pada luka. Jangan jual luka untuk meminta kasihan. Pakai luka itu untuk menjadi manusia. Karena pada akhirnya, dunia akan lupa wajah kita yang sempurna. Tapi dunia tidak akan lupa hati kita yang memilih tetap baik saat sakit, dan memilih setia sampai jadi debu. Itulah si bungkuk bernama Quasimodo. Guru paling jujur tentang cara memuliakan penderitaan.

Komentar