Kosmologi Lubang Hitam
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Dalam astrofisika teoretis mutakhir muncul hipotesis bahwa alam semesta kita adalah interior dari sebuah lubang hitam yang berada di alam semesta induk. Model ini, sering disebut Kosmologi Lubang Hitam yang dikembangkan Lee Smolin dari gagasan Stephen Hawking beserta variannya oleh fisikawan seperti Nikodem Popławski. Premisnya: singularitas di pusat lubang hitam tidak runtuh menjadi ketakterhinggaan. Efek kuantum-gravitasi menyebabkan "big bounce"—pantulan yang memicu ekspansi ruang-waktu baru di sisi lain horizon peristiwa. Setiap lubang hitam menjadi gerbang pembentukan bayi alam semesta dengan konstanta fisika yang sedikit berbeda. Akibatnya terbentuk multiverse hierarkis. Alam semesta yang menghasilkan banyak bintang masif akan menghasilkan banyak lubang hitam, sehingga “bereproduksi” lebih banyak. Ini adalah seleksi alam kosmologis di mana alam semesta dengan fisika yang kondusif bagi pembentukan lubang hitam akan mendominasi populasi multiverse.
Implikasinya radikal. Kita tidak memerlukan singularitas awal mutlak. Horizon peristiwa memisahkan kita dari alam semesta induk secara kausal, sehingga informasi luar tidak bisa masuk. Alam semesta kita menjadi sistem tertutup yang tampak datar, homogen, dan mematuhi hukum fisika lokal.
Bayangkan alam semesta sebagai pohon mangga. Setiap kali ada lubang hitam lahir, dia menanam biji alam semesta baru di dalamnya. Biji itu meledak jadi big bang mini, tumbuh mejadi alam semesta bayi yang lengkap dengan galaksi, bintang, dan mungkin Anda yang sedang membaca naskah ini.
Alam semesta kita sendiri bisa jadi satu di antara “buah” di pohon itu. Kita hidup di dalam lubang hitam raksasa dari alam semesta induk. Tapi kita tidak merasa panik terjebak di dalam ruang alias klaustrofobia, karena ruang-waktu di dalam lubang hitam bisa tetap datar dan normal. Cahaya, waktu, dan gravitasi jalan seperti biasa.
Yang gila adalah apabila hipotesis ini benar, berarti multiverse tidak lahir dari gelembung inflasi abstrak. Dia lahir dari mesin-mesin reproduksi yang kita sebut lubang hitam. Alam semesta yang “jago” bikin bintang dan lubang hitam adalah ayam betina yang akan punya banyak “piyik”. Jadi langit malam yang kita lihat itu cuma satu kamar di hotel kosmik yang punya kamar tak terhingga. Kita tidak bisa menengok ke kamar lain karena pintunya—horizon peristiwa—cuma bisa dilalui satu arah.
Hipotesis ini belum terbukti. Sulit diuji karena kita terjebak di dalam. Tapi ia menyatukan tiga misteri besar: asal-usul big bang, sifat lubang hitam, dan kenapa hukum fisika kita tampak “pas” untuk kehidupan.
Kalau benar, maka setiap kali bintang runtuh jadi lubang hitam, di situlah alam semesta baru mungkin lahir. Kita bukan pusat segalanya. Kita cuma satu keturunan dari rantai kosmik yang tak terhingga. Seperti dahulu Galileo Galilei pernah sesumbar paham heliosentris. Bukan planet bumi dikitari tetapi mengitari matahari yang sempat membuat para penguasa gereja geram ! Menurut tokoh olmuwan Kosmologi Indonesia, DR Karlina Supelli, manusia baru tahu belum 5 persen dari seluruh misteri yang menyelubungi alam semesta nan mahaluas dan mahakomopleks ini dan itu.

Komentar