Piramida Kemanusiaan
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Mahasosiolog Peter L. Berger mengajar kita cara "tahu" lewat lelucon pahit dan luka nyata. Manusia itu epistemologinya analog bikin kopi susu:
1.Air = data mentah. Dari berita, TikTok, bisik tetangga. Keruh tidak apa.
2.Kopi = teori. Makin pekat, makin keras kepala. "Gue paling bener".
3.Susu = keraguan. Tidak enak, tapi tanpa susu kopinya tidak bisa diminum.
Kesimpulannya: "Yang mengaku paling objektif, biasanya lupa kasih susu". Makanya debat medsos ribut. Semua ngaku kopinya murni, padahal airnya dari comberan.
Ada juga "Hukum Sniper": Kamu tidak akan paham arah peluru... sampai kamu berdiri di atap gubuk sendiri. Teori tanpa pengalaman = omong Di balik lelucon, Peter L. Berger serius. Dan dia tidak pakai Piramida Maslow. Dia bikin Piramida Kemanusiaan, tapi fondasinya dibalik:
Kemanusiaan tidak mulai dari "saya kenyang dulu". Tapi dari "sini sakitnya di mana?". Hakim tahu hukum dari buku KUHP. Warga tahu keadilan dari buldoser jam 4 pagi. Kalau luka diabaikan, semua lantai di atasnya roboh. Negara mulai dari proyek, Berger mulai dari gubuk.
Kita manusia karena ada "kita". "Aku tahu banjir" beda dengan "Kami tahu banjir". Warga Bukit Duri tahu lewat bunga, sujud, dan gudang penampungan pasca penggusuran. Pengetahuan kolektif > pengetahuan individual. Sniper di atas atap tidak akan mengerti gubuk kalau tidak pernah tidur di dalamnya. Puncaknya bukan aktualisasi diri, tapi martabat. Manusia seharusnya diperlakukan sebagai subjek pembangunan, bukan objek penggusuran atas nama pembangunan . Martabat tidak bisa dikasih, tapi tidak boleh dirampas.
Tahu = tanggung jawab. Kalau sudah tahu warga tergusur lalu diam, berarti "buta" itu pilihan moral. Berger menyebut ini "kebutaan yang disengaja". Ilmu tanpa keberpihakan ke yang lemah = ilmu lumpuh.
Humor Berger melucuti kesombongan orang pintar.
Seriusnya mengingatkan bahwa pengetahuan sejati itu kotor, sakit, memihak, dan berujung martabat.
Jadi kalau ditanya "kamu tahu dari mana?", jawab Peter L Berger: "Dari kopi yang dikasih susu, dari luka yang saya akuin, dan dari atap gubuk yang pernah saya pijak". Sayang saya tidak sepaham dengan Peter Elbeger akibat saya tidak suka minum kopi sembari alergi susu sapi.

Komentar