Selasa, 21 Juli 2026 | 08:12
NEWS

Kontroversi Piala Dunia 2026

Kontroversi Piala Dunia 2026
Ilustrasi kontroversi Piala Dunia 2026 (Dok Gemini)

Oleh Jaya Suprana

ASKARA - Piala Dunia 2026 resmi memecahkan rekor: 48 tim, 104 pertandingan, dan tiga negara tuan rumah — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini menjadi pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah, sekaligus menghadirkan kontroversi terbesar. Berikut rangkuman isu-isu yang paling ramai diperbincangkan, mulai dari masa persiapan hingga peluit akhir dibunyikan.

1. Isu LogistikJarak, Zona Waktu, dan Ketinggian

Ini adalah pertama kalinya tiga negara menjadi tuan rumah Piala Dunia. Keren, tetapi juga melelahkan.

Banyak tim harus bermain di Toronto pada hari Selasa, lalu terbang ke Mexico City pada hari Jumat. Mereka menghadapi perbedaan tiga zona waktu dan ketinggian hingga 2.200 meter di atas permukaan laut.

Sejak awal, Asosiasi Pemain sudah memprotes jadwal yang padat dan risiko kelelahan. FIFA merespons dengan sistem rotasi grup berbasis wilayah.

Hasilnya, keluhan berkurang pada fase grup. Namun, di fase gugur, perjalanan panjang tetap tidak dapat dihindari. Beberapa pelatih bahkan menyebut turnamen ini sebagai "turnamen daya tahan, bukan hanya teknik."

2. Isu Ekonomi dan Akses Penonton

Dengan jumlah pertandingan terbanyak sepanjang sejarah, harga tiket dan hotel di kota-kota tuan rumah melonjak tajam sejak 2024.

Kelompok suporter di tiga negara sempat menuntut kuota tiket murah bagi warga lokal dengan alasan, "Stadion dibangun memakai uang pajak, masa yang menonton turis semua?"

FIFA bersama kota-kota tuan rumah merespons dengan program transportasi massal dan paket hemat.

Di lapangan, stadion memang penuh. Namun, banyak kursi pada pertandingan fase grup diisi oleh turis dan sponsor, bukan suporter lokal. Hal ini menjadi catatan evaluasi menuju Piala Dunia 2030.

3. Isu Teknis: "Sepak Bola, Bukan Futsal"

Inilah kontroversi yang paling viral di kalangan pemain.

Beberapa stadion NFL yang digunakan sebelumnya memiliki rumput sintetis. Bagi para pemain Eropa dan Amerika Selatan, kondisi ini menjadi persoalan besar.

Alasannya, risiko cedera lutut dan pergelangan kaki lebih tinggi, pantulan bola berbeda, dan "rasanya bukan bermain sepak bola." Bahkan, salah satu kapten tim sempat berkomentar, "Ini Piala Dunia, bukan turnamen futsal."

FIFA akhirnya menutup sebagian besar stadion dengan rumput alami sementara selama turnamen. Biayanya memang mahal, tetapi keputusan tersebut dinilai berhasil menjaga kualitas permainan.

Sebagai tambahan, Piala Dunia 2026 juga menjadi edisi pertama yang menggunakan VAR semiotomatis dan chip pada bola secara penuh. Keputusan wasit menjadi jauh lebih cepat dan akurat. Awalnya banyak pelatih merasa khawatir, tetapi pada akhirnya hampir semua menerima teknologi tersebut karena mampu mengurangi perdebatan offside yang berlarut-larut.

4. Isu Cuaca

Kick-off pada Juni–Juli di beberapa kota di Amerika Serikat berlangsung dalam suhu yang mencapai 35–38 derajat Celsius. Dokter olahraga sempat mengkhawatirkan risiko heatstroke.

Solusinya adalah cooling break wajib, hidrasi ekstra, serta memindahkan banyak pertandingan ke sore atau malam hari.

Strategi ini terbukti efektif. Tidak ada kasus serius, dan intensitas permainan tetap terjaga.

Penutup

Kontroversi adalah hal yang wajar. Artinya, Piala Dunia ini penting dan semua orang peduli. Di balik perdebatan tentang rumput, tiket, dan jadwal, yang tetap kita dapatkan adalah gol, drama, dan cerita baru dari 48 negara.

Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan hanya sebagai edisi terbesar sepanjang sejarah, tetapi juga sebagai turnamen yang memaksa sepak bola beradaptasi dengan geografi, teknologi, dan manusia.

Dan ternyata, ia berhasil.

 

Komentar