Rabu, 15 Juli 2026 | 04:46
OPINI

Perancis Vs Spanyol Nonton VAR Sejarah di Lapangan Hijau

Perancis Vs Spanyol Nonton VAR Sejarah di Lapangan Hijau
Perancis Vs Spanyol (foto.int)

Oleh: Adhie M Massardi - Perumus dan Peramu Peradaban_

ASKARA - Nonton pertarungan Perancis dan Spanyol dini hari nanti seperti menyaksika VAR saat dua raksasa Eropa ini membanjiri Amerika dengan darah. Salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah modern awal, yang membentang dari akhir abad ke-15 hingga abad ke-18.

PIALA DUNIA 2026 ini memang seperti Video Assistant Referee (VAR) di hadapan sejarah. Dan kita menjadi wasit yang melihat rekaman ulang sepakterjang mereka yang brutal, seperti binatang penuh nafsu kekuasaan, menindas dan buas. 

Pada babak penyisihan, misalnya, saat menyaksikan Belanda dan Jepang berlaga(15/6) untuk meraih dua tiket di Grup F, kita seperti sedang melihat kembali konflik mereka sepak terjang mereka di Nusantara. 

Ketika itu persaingan Belanda dan Jepang di Indonesia (Hindia Belanda) adalah kisah tentang benturan dua kekuatan besar di Asia—yang satu mewakili kolonialisme Barat tua yang eksploitatif, dan Jepang mewakili imperialisme baru Timur yang agresif dengan semboyan modernisasi.

Hubungan ini bergerak dari persaingan dagang yang terselubung, spionase, hingga akhirnya meletus menjadi konfrontasi militer terbuka yang mengubah jalannya sejarah Indonesia.

Persaingan Ekonomi dan "Perang Dingin" Dagang
Pada awal abad ke-20, Jepang mengalami industrialisasi yang luar biasa pesat (Restorasi Meiji). 

Mereka membutuhkan dua hal: pasar untuk menjual barang-barang hasil pabrik mereka, dan sumber daya alam (terutama minyak bumi, karet, dan besi) untuk memberi makan mesin industri dan militer mereka. 

Hindia Belanda memiliki keduanya.
Perang Intelijen dan Toko Jepang
Bersamaan dengan ekspansi dagang, muncul jaringan Toko Jepang hingga ke pelosok-pelosok desa di Jawa dan Sumatra. Banyak dari pemilik toko, fotografer, atau pengusaha perikanan Jepang ini belakangan diketahui merupakan agen intelijen (spionase) yang memetakan topografi, pelabuhan, dan kekuatan militer Belanda.

Hanya dalam hitungan pekan, setelah pasukan Jepang mendarat di Jawa (Banten, Eretan Wetan, dan Kragan) dan bergerak cepat ke jantung pertahanan Belanda, Panglima Tentara Hindia Belanda, Jenderal Ter Poorten menyerah tanpa syarat kepada Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati, Subang, 8 Maret 1942.

Tapi dalam persaingan dalam sepakbola modern di Piala Dunia 2026, kekuatan mereka seimbang sehingga berakhir dengan sama-sama happy: 2-2. 
Dan bangsa Indonesia? Bangsa Indonesia tetap setia menyaksikan kejadian itu dengan tatapan: melongo.

Portugal vs Spanyol (Ternate vs Tidore)
Lebih menarik lagi saat nonton laga Portugal vs Spanyol di babak knockout (7/7) di Stadion Dallas, AS. Kita seperti melihat putaran ulang yang diperlambat bagaimana penguasa lokal (Tidore) mengundang armada asing Spanyol (1521) untuk memerangi Ternate yang sejak 1512 besekutu dengan Portugal.

Dua raksasa penjelajah dari Eropa ini akhirnya tabrakan di kawasan penghasil rempah—yang mereka butuhkan.
Perselisihan hak dagang akibat kedatangan Spanyol akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa pada 1529, yang menetapkan Spanyol harus meninggalkan Maluku dan berpindah ke Filipina, sementara Portugal tetap memegang hak atas Maluku dengan kompensasi: Portugal "membayar" hak eksklusif atas wilayah kaya rempah-rempah itu sebesar 350.000 dukat emas kepada Spanyol yang kemudian pergi ke Filipina.

Tapi persaingan antara Portugal dan Spanyol di Maluku bukan sekadar pertarungan dua bangsa Eropa, melainkan sebuah contoh klasik "perang proksi" di Nusantara yang memanfaatkan rivalitas lokal yang sudah ada sebelumnya.

Ternate dan Tidore sudah lama bersaing memperebutkan hegemoni perdagangan rempah-rempah di Maluku. Ketika bangsa Eropa tiba, para Sultan dari kedua kesultanan ini melihat kehadiran orang asing sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi mereka masing-masing.

Akan tetapi di abad digital, di dunia sepakbola modern, persaingan Portugal dan Spanyoll berakhir terbalik. Portugal yang dipaksa pulang kampung dengan satu sepakan Mikel Merino (skuad Arsenal) ke gawang yang dijaga Diego Costa, di injury time.
Dan bangsa Indonesia? Bangsa Indonesia tetap setia menyaksikan kejadian itu dengan tatapan: melongo.

Perancis vs Spanyol = Sejarah Kebrutalan Imperialisme
Persaingan Perancis dan Spanyol memang tak ada kaitan emosional langsung dengan kita. Tapi tidak bagi bangsa Amerika. Maka ketika mereka menyaksikan laga semi-final di Stadion Dallas itu, Perancis yang dibekali dua gelar juara dan Spanyol satu gelar, yang akan tampak di layar VAR adalah ini:
Ladang Pembantaian di Benteng Caroline
Ketika itu Spanyol mengeklaim seluruh wilayah Florida berdasarkan penjelajahan awal mereka, namun pada tahun 1564, sekelompok kaum Huguenot (Protestan Perancis) membangun Benteng Caroline dekat Jacksonville modern. 

Bagi Spanyol, ini adalah ancaman ganda: Perancis tidak hanya merambah wilayah mereka, tetapi juga membawa "bidah" Protestan yang menantang hegemoni Katolik Spanyol, sekaligus mengancam armada perak Spanyol yang berlayar pulang lewat Selat Florida.

Raja Spanyol, Philip II, langsung mengirim laksamana kejamnya, Pedro Menéndez de Avilés, untuk menyelesaikan masalah ini secara radikal. Pasukan Spanyol mendirikan pemukiman St. Augustine (kota tertua di AS yang dihuni terus-menerus hingga kini) sebagai pangkalan, lalu melancarkan serangan dadakan ke Benteng Caroline di tengah badai tropis.
Pasukan Spanyol membantai hampir seluruh garnisun Perancis. Mereka yang selamat dari pertempuran dieksekusi mati di sebuah pantai yang hingga kini dinamai Matanzas (berarti "pembantaian" dalam bahasa Spanyol). Peristiwa brutal ini secara efektif mengubur ambisi awal Perancis untuk menguasai Florida.

Persaingan yang Mengubah Sejarah
Persaingan antara Prancis dan Spanyol merupakan salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah modern awal, yang membentang dari akhir abad ke-15 hingga abad ke-18. 

Rivalitas ini berakar pada perebutan hegemoni atas wilayah-wilayah kaya di Eropa, dengan Italia sebagai medan pertempuran utama yang melahirkan inovasi militer radikal seperti formasi Tercio Spanyol. 

Puncak persaingan di benua Eropa ini ditandai oleh peristiwa dramatis seperti penawanan Raja Prancis Francis I pada abad ke-16, hingga meletusnya “Perang Suksesi Spanyol” pada awal abad ke-18 yang melibatkan seluruh kekuatan besar Eropa demi mencegah bersatunya kedua imperium raksasa tersebut di bawah satu mahkota.

Di luar Eropa, persaingan kedua kekuatan Katolik ini melebar ke Dunia Baru, memicu benturan berdarah demi mengamankan jalur perdagangan komoditas bernilai tinggi di Amerika Utara dan Karibia. 

Ekspansi Prancis ke Florida pada pertengahan abad ke-16 dijawab secara brutal oleh Spanyol melalui Pembantaian Benteng Caroline guna mengamankan armada perak mereka. Sementara itu, di Kepulauan Karibia, penetrasi bajak laut Perancis membuahkan hasil melalui pembelahan geopolitik Pulau Hispaniola dalam Perjanjian Ryswick 1697, yang melahirkan koloni Saint-Domingue (Haiti) di bawah kendali Perancis dan meninggalkan sisi timur bagi Spanyol.
Secara keseluruhan, rivalitas Prancis-Spanyol merupakan dinamika benturan kekuasaan yang tidak hanya membentuk ulang peta politik dan militer di daratan Eropa, tetapi juga memicu komersialisasi kolonialisme yang agresif di benua Amerika. Konflik berkepanjangan ini pada akhirnya memaksa kedua belah pihak menguras sumber daya mereka, yang secara tidak langsung membuka celah bagi bangkitnya kekuatan maritim baru seperti Inggris dan Belanda sebagai penguasa global berikutnya.

Perancis dan Spanyol dalam Realitas
Lalu bagaimana jalannya persaingan mereka di sepakbola?
Persaingan antara Perancis dan Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026 dini hari nanti tentu akan menjadi salah satu laga paling sengit dalam sejarah sepak bola modern. 

Laga ini mempertemukan dua raksasa Eropa dengan filosofi permainan yang sangat kontras namun sama-sama mematikan.
Perancis (Ledakan Lini Serang & Transisi Cepat): Les Bleus asuhan Didier Deschamps tetap mengandalkan serangan balik kilat dan efisiensi di depan gawang. Dengan Kylian Mbappé yang sedang on-fire (memimpin dengan 8 gol di turnamen ini), Perancis memiliki keunggulan mutlak dalam hal kecepatan dan kemampuan individu yang bisa memecah kebuntuan dalam sekejap.

Spanyol (Dominasi Kontrol & Kolektivitas): Sebagai juara bertahan Euro, La Roja tetap setia pada identitas penguasaan bola mereka. Dimotori oleh Rodri di lini tengah serta kreativitas Dani Olmo dan Lamine Yamal, Spanyol akan mencoba mendikte tempo pertandingan dan meredam agresivitas Prancis lewat operan-operan pendek yang presisi.
Kedua tim tidak hanya andal dalam menyerang, tetapi juga memiliki lini belakang yang sangat disiplin di edisi Piala Dunia ini:
Pertandingan ini kemungkinan besar akan berjalan seperti catur. Spanyol akan mengambil inisiatif menguasai bola sejak menit awal, sementara Prancis akan cenderung menunggu di area pertahanan mereka sendiri sebelum melepaskan umpan terobosan mematikan ke arah Mbappé atau Ousmane Dembélé.

Siapa pun yang mencetak gol lebih dulu akan memiliki keuntungan psikologis yang sangat besar untuk mengamankan tiket ke babak final di New York/New Jersey pada 19 Juli mendatang.

Penutup: Kepolisian vs Kejaksaan
Dan bagaimana bangsa Indonesia menyaksikan semua laga di Piala Dunia 2026?

Bangsa Indonesia tetap setia menyaksikan semua kejadian itu dengan tatapan: melongo. Sama dibuat melongonya saat menyaksikan pertarungan Kepolisian vs Kejaksaan. 

Semula dibayangkan akan berlangsung seru. Serangan bolak-balik antar-mereka akan melahirkan sejumlah gol skandal korupsi triliunan rupiah. Tapi sebagiaman juga yang sudah dibayangkan, pertarungan itu berkesudahan…parah! (Agt)

Komentar